Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita BSU Featured Keuangan Spesial Yogyakarta

    Respons Pekerja DIY soal BSU Rp 900.000: Membantu Kebutuhan, tetapi Lapangan Kerja Dibutuhkan - Kompas

    6 min read

     

    YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pemerintah memberikan Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp 900.000 kepada 13,3 juta pekerja mendapat respons beragam dari masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

    BSU tersebut direncanakan diberikan untuk tiga bulan, yakni Oktober, November, dan Desember 2026. 

    Penyaluran dilakukan sekaligus dengan total Rp 900.000 atau setara Rp 300.000 per bulan.

    Sebagian pekerja menilai bantuan tersebut tetap bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah meningkatnya biaya hidup. 

    BSU 2026 Cair Rp 900.000, Ini Link untuk Cek Status Penerimanya

    Namun, ada pula yang menilai pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan perluasan lapangan kerja.

    Baca juga: Rp 1,1 Miliar BSU di Karawang Tak Terserap, Dikembalikan ke Negara

    BSU Dinilai Tetap Membantu

    Salah satu pekerja di DIY, Tara, menilai BSU tetap bermanfaat meski nominal yang diterima hanya Rp 300.000 per bulan.

    Menurut dia, bantuan sebesar Rp 900.000 yang diberikan untuk tiga bulan dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

    "Ya lumayan kalau ada bantuan Rp 900.000 untuk tiga bulan. Ya tetap bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari. Daripada digunakan untuk program-program nggak jelas, mending kayak gini. Tapi ya kriteria dan penerima harus jelas, jangan cuma jadi proyek korupsi," ujarnya, dikutip dari Tribun Jogja, Minggu (4/10/2026).

    Hal senada disampaikan Ari. Menurut dia, BSU akan sangat membantu pekerja dengan penghasilan di bawah Rp 3 juta.

    Ia menilai bantuan tersebut dapat menjadi tambahan penghasilan di tengah meningkatnya kebutuhan pokok dan biaya hidup.

    "Sangat bermanfaat, bisa untuk tambahan, apalagi sekarang kebutuhan pokok semakin tinggi, biaya hidup semakin banyak, tapi gaji ya segitu-segitu aja. Kalau ada BSU kan ya lumayan, bisa sedikit bernapas. Pengennya ya dapat terus," sambungnya.

    Baca juga: 35 Anggota DPRD Purwakarta Masuk Daftar Penerima BSU, Kok Bisa?

    Ada Pekerja yang Lebih Memilih Lapangan Kerja

    Di sisi lain, sejumlah pekerja menilai pemerintah sebaiknya tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, tetapi juga memperluas akses lapangan pekerjaan.

    Widya, salah satu karyawan swasta di DIY, mengatakan BSU memang dibutuhkan pekerja. 

    Namun, menurut dia, penerima BSU merupakan pekerja yang sudah memiliki penghasilan.

    Ia pun menilai anggaran untuk program tersebut sebaiknya juga diikuti kebijakan yang menyasar masyarakat yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengangguran.

    "Kalau menurut saya, daripada BSU, lebih baik pemerintah fokus memperluas akses lapangan pekerjaan. Kalau BSU itu kan penerima jelas pekerja yang sudah mendapatkan gaji setiap bulan. Ya meskipun gajinya beragam ya, tetapi paling tidak bisa untuk pegangan," ujarnya, Minggu (4/10/2026).

    "Lalu bagaimana dengan pekerja yang di-PHK dan pengangguran? Melihat kondisi sekarang, menurut saya sebaiknya pemerintah memperluas akses lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan itu sangat dibutuhkan masyarakat," imbuhnya.

    Pendapat serupa disampaikan Jati. Ia menilai perluasan lapangan pekerjaan dapat memberikan manfaat yang lebih panjang dibandingkan bantuan yang sifatnya sementara.

    "Lebih ke lapangan pekerjaan. Kalau BSU itu kan biasanya hanya jangka pendek, paling menjaga daya beli sementara. Dampaknya tidak berkelanjutan di masyarakat. Lapangan pekerjaan kan juga sesuai janji pemerintah juga, termasuk upah layak karena harga kebutuhan semakin tinggi," ungkapnya.

    Baca juga: Gibran di Riau: BSU Jangan Sampai Dipotong

    Soroti Upah dan Kepastian Penghasilan

    Sementara itu, pekerja serabutan di Kota Yogyakarta, Prasetya, menilai persoalan yang dihadapi masyarakat bawah bukan hanya kebutuhan bantuan tunai, tetapi juga sulitnya memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang pasti.

    Menurut dia, BSU memang dapat membantu memenuhi kebutuhan dalam waktu singkat. 

    Namun, manfaat tersebut dinilai tidak bertahan lama.

    "Kalau cuma bagi-bagi BLT atau BSU begini terus, terkesan cuma buat meredam gejolak sebentar. Istilahnya seperti memberikan obat sakit kepala untuk orang yang sebenarnya butuh operasi," ucapnya.

    Prasetya mengatakan dana bantuan dapat digunakan untuk kebutuhan pokok dan tempat tinggal. 

    Namun, menurut dia, persoalan mendasarnya adalah akses terhadap pekerjaan yang memberikan pendapatan tetap.

    "Akar masalah kami yang di bawah ini kan minimnya akses lapangan kerja yang jelas. Di Yogyakarta ini cari kerjaan yang penghasilannya pasti itu susah setengah mati. Padahal banyak rakyat kecil yang mau kerja keras, asal ada wadah dan kesempatan," paparnya.

    Sementara itu, Farhan, pekerja swasta di Kota Yogyakarta, mengaku akan bersyukur jika BSU benar-benar direalisasikan.

    Menurut dia, Rp 900.000 dapat membantu menutup kebutuhan mendesak, seperti kebutuhan pokok dan tagihan. Namun, ia juga menilai bantuan tersebut hanya menjadi penopang sementara.

    "Kalau bantuan seperti itu turun, ya tentu saya dan teman-teman pekerja di sini bersyukur. Lumayan banget buat tambahan menutupi kebutuhan pokok atau bayar tagihan. Tapi kalau boleh jujur, BSU ini kan sifatnya cuma penyambung napas sementara," ungkapnya.

    Farhan juga menyoroti persoalan upah di DIY yang dinilainya belum sebanding dengan biaya hidup.

    "Problem utamanya itu kan isu upah murah dan UMK yang tergolong rendah dibanding daerah lain. Sementara harga kebutuhan pokok, sewa tempat tinggal, sampai biaya hidup sehari-hari terus merangkak naik. Jadi bantuan tunai Rp 900.000 itu sebenarnya cuma menutupi permukaan masalah," tuturnya.

    Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Pekerja di DIY Beri Respons Beragam soal Rencana BSU dan Warga Jogja Merespons BSU: Cuma Redam Gejolak, Masih Terjebak Upah Murah, Tagih Janji Lapangan Kerja.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS