Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kasus Pemalang Perundungan Spesial

    Polisi Periksa 6 Saksi Dugaan Perundungan yang Tewaskan Siswa SD di Pemalang, Tunggu Hasil Autopsi - Tribunnews

    7 min read

     


    UNSPLASH/STEPHEN ANDREWS A-A+ ILUSTRASI PASIEN - Polisi memeriksa enam saksi kasus dugaan perundungan yang menewaskan siswa Kelas 2 SDN 01 Kebondalem Pemalang. Korban sempat dirawat di rumah sakit selama sembilan hari. 
    Ringkasan Berita:
    • Polisi memeriksa enam saksi terkait dugaan perundungan yang menewaskan siswa SDN 01 Kebondalem Pemalang.
    • Polisi juga menunggu hasil autopsi korban yang dilakukan Polda Jateng.
    • Sebelu meninggal, korban mengaku dirundung tiga kakak kelasnya.

    TRIBUNBANYUMAS.COM, PEMALANG - Polisi memeriksa enam saksi dalam kasus dugaan perundungan atau bullying yang menewaskan siswa kelas 2 SD di Kecamatan/Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

    Enam saksi tersebut adalah orangtua korban, teman sekolah, juga guru sekolah korban.

    Korban berinisial MHAQ (7), merupakan siswa SDN 01 Kebondalem Pemalang.

    Korban diduga menjadi korban perundungan tiga kakak kelasnya.

    "Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan," ujar Kasat Reskrim AKP M Faizal Wildan Umar Rela, Jumat (2/10/2026). 

    Baca juga: Kakak Kelas Jadi Tersangka Kasus Perundungan yang Menewaskan Siswa SMP di Randudongkal Pemalang

    Wildan mengatakan, polisi masih menunggu hasil autopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban.

    Autopsi dilakukan Biddokkes Polda Jateng.

    Pemkab Turun Tangan

    Kasus perundungan ini juga mendapat perhatian dari Pemkab Pemalang.

    Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pemalang Nurkholes menegaskan, tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan di sekolah.

    "Saya berharap ini kejadian yang terakhir, tidak ada lagi."

    "Kami akan akan kumpulkan seluruh Dinas Pendidikan termasuk jajaran pendidikan, kami akan mencari formula yang tepat untuk tindakan preventif agar tidak terulang," katanya.

    Sempat Dirawat di Rumah Sakit

    Kasus perundungan siswa Kelas 2 SD ini terbongkar setelah diunggah di media sosial

    MHAQ meninggal pada Rabu (30/9/2026), saat akan dibawa ke rumah sakit untuk kedua kalinya.

    Sebelumnya, korban sempat dirawat di rumah sakit selama sembilan hari atas keluhan sakit perut.

    Namun, belakangan diketahui, sakit yang dialami korban terjadi setelah dirundung tiga kakak kelasnya.

    Diah Indriyanti (36), ibu korban mengungkapkan, putranya dirawat di RSUD dr M Ashari Pemalang sejak Kamis (17/9/2026).

    Awalnya, korban tak menceritakan peristiwa perundungan yang dialami.

    Pengakuan perundungan baru terungkap setelah beberapa hari di rumah sakit dan menjalani pemeriksaan dokter.

    "Dia menjawab itu setelah diperiksa sama dokter, katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu," kata Diah kepada wartawan. 

    Baca juga: Anggota DPRD Pemalang Dilaporkan ke Polisi, Cek Pembelian Beras Rp577 Juta Tak Bisa Dicairkan

    Diah menjelaskan, selama sembilan hari dirawat di rumah sakit, putranya terus-menerus mengeluhkan sakit luar biasa pada bagian perut. 

    Kondisi kesehatan korban juga memburuk dengan gejala muntah-muntah, buang air besar berdarah, kehilangan nafsu makan, hingga kesulitan buang air besar. 

    "Selama sembilan hari yang sering dikeluhkan itu perut, sama seluruh badan kalau diangkat itu nangis," tutur Diah. 

    Setelah menjalani perawatan intensif selama sembilan hari, MHAQ sempat diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik. 

    Namun, beberapa hari berada di rumah, kondisi korban kembali memburuk dan ia kembali mengeluhkan sakit di bagian perut. 

    Saat hendak dibawa kembali ke rumah sakit, korban berpulang.

    Pelaku Tiga Kakak Kelas

    Ayah korban, Nurwandi (43) menyampaikan rasa kecewa terhadap pihak sekolah yang dinilai terkesan menutup-nutupi dugaan perundungan yang menimpa putranya. 

    Pihak keluarga merasa belum mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai kejadian sebenarnya. 

    Baca juga: Terkuak Sosok Ambar di Kasus OTT Bupati Pemalang: KPK Sita Mobil Listrik dan Dalami Aliran Uang

    Nurwandi menceritakan, sebelum meninggal dunia, MHAQ sempat menunjukkan foto anak-anak yang diduga melakukan penganiayaan terhadap dirinya. 

    "Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, dilihatin foto terus dia nunjuk"

    "Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6," ujar Nurwandi. 

    Nurwandi berharap, polisi dapat mengusut tuntas kasus ini hingga terang benderang serta memastikan penyebab pasti kematian sang anak. 

    "Kami berharap, semuanya bisa diusut sampai jelas," tegasnya. (Kompas.com)

    Artikel ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul "Sebelum Meninggal, Siswa SD di Pemalang Mengaku Dipukul dan Ditendang di Perut oleh Kakak Kelas".

    Komentar
    Additional JS