Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Tak Harus Jadi Astronom, Masyarakat Bisa Ikut Mengungkap Rahasia Galaksi - BRIN

    8 min read

     


    Tak Harus Jadi Astronom, Masyarakat Bisa Ikut Mengungkap Rahasia Galaksi

    Diterbitkan pada 13 jam yang lalu

    Jakarta - Humas BRIN. Siapa bilang mengungkap rahasia alam semesta hanya bisa dilakukan oleh para astronom dengan teleskop canggih? Kini, masyarakat biasa pun dapat ikut membantu ilmuwan meneliti galaksi yang berada sangat jauh dari Bumi. Bahkan, untuk berkontribusi dalam penelitian tersebut, seseorang tidak harus memiliki teleskop ataupun berlatar belakang pendidikan astronomi.

    Kesempatan itu terbuka melalui citizen science, sebuah pendekatan penelitian yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan ilmiah. Dalam bidang astronomi, masyarakat dapat membantu para peneliti mengenali dan mengelompokkan bentuk galaksi berdasarkan gambar yang dihasilkan teleskop.

    Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Farahhati Mumtahana, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat semakin dibutuhkan seiring kemajuan teknologi pengamatan antariksa. Teleskop modern kini mampu menghasilkan data astronomi dalam jumlah sangat besar, sementara tidak seluruh data tersebut dapat langsung dianalisis oleh para ilmuwan.

    Salah satu contoh keterlibatan publik tersebut adalah Galaxy Zoo, proyek citizen science yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasikan bentuk galaksi. Melalui proyek ini, masyarakat dapat membantu membedakan galaksi spiral, eliptikal, maupun bentuk galaksi lainnya dari citra hasil pengamatan teleskop.

    “Sekarang ada Galaxy Zoo untuk citizen science, jadi publik ikut meneliti galaksi, mengidentifikasi mana yang spiral, mana yang elips, dan lain-lain. Itu juga membantu melatih AI karena kita tidak bisa seratus persen bergantung kepada AI,” ujar Farahhati dalam Pelatihan Dasar Space Situational Awareness, Senin (19/10).

    Menurut Farahhati, keterlibatan manusia tetap memiliki peran penting meskipun teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan untuk mengolah data astronomi.

    Hasil pengenalan dan klasifikasi galaksi yang dilakukan manusia dapat digunakan untuk mendukung pengembangan serta pelatihan sistem AI. Dengan demikian, partisipasi masyarakat tidak hanya membantu proses penelitian, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan teknologi analisis data astronomi.

    “Karena begitu banyak data yang ditangkap teleskop, kita mengalami limpahan data atau big data dalam astronomi yang belum seluruhnya diolah lebih lanjut. Salah satu pendekatannya adalah proyek yang melibatkan masyarakat seperti Galaxy Zoo,” jelasnya.

    Besarnya jumlah data astronomi tidak terlepas dari perkembangan teknologi teleskop. Jika dahulu manusia hanya bisa mengamati langit menggunakan mata telanjang dan teleskop optik, kini para astronom dapat mempelajari alam semesta melalui berbagai jenis cahaya yang bahkan tidak dapat dilihat oleh mata manusia.

    Pada dasarnya, mata manusia hanya mampu menangkap sebagian kecil dari spektrum elektromagnetik, yaitu cahaya tampak. Padahal, benda-benda langit juga dapat dipelajari melalui gelombang radio, inframerah, ultraviolet, sinar-X, hingga sinar gamma.

    Setiap jenis pengamatan tersebut dapat mengungkap informasi berbeda mengenai benda langit yang sama.

    Bayangkan seseorang mengamati sebuah galaksi. Melalui cahaya tampak, astronom dapat mempelajari penampilan dan struktur galaksi tersebut. Namun, ketika diamati menggunakan panjang gelombang lain, informasi tambahan mengenai kondisi fisik, gas, maupun proses yang berlangsung di dalamnya dapat terungkap.

    Pendekatan yang memanfaatkan berbagai jenis panjang gelombang ini dikenal sebagai pengamatan multipanjang gelombang.

    “Masing-masing panjang gelombang akan memberikan informasi yang berbeda. Informasi-informasi itu kemudian dikumpulkan menjadi satu untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih detail mengenai objek-objek yang diamati,” terang Farahhati.

    Untuk melakukan pengamatan tersebut, para astronom memanfaatkan berbagai teleskop dengan kemampuan yang berbeda.

    Teleskop Antariksa Hubble, misalnya, dapat mengamati alam semesta melalui cahaya tampak, ultraviolet, dan inframerah dekat. Pengamatannya menghasilkan berbagai informasi mengenai bintang, nebula, galaksi, serta fenomena antariksa lainnya.

    Sementara itu, James Webb Space Telescope (JWST) mengandalkan pengamatan inframerah untuk mempelajari berbagai objek, termasuk galaksi pada masa awal alam semesta, wilayah pembentukan bintang, hingga atmosfer planet di luar tata surya.

    Ada pula Teleskop Chandra yang mengamati sinar-X untuk mempelajari gas bersuhu tinggi, sisa ledakan bintang atau supernova, serta lingkungan di sekitar lubang hitam.

    Lubang hitam sendiri merupakan salah satu objek paling menarik dalam astronomi karena gravitasinya begitu kuat sehingga cahaya tidak dapat lolos dari wilayah di dalam batas yang disebut horizon peristiwa. Meski tidak dapat dilihat secara langsung melalui cahaya yang dipancarkan dari wilayah tersebut, keberadaan dan karakteristik lubang hitam dapat dipelajari melalui pengamatan materi dan lingkungan di sekitarnya.

    Pada energi yang lebih tinggi, Teleskop Fermi digunakan untuk mengamati fenomena sinar gamma, termasuk pulsar, galaksi aktif, dan ledakan sinar gamma.

    Pengamatan melalui gelombang radio, antara lain menggunakan instrumen seperti Square Kilometre Array (SKA), membantu penelitian mengenai hidrogen kosmik dan pulsar. Adapun satelit Planck digunakan untuk mempelajari radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik, yakni jejak radiasi dari alam semesta pada masa awal perkembangannya.

    Berbagai teleskop tersebut memiliki kemampuan yang saling melengkapi. Dengan menggabungkan informasi dari sejumlah panjang gelombang, astronom dapat memperoleh gambaran lebih utuh tentang objek dan fenomena yang sedang dipelajari.

    “Kadang pengamatan bisa digabungkan, jadi tidak hanya dari satu teleskop saja. Dari berbagai panjang gelombang, kita akan mendapatkan gambar yang lebih tajam, lebih indah, dan informasinya juga lebih kaya,” ungkap Farahhati.

    Kemajuan teleskop menghadirkan tantangan baru dalam astronomi modern. Semakin banyak objek antariksa yang dapat diamati, semakin besar pula jumlah gambar dan informasi yang perlu dianalisis.

    Pengamatan astronomi tidak lagi sekadar menghasilkan gambar benda langit yang menakjubkan. Di balik setiap citra terdapat data yang dapat membantu ilmuwan memahami struktur galaksi, pembentukan bintang, karakteristik benda langit, hingga berbagai proses fisika yang berlangsung di alam semesta.

    Untuk mengolah informasi tersebut, para peneliti memanfaatkan teknologi komputasi dan kecerdasan buatan. Namun, sistem otomatis tetap membutuhkan pengembangan, pelatihan, serta dukungan data yang berkualitas.

    Melalui proyek seperti Galaxy Zoo, masyarakat dapat berpartisipasi dalam mengenali pola dan mengklasifikasikan bentuk galaksi. Hasil klasifikasi tersebut dapat mendukung pekerjaan ilmuwan sekaligus menjadi bagian dari proses pengembangan sistem pengolahan data otomatis.

    Keterlibatan masyarakat memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu mengurangi peran manusia dalam penelitian. Sebaliknya, kemampuan teleskop, kecerdasan buatan, dan partisipasi publik dapat saling melengkapi untuk membantu ilmuwan memahami alam semesta.

    Pendekatan citizen science juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal bagaimana sebuah pengetahuan ilmiah dihasilkan. Publik tidak lagi hanya menjadi penonton yang menikmati keindahan gambar galaksi, tetapi dapat mengambil bagian dalam proses penelitian yang berlangsung di baliknya.

    Di tengah kemajuan teknologi antariksa, upaya mengungkap rahasia alam semesta ternyata tidak hanya berlangsung melalui teleskop canggih dan komputer berkemampuan tinggi. Kontribusi manusia, termasuk masyarakat awam yang memiliki rasa ingin tahu terhadap langit, tetap menjadi bagian dari perjalanan ilmu pengetahuan.

    Karena itulah, untuk ikut memahami alam semesta, seseorang tidak selalu harus menjadi astronom. Terkadang, langkah awalnya cukup dengan mengamati sebuah gambar galaksi dan membantu ilmuwan mengenali apa yang ada di dalamnya. (MM/ed:pur)

    Komentar
    Additional JS