KAI Buka Suara Soal Polisi Naik KRL Gerebek Kampung Bahari - Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387629/original/035452600_1793522291-WhatsApp_Image_2026-11-01_at_15.30.45.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 1.800 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, dan Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek sejumlah titik yang diduga menjadi sarang peredaran narkoba di Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/11/2026). Dalam operasi tersebut, sebagian petugas bahkan dikerahkan menggunakan kereta rel listrik (KRL) untuk mencapai lokasi.
KAI Commuter menjelaskan, perjalanan kereta yang digunakan petugas merupakan kereta luar biasa (KLB) rute Jakarta Kota-Tanjung Priok. Perjalanan tersebut berlangsung sekitar pukul 06.25 WIB berdasarkan hasil koordinasi kepolisian dengan KAI Commuter.
Vice President Corporate Communication KAI Commuter Karina Amanda memastikan penggunaan kereta tersebut tidak mengganggu perjalanan reguler Commuter Line menuju Tanjung Priok.
"Perjalanan tersebut tidak berdampak pada perjalanan regular Commuter Line menuju Tanjung Priok," ujar Karina dalam keterangannya.
Meski demikian, KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf karena tiga perjalanan Commuter Line Jakarta Kota-Tanjung Priok sempat mengalami keterlambatan. Kondisi tersebut terjadi akibat kerumunan warga di sekitar rel saat proses penggerebekan berlangsung.
"Terdapat 3 perjalanan Commuter Line Jakarta Kota-Tanjungpriok mengalami keterlambatan 4-19 menit yang disebabkan oleh kerumunan warga di rel dalam proses penggerebekan yang dilakukan," ungkap Karina.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387628/original/029496700_1793522291-WhatsApp_Image_2026-11-01_at_15.30.45__1_.jpeg)
Sementara itu, dalam operasi tersebut, petugas gabungan bergerak dari berbagai arah untuk menyisir kawasan Kampung Bahari, terutama lapak-lapak yang berada di pinggiran rel kereta. Personel lainnya tiba menggunakan berbagai kendaraan, termasuk sepeda motor.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol. Bismo Teguh Prakoso mengatakan, penggerebekan dilakukan secara serentak dengan melibatkan sejumlah unsur kepolisian dan lembaga terkait.
"Yang jelas kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi, ya. Ada dari berbagai arah, ya. Oleh karena itu kita lakukan serempak, kemudian kita berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, dari Bareskrim, ya, kemudian dari Polda Metro Jaya, Brimob, dan lain sebagainya," kata Bismo kepada wartawan, Minggu (1/11/2026).
Dalam proses penggerebekan, petugas sempat mendapat perlawanan. Bismo menduga aksi tersebut merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian aparat dari target operasi.
Namun, kondisi itu tidak menghentikan penyisiran. Petugas tetap bergerak di sejumlah titik dan menemukan berbagai barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas peredaran maupun penyalahgunaan narkoba, termasuk senjata api.
Bismo menegaskan, polisi akan terus menelusuri lapak-lapak yang menjadi lokasi transaksi sekaligus memburu bandar yang berada di balik aktivitas tersebut.
"Masih (ada transaksi), ya. Oleh karena itu kita akan terus lakukan operasi ini, ya, di berbagai tempat dan juga pengejaran terhadap bandarnya," jelas Bismo.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387619/original/029209400_1793520947-WhatsApp_Image_2026-11-01_at_15.14.10__1_.jpeg)
Hingga saat ini, polisi telah menangkap 26 orang. Mereka dibawa ke Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan.
Dari lokasi penggerebekan, petugas mengamankan sejumlah barang bukti narkoba, mulai dari sabu seberat ratusan gram, ganja, hingga ribuan butir ekstasi. Polisi juga menemukan mesin pencetak ekstasi yang diduga berkaitan dengan aktivitas produksi narkoba.
Selain itu, petugas menyita sejumlah senjata tajam, bong, dan peralatan lain yang diduga digunakan untuk penyalahgunaan narkoba.
"Kemudian ada mesin, mesin pencetak ekstasi, ya. Kemudian ada sajam dan bong, ya, peralatan-peralatan yang digunakan untuk penyalahgunaan narkoba," ujarnya.
Polisi juga menyita sejumlah uang tunai yang ditemukan bersama barang bukti ganja. Uang tersebut diduga berkaitan dengan hasil penjualan narkoba.
"Uang tunai ada. Hasil jadi satu sama barang bukti ganjanya," katanya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6