Hewan juga saling ‘menyadap’ komunikasi hewan lain, bagaimana caranya? - The Conversation
Burung cikrak peri agung (Malurus cyaneus cyanochlamys) di New South Wales, Australia. JJ Harrison/Wikimedia Commons, CC BY-SA
• Hewan ‘menyadap’ komunikasi antarspesies atau sesama spesies untuk bertahan hidup.
• Hewan bisa belajar suara asing yang mengancam tanpa melihat sumber suaranya.
• Hubungan antarspesies dalam ekosistem bukan cuma soal makan-dimakan, tapi juga soal pertukaran informasi.
Komunikasi manusia melalui banyak perangkat dan saluran di masa kini menimbulkan kekhawatiran soal keamanan dari komunikasi yang disampaikan. Tetapi, pesan tetap rentan untuk ditembus dan disadap oleh pihak yang bukan penerima informasi walaupun sudah diamankan dengan menggunakan sandi hingga enkripsi.
Di dunia hewan, ‘penyadapan’ komunikasi ternyata merupakan salah satu perilaku alami mereka. Seekor hewan dapat melakukan eavesdropping, atau memperoleh informasi dengan mendengarkan atau mengamati komunikasi individu lain tanpa terlibat langsung dalam interaksi tersebut.
Perilaku ini dapat berlangsung antara individu dari spesies yang sama (intraspecific eavesdropping) dan juga melibatkan spesies yang berbeda (interspecific eavesdropping).
Baca juga: Riset baru ungkap bahwa jamur mungkin menggunakan bahasa untuk berbicara satu sama lain
Dari mengenal ancaman hingga mencari makan
Kemampuan menyadap ini membantu hewan mengetahui kekuatan pesaing, mengenali ancaman pemangsa, hingga memperoleh peluang mendapatkan makanan. Bahkan, sebagian hewan dapat mempelajari sinyal komunikasi spesies lain tanpa harus mengalami sendiri peristiwa yang berkaitan dengan sinyal tersebut.
Sebuah studi di Cina melaporkan hasil eksperimen terhadap ayam peliharaan (Gallus gallus domesticus) yang diumbar tanpa kandang (free-range). Peneliti dalam studi tersebut memperdengarkan rekaman suara kicauan biasa dan panggilan peringatan bahaya dari burung gelatik-batu Jepang (Parus minor).
Hasilnya menunjukkan, ayam lebih waspada ketika mendengar panggilan peringatan dibandingkan kicauan biasa. Ayam juga menunjukkan respons kewaspadaan yang berbeda terhadap jenis panggilan peringatan terhadap spesies tertentu dibandingkan spesies lainnya.
Menariknya, ayam yang sedang mencari makan sendirian menunjukkan kewaspadaan lebih tinggi daripada ayam yang berada dalam kelompok.

Kajian lain mencatat penyadapan panggilan peringatan antarspesies telah dibuktikan secara eksperimental pada sekitar 70 spesies vertebrata. Menurut kajian tersebut, kemampuan ini dapat membantu hewan menghindari predator, menyesuaikan aktivitas mencari makan, dan mempelajari ancaman di lingkungan mereka.
Ikan cupang (Betta splendens) yang populer dipelihara di Indonesia memberikan salah satu contoh menarik tentang penyadapan komunikasi dalam satu spesies.
Cupang jantan dikenal memiliki perilaku teritorial atau kecenderungan untuk menguasai wilayah tertentu dari individu lain, terutama untuk makanan. Ketika bertemu pejantan lain, mereka dapat memperlihatkan warna tubuh, mengembangkan sirip, dan menunjukkan berbagai gerakan agresif sebelum pertarungan terjadi.
Namun, bagaimana jika seekor cupang hanya menyaksikan pertarungan tersebut tanpa ikut terlibat? Sebuah studi mengungkap cupang jantan mampu mengamati interaksi agresif antara pejantan lain dan memanfaatkan informasi mengenai kemampuan bertarung mereka dalam interaksi berikutnya.
Cupang yang menyaksikan pertarungan cenderung mendekati pihak yang kalah dibandingkan pihak yang menang. Sebab, pejantan yang kalah dipersepsikan sebagai lawan yang lebih mudah dihadapi, sedangkan pemenang dianggap lebih berisiko untuk ditantang.

Sebaliknya, ketika tidak menyaksikan pertarungan sebelumnya, cupang tidak menunjukkan kecenderungan serupa. Dengan kata lain, cupang dapat memperoleh informasi mengenai calon pesaing tanpa harus menghadapi risiko pertarungan secara langsung.
Informasi ini penting karena konflik fisik menghabiskan energi dan berpotensi menyebabkan cedera. Mengetahui kemampuan lawan melalui pengamatan dapat membantu hewan menyesuaikan keputusan ketika menghadapi persaingan.
Bagaimana hewan memahami bahasa spesies lain?
Lalu bagaimana seekor hewan dapat mengenali komunikasi spesies lain, padahal masing-masing memiliki karakteristik suara maupun gestur yang berbeda?
Menurut riset Magrath dan tim (2014), respons terhadap suara peringatan spesies lain dapat muncul melalui mekanisme bawaan, ketika hewan merespons karakteristik akustik yang menyerupai panggilan peringatan spesiesnya sendiri.
Namun, pengenalan sinyal asing juga dapat dipelajari melalui pengalaman, seperti yang ditunjukkan dalam sebuah eksperimen terhadap burung cikrak peri agung (Malurus cyaneus) di Australia.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan memperdengarkan suara asing yang sebelumnya tidak dikenali oleh cikrak sebagai tanda bahaya. Suara tersebut kemudian diperdengarkan bersamaan dengan panggilan peringatan yang sudah dikenal.
Setelah proses pembelajaran, burung mulai merespons suara asing tersebut dengan melarikan diri menuju tempat perlindungan.

Menariknya, proses pembelajaran berlangsung tanpa burung harus melihat langsung sumber suaranya. Mekanisme ini disebut acoustic-acoustic association atau pembelajaran melalui hubungan antara suara yang belum dikenal dan suara yang sudah memiliki makna tertentu.
Artinya, hewan tidak harus mengalami sendiri suatu ancaman untuk mempelajari tanda bahayanya. Mereka dapat memperoleh pengetahuan dari sinyal komunikasi yang terdengar di sekitarnya. Informasi mengenai ancaman berpotensi menyebar melalui komunitas tanpa setiap individu harus menghadapi predator secara langsung.

Lain lagi dengan burung srigunting batu (Dicrurus paradiseus). Burung yang memiliki habitat alami di hutan tropis di Asia Tenggara ini dikenal memiliki kemampuan menirukan suara burung lain. Kemampuan tersebut bukan sekadar menghasilkan suara yang terdengar serupa.
Dalam sebuah penelitian di hutan Sri Lanka, para ilmuwan mengungkap srigunting batu dapat menirukan panggilan peringatan spesies lain sesuai konteks ancaman, seperti kehadiran predator. Bahkan burung ini dapat menirukan suara spesies lain yang berkaitan dengan perilaku mengusir predator darat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan suara tiruan berkaitan dengan konteks perilaku, bukan sekadar peniruan acak.
Baca juga: Hutan yang ramai kicau burung belum tentu sehat: Riset membuktikannya lewat pohon evolusi
Ekosistem bukan hanya jaringan makanan
Kemampuan hewan “menyadap” komunikasi memberikan perspektif lain tentang hubungan antarspesies dalam ekosistem. Selama ini, hubungan tersebut sering dipahami melalui rantai makanan, seperti tumbuhan dimakan herbivora yang kemudian dimangsa karnivora.
Padahal, hubungan makhluk hidup dalam suatu ekosistem juga berlangsung melalui pertukaran informasi dalam sebuah jaringan (information network). Hewan bukan hanya berpotensi menghasilkan sinyal, tetapi juga menerima dan memanfaatkan informasi dari berbagai interaksi yang berlangsung di sekitarnya.
Pemahaman sebetulnya bermanfaat terhadap konservasi dan pengelolaan hewan. Sebagian spesies dapat berperan sebagai sumber informasi penting bagi spesies lain dalam suatu komunitas. Dengan demikian, hilangnya spesies tertentu berpotensi memengaruhi aliran informasi dan memengaruhi perilaku serta adaptasi mereka di masa depan.
Bagi manusia, pemahaman tersebut dapat membantu pengelolaan satwa melalui usaha seperti perlindungan komunitas yang menjadi sumber informasi bahaya, pengurangan kebisingan habitat, dan pengembangan metode pembelajaran pengenalan pemangsa sebelum hewan hasil penangkaran dilepasliarkan.
Seperti manusia, hewan dapat memperoleh informasi penting dari komunikasi pihak lain. Kadang-kadang, untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitarnya, mereka tidak perlu ikut berbicara, tetapi cukup menyadap hewan lainnya.
