Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Banjir Lahar Berita Featured Gunung Semeru Lintas Peristiwa Spesial

    Getaran Banjir Lahar Semeru Terekam 6 Jam, Warga Diimbau Jauhi Aliran Sungai - Kompas

    5 min read

     


    LUMAJANG, KOMPAS.com - Masyarakat dan penambang pasir di sekitar Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, diimbau menjauhi aliran sungai saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

    Imbauan itu disampaikan menyusul meningkatnya potensi banjir lahar dingin setelah hujan berintensitas tinggi terjadi selama beberapa jam pada Senin (2/11/2026).

    Pos Pengamatan Gunung Semeru juga mencatat satu kali gempa getaran banjir dengan durasi enam jam dalam periode pengamatan Senin pukul 00.00-06.00 WIB.

    "Pada periode pengamatan Senin pukul 00.00-06.00 WIB tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 65 mm dan lama gempa 21.600 detik atau enam jam," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Agastya Rajendra, Senin, dilansir dari Antara.

    Banjir Lahar Gunung Semeru, Warga Sebut Ada Suara Gemuruh "Gludug-gludug"

    Baca juga: 4 Truk Pasir di Lumajang Terjebak Banjir Lahar Gunung Semeru

    Selain getaran banjir, aktivitas kegempaan Semeru selama periode tersebut mencakup satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 mm dan durasi 115 detik.

    Petugas juga mencatat 14 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10-25 mm dan durasi 31-153 detik.

    "Pengamatan secara visual, Gunung Semeru tertutup kabut dan asap kawah tidak teramati, kemudian cuaca hujan, angin lemah ke arah barat dan barat laut, serta suhu udara sekitar 19-21 derajat Celcius," tuturnya.

    Baca juga: Gunung Semeru Meletus 9 Kali Pagi Ini, Masyarakat Diminta Waspada

    Warga diminta menjauhi aliran sungai

    Gunung Semeru saat ini masih berstatus aktivitas vulkanik Level III atau Siaga. Karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan sejumlah rekomendasi untuk mengantisipasi ancaman erupsi dan banjir lahar.

    Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

    Di luar jarak tersebut, warga juga tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan itu berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.

    "Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," katanya.

    Baca juga: Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas, Jarak Luncur Tidak Diketahui karena Tertutup Kabut

    PVMBG turut meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru.

    Ancaman tersebut terutama perlu diwaspadai di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.

    Bahkan, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, hujan dengan intensitas tinggi selama enam jam di Gunung Semeru tersebut menyebabkan debit air di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) Semeru meningkat hingga membuat tanggul jebol di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang.

    Baca juga: Gunung Lawu Diguyur Hujan, BPBD Karanganyar Belum Pastikan Karhutla Padam

    Penambang pasir diminta hentikan aktivitas sementara

    Bupati Lumajang Indah Amperawati meminta para penambang pasir menghentikan sementara kegiatan penambangan di sepanjang DAS Semeru selama hujan berintensitas tinggi.

    Langkah tersebut diperlukan untuk menghindari risiko keselamatan akibat meningkatnya potensi banjir lahar dingin di kawasan sungai.

    "Keselamatan pekerja menjadi prioritas di tengah kondisi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan Semeru. Kami imbau para penambang untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas penambangan guna menghindari risiko yang dapat mengancam keselamatan jiwa," kata Indah, Senin, dilansir dari Antara.

    Baca juga: Pemuda NU Asal Lumajang Raih Rekor Muri lewat Buku 1.062 Halaman

    Bupati yang akrab disapa Bunda Indah itu mengingatkan para penambang agar tidak memaksakan diri bekerja ketika cuaca membahayakan. Menurut dia, keselamatan harus lebih diutamakan daripada kepentingan ekonomi maupun target pekerjaan.

    "Kalau hujan dengan intensitas tinggi, saya mengimbau para penambang untuk tidak beraktivitas sementara. Jangan mengambil risiko, keselamatan jiwa harus menjadi yang utama," tuturnya.

    Ia juga meminta masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan Semeru terus memantau perubahan cuaca dan mengikuti arahan petugas serta informasi resmi dari instansi berwenang.

    Aktivitas penambangan diharapkan baru kembali dilakukan setelah kondisi dinyatakan aman dan ada arahan dari pihak berwenang.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS