Penerima LPDP Dorong Sosialisasi Beasiswa untuk Anak Papua Diperluas hingga Program Pascastudi - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Yunasila-Silviane-Yobee.jpg)
Ringkasan Berita:
- Penerima beasiswa LPDP Yunasila Silviane Yobee mendorong pemerintah pusat dan daerah memperluas sosialisasi beasiswa bagi anak-anak Papua agar semakin banyak yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan.
- Yunasila menyoroti keberlanjutan nasib penerima beasiswa Otsus setelah lulus.
- Tidak semua lulusan dapat menjadi ASN, sementara sebagian menghadapi kendala biaya untuk menerapkan ilmu atau memulai usaha.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Yunasila Silviane Yobee, mendorong pemerintah terus memperluas sosialisasi mengenai fasilitas beasiswa pendidikan bagi anak-anak Papua.
Menurut Yunasila, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak anak muda Papua yang memperoleh beasiswa dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melalui dana otonomi khusus (Otsus) bidang pendidikan.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan tren positif karena informasi mengenai kesempatan memperoleh beasiswa semakin terbuka bagi anak-anak Papua yang ingin melanjutkan pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.
"Saya apresiasi ya karena makin banyak orang asli Papua yang mendapat kesempatan melanjutkan studi dengan beasiswa dari pemerintah," kata Yunasila di Jakarta, dikutip Rabu (14/10/2026).
Yunasila merupakan perempuan asal Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
Dia menjadi penerima beasiswa LPDP afirmasi orang Papua dan baru saja menyelesaikan pendidikan Strata 2 di Boston University, Amerika Serikat.
Saat ini, Yunasila mengabdi sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Dalam Negeri.
Menurut dia, sektor pendidikan harus menjadi perhatian khusus pemerintah pusat maupun pemerintah daerah di Papua.
Sebab, masih banyak anak Papua yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi, tetapi terkendala biaya.
Sejumlah pemerintah daerah, kata dia, telah memiliki inisiatif untuk menggratiskan pendidikan tingkat sekolah dasar dan menengah.
Di Papua Tengah, selain pemberian beasiswa, terdapat pula program bagi anak-anak Papua untuk belajar bahasa Inggris di Bali.
"Ini kita apresiasi tapi saya berharap keterbukaan informasi tentang fasilitas beasiswa pendidikan untuk anak-anak Papua terus disosialisasikan secara masif supaya jumlah penerima manfaat makin banyak," ungkapnya.
Selain keterbukaan informasi, Yunasila menyoroti keberlanjutan program bagi anak muda Papua setelah menyelesaikan pendidikan melalui beasiswa, khususnya penerima beasiswa yang bersumber dari dana Otsus Papua bidang pendidikan.
Menurutnya, tidak sedikit penerima beasiswa Otsus menghadapi dilema setelah menyelesaikan pendidikan di dalam maupun luar negeri.
Terlebih, tidak seluruh lulusan penerima beasiswa dapat ditampung menjadi ASN.
"Di satu sisi sudah mendapat kesempatan sekolah tinggi tetapi saat kembali ke Papua, mereka mengalami kesulitan mengaplikasikan ilmu karena terkendala biaya untuk usaha," ujarnya.
Para lulusan penerima beasiswa Otsus, lanjut Yunasila, juga menghadapi tuntutan dari keluarga maupun lingkungan masyarakat setelah memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan hingga ke luar daerah atau luar negeri dengan fasilitas dana Otsus.
Karena itu, ia mengusulkan pemerintah daerah menyiapkan program lanjutan bagi para penerima beasiswa setelah mereka menyelesaikan pendidikan.
"Karena itu, saya mengusulkan agar pemerintah daerah juga mulai memikirkan tentang program keberlanjutan dari anak-anak Papua yang sudah menyelesaikan studi pendidikan tinggi baik di dalam dan di luar negeri setidaknya memfasilitasi mereka untuk mulai mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh lewat suntikan modal usaha," ungkap Yunasila.
Dia optimistis pelaksanaan Otsus Papua dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda Papua.
Namun, pemerintah daerah dinilai perlu terus menyosialisasikan berbagai fasilitas beasiswa yang diperuntukkan bagi orang asli Papua sekaligus menyiapkan program setelah mereka menyelesaikan studi.
"Tapi ya itu tadi. Perlu dipikirkan juga program keberlanjutan pasca studi," ucapnya.
Yunasila juga mengingatkan agar dukungan pendidikan bagi anak Papua tidak hanya berfokus pada pendidikan formal.
Baca juga: Kemenag dan LPDP Buka Bantuan Penyelesaian Studi S2-S3, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Menurutnya, pendidikan informal juga perlu diperluas, termasuk memberikan kesempatan kepada anak-anak Papua mengikuti berbagai program pendidikan di luar daerah maupun luar negeri.