Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured IDAI Kesehatan Spesial

    Soroti Kematian Bayi 24 Hari usai Diberi Telur Mentah, IDAI: Air Putih Pun Tak Boleh - detik

    3 min read

     


    Jakarta -

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bayi berusia di bawah 6 bulan tidak memerlukan makanan atau minuman tambahan selain ASI. Bahkan, pemberian air putih pun tidak dianjurkan sebelum bayi mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI).

    Peringatan ini disampaikan menyusul viralnya kabar bayi berusia 24 hari bernama Alena di Surabaya yang meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Sebelum meninggal, Alena sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo.

    Ketua Umum IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso menegaskan, pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kesiapan perkembangan, kebutuhan gizi, dan keamanan pangan.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    "ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi," demikian penegasan IDAI dalam pernyataan resminya mengenai pemberian makanan pada bayi usia dini dan risiko pemberian telur mentah atau setengah matang.

    IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Setelah itu, ASI dilanjutkan bersama MPASI hingga usia 2 tahun atau lebih.

    dr Piprim menekankan bayi tidak memerlukan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan.

    Apabila ASI tidak memungkinkan diberikan atau terdapat indikasi medis tertentu, susu formula bayi dapat digunakan sesuai penilaian dan anjuran tenaga kesehatan.

    MPASI Tidak Boleh Diberikan Sembarangan

    IDAI menjelaskan, MPASI secara umum mulai diberikan ketika bayi berusia 6 bulan. Pada usia tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui jumlah yang dapat dipenuhi dari ASI saja.

    Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia 4 bulan atau 17 minggu. Namun, keputusan tersebut harus didasarkan pada penilaian dokter dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, serta kesiapan perkembangan bayi.

    "Pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan. MPASI sejak usia 4 bulan juga bukan rekomendasi rutin untuk semua bayi. Kesiapan bayi menerima makanan dapat dilihat dari kemampuannya mempertahankan posisi kepala dan leher, duduk dengan bantuan, serta mengoordinasikan gerakan mulut untuk menerima dan menelan makanan," tegas dr Piprim.

    "Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia, kemampuan menelan, atau tekstur yang dapat ditoleransi bayi dapat meningkatkan risiko tersedak, aspirasi, hingga gangguan pemberian makan," lanjutnya.

    Telur Mentah Berisiko Picu Infeksi

    Selain menyoroti pemberian makanan terlalu dini, IDAI juga mengingatkan bahaya pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak.

    Telur mentah berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis. Gejalanya antara lain diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi.

    Pada bayi dan anak kecil, infeksi tersebut dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

    IDAI menegaskan, telur mentah tidak memberikan keuntungan gizi yang sebanding dengan risiko keamanannya.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

    Komentar
    Additional JS