Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Gas Bumi Spesial

    Ketika Gas Bumi Menemukan Jalan ke Dapur yang Tak Terjangkau Pipa - Okezone

    12 min read

     


    Ketika Gas Bumi Menemukan Jalan ke Dapur yang Tak Terjangkau Pipa (Foto: Dani/Okezone)

    YOGYAKARTA - Bagi Elin, persoalan energi bukan sekadar berapa rupiah yang harus dikeluarkan setiap bulan. Bagi pemilik Nasi Goreng Pak Wit itu, ketersediaan gas menentukan apakah empat kompor di dapurnya bisa terus menyala dan pesanan pelanggan tetap terlayani.

    Sejak menjalankan usaha pada 2012, Elin mengandalkan LPG untuk memenuhi kebutuhan memasak. Namun, ketika pasokan sulit diperoleh, kegiatan dapur ikut menghadapi ketidakpastian.

    “Dulu sering khawatir kalau gas habis. Saya pakai semua ukuran gas, ada yang 12 kg dan lainnya. Karena susah, kadang langka,” ujar Elin saat ditemui Okezone di Yogyakarta belum lama ini.

    Sekitar setahun terakhir, kekhawatiran itu perlahan berkurang. Empat kompor di dapurnya kini menggunakan gas bumi melalui skema Compressed Natural Gas (CNG) yang dikembangkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Subholding Gas Pertamina bersama anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas).

    Perubahan tersebut terasa pada pengeluaran bulanan. Sebelum menggunakan CNG, Elin menghabiskan sekitar Rp1,5 juta untuk kebutuhan gas. Kini, pengeluarannya turun menjadi sekitar Rp600 ribu per bulan.
    Artinya, terdapat potensi penghematan sekitar Rp900 ribu setiap bulan berdasarkan perbandingan biaya yang disampaikan Elin.

    “Pendekatan dari RT buat pasang gas CNG ini. Tidak menyesal karena makin irit,” katanya.

    Bagi Elin, manfaat itu bukan hanya soal pengeluaran. Penggunaan gas bumi melalui jaringan memberikan alternatif terhadap ketergantungan pada tabung LPG yang harus tersedia ketika persediaan habis.

    Di dapur sederhana itu, perubahan cara distribusi energi memperlihatkan bagaimana gas bumi dapat menjangkau konsumen melalui jalur yang berbeda dari jaringan pipa konvensional. Ketika pipa belum dapat menjangkau pelanggan, gasnya yang menempuh perjalanan.

    Ketika Pipa Bukan Satu-satunya Jalan

    Indonesia memiliki sumber daya gas bumi yang besar. Namun, sumber gas tidak selalu berada dekat dengan pusat konsumsi. Membangun jaringan pipa transmisi menuju setiap wilayah membutuhkan investasi, waktu, dan perhitungan keekonomian.

    Di sejumlah daerah, keterbatasan akses terhadap jaringan pipa utama membuat distribusi gas bumi memerlukan pendekatan berbeda. Yogyakarta menjadi salah satu wilayah tempat model distribusi nonpipa dikembangkan untuk memperluas akses pelanggan terhadap gas bumi. Di sinilah CNG clustering menemukan relevansinya.

    Melalui skema ini, gas bumi dikompresi agar dapat diangkut menggunakan Gas Transport Module (GTM) dengan kendaraan khusus menuju lokasi pelanggan atau fasilitas penerimaan. Setelah tiba, tekanan gas diatur melalui sistem yang sesuai sebelum gas dialirkan ke jaringan distribusi lokal dan digunakan oleh pelanggan.

    Pada jaringan rumah tangga, tekanan kembali disesuaikan melalui perangkat pengatur tekanan agar sesuai dengan kebutuhan penggunaan.
    Model ini memungkinkan gas bumi menjangkau konsumen tanpa harus menunggu jaringan pipa transmisi utama dibangun hingga ke wilayah tersebut. Meski demikian, distribusi tetap membutuhkan fasilitas yang sesuai, prosedur keselamatan, dan perhitungan biaya pengangkutan.

    Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menekankan bahwa pemanfaatan gas bumi domestik merupakan salah satu upaya memperkuat penggunaan sumber energi dalam negeri.

    “Karena ini domestik. Tidak impor. Jadi asli Indonesia,” ujar Santiaji di Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

    Bagi PGN, pendekatan ini memperluas konsep layanan gas bumi melampaui ketergantungan pada jaringan pipa konvensional. Gas tidak harus menunggu infrastruktur transmisi menjangkau konsumen, tetapi dapat diangkut menggunakan moda yang dirancang untuk mendukung penyaluran ke wilayah sasaran. Inovasi tersebut bukan berarti pipa kehilangan peran. 

    Jaringan pipa tetap penting bagi distribusi gas dalam skala besar, sementara CNG menawarkan alternatif untuk kondisi geografis dan kebutuhan pelanggan tertentu.

    Keduanya dapat menjadi bagian dari pendekatan distribusi yang saling melengkapi, sepanjang pemilihan skema mempertimbangkan ketersediaan pasokan, kebutuhan pelanggan, keselamatan, dan keekonomian.

    Skema CNG

    Dari Tekanan Tinggi Menuju Api Kompor

    Ada proses teknis yang tidak terlihat ketika api menyala di dapur Elin. Sebelum digunakan, gas bumi dalam skema CNG dikompresi hingga tekanan tinggi, yang dalam sistem pengangkutan dapat mencapai sekitar 200 bar. Tekanan tersebut memungkinkan gas diangkut secara efisien menggunakan GTM.

    Setelah sampai di fasilitas penerimaan, tekanan diturunkan secara bertahap melalui sistem pengaturan yang dirancang sesuai kebutuhan distribusi. Gas kemudian dialirkan menuju pelanggan dengan tekanan yang sesuai untuk penggunaannya.

    Rangkaian itu membutuhkan lebih dari sekadar kendaraan pengangkut. Fasilitas penerimaan, perangkat pengatur tekanan, jaringan distribusi, dan prosedur operasional harus berfungsi sesuai standar keselamatan.

    PGN Gagas juga menyampaikan bahwa pengawasan operasional dilakukan untuk mendukung keandalan penyaluran. Penerapan prosedur keselamatan, pemeriksaan fasilitas, serta kesiapan petugas menjadi bagian penting dalam pengelolaan sistem.

    Santiaji menyampaikan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi perhatian dalam pengembangan pemanfaatan CNG.

    “Kementerian tetap sedang mengkaji terus aspek safety-nya. Supaya yang nanti disampaikan masyarakat adalah dengan barang yang sudah dengan aspek safety yang tinggi,” kata Santiaji.

    Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perluasan akses energi harus berjalan beriringan dengan pengendalian risiko. Gas bertekanan tinggi memerlukan penanganan yang tepat, sementara distribusi hingga pelanggan harus mengikuti ketentuan teknis dan keselamatan yang berlaku.

    Bagi konsumen, teknologi tersebut baru memberikan manfaat ketika pasokan tersedia, penggunaannya sesuai kebutuhan, dan sistem distribusinya dapat diandalkan.

    Dari Satu Dapur ke Ribuan Rumah

    Pemanfaatan gas bumi di Sleman tidak hanya menyasar pelaku usaha. Jaringan gas yang telah dibangun juga melayani ribuan rumah tangga.
    Data yang disampaikan dalam publikasi mengenai pengembangan gas bumi di Sleman menyebutkan bahwa PGN telah membangun lebih dari 4.500 sambungan rumah dengan panjang jaringan distribusi lebih dari 141 kilometer.

    Rata-rata penyaluran gas bumi kepada pelanggan jaringan gas rumah tangga di Sleman disebut mencapai sekitar 84 ribu meter kubik per bulan, setara dengan pemanfaatan sekitar 64 metrik ton LPG per bulan.

    Angka tersebut memperlihatkan skala pemanfaatan gas bumi yang sudah berkembang di wilayah tersebut. Namun, sambungan rumah dan jaringan distribusi tidak dengan sendirinya menggambarkan seluruh sistem CNG clustering. Keduanya perlu dipahami sebagai bagian dari ekosistem penyaluran gas yang melayani kebutuhan pelanggan dengan karakteristik berbeda.

    Pemanfaatannya juga menjangkau sektor komersial, termasuk UMKM, restoran, perhotelan, dan fasilitas lainnya. Salah satu pelanggan komersial adalah Restoran Payakumbuah Yogyakarta, yang telah menggunakan gas dari Gagas sejak mulai beroperasi pada November 2024.

    Manajemen RM Padang Payakumbuah Yogyakarta Adi Saputra mengatakan bahwa pertimbangan penggunaan gas bumi tidak hanya berkaitan dengan biaya, tetapi juga keamanan dan keberlanjutan pasokan.

    Sebelum menggunakan gas bumi, biaya energi restoran dapat mencapai sekitar Rp40 juta per bulan. Setelah beralih, pengeluaran berada di kisaran Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan.

    "Setelah menggunakan gas, biayanya sekitar Rp25 juta, Rp27 juta, sampai Rp30 juta per bulan. Jadi, masih ada efisiensi sekitar 30 persen,” ujar Adi.

    Penghematan tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk mengelola biaya operasional. Bagi restoran, pengeluaran energi merupakan salah satu komponen yang memengaruhi kemampuan mempertahankan usaha, membiayai kebutuhan dapur, dan menjalankan kegiatan sehari-hari.

    Meski demikian, besarnya efisiensi setiap pelanggan dapat berbeda, bergantung pada tingkat konsumsi, harga energi, karakteristik usaha, dan biaya layanan. Pengalaman Elin dan Adi memperlihatkan potensi manfaat CNG, tetapi tidak serta-merta menjadi patokan bagi semua pengguna.

    Di sinilah pentingnya menilai inovasi dari hasil yang benar-benar dirasakan konsumen sekaligus dari kemampuan sistem mempertahankan manfaat tersebut dalam jangka panjang.

    Energi tidak hanya menyalakan kompor. Bagi pelaku usaha, energi juga menjadi salah satu penopang kegiatan ekonomi.

    Gas CNG

    Memperluas Akses, Mengurangi Ketergantungan Impor

    Pemerintah melihat pemanfaatan gas bumi dan pengembangan jaringan gas sebagai bagian dari upaya memperluas akses energi domestik.
    Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan arah kebijakan pengembangan sambungan rumah melalui berbagai skema pendanaan. Dalam materi yang menjadi dasar naskah ini, pemerintah menargetkan pengembangan sekitar 350 ribu sambungan rumah per tahun melalui RPJMN 2026-2029.

    Target tersebut perlu ditopang oleh pilihan infrastruktur yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. Pembangunan pipa konvensional dapat menjadi solusi untuk daerah dengan kebutuhan dan keekonomian yang mendukung, sedangkan CNG clustering dapat dipertimbangkan ketika distribusi nonpipa lebih memungkinkan.

    Bagi PGN dan Gagas, pendekatan ini membuka peluang untuk memperluas layanan gas bumi kepada konsumen yang belum terjangkau jaringan transmisi utama.

    PGN Gagas juga mengembangkan layanan CNG untuk sektor transportasi, komersial, dan industri melalui fasilitas seperti stasiun pengisian gas serta unit pengisian bergerak. Ekosistem tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan gas bumi di luar wilayah yang telah terhubung dengan jaringan pipa konvensional.

    Perluasan pemanfaatan gas domestik juga memiliki dimensi ekonomi nasional. Indonesia masih bergantung pada impor LPG untuk memenuhi sebagian kebutuhan dalam negeri. Karena itu, penggunaan alternatif berbasis sumber daya domestik berpotensi membantu mengurangi tekanan kebutuhan impor.

    Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut biaya penggunaan CNG dapat lebih rendah sekitar 30-40 persen dibandingkan LPG. Namun, perbandingan tersebut perlu dibaca berdasarkan jenis pelanggan, struktur harga, kebutuhan fasilitas, serta biaya distribusi yang berlaku di setiap lokasi.

    Potensi pengurangan konsumsi LPG impor juga tidak otomatis berarti subsidi pemerintah turun dalam persentase yang sama. Dampak fiskal bergantung pada skala peralihan, kelompok konsumen yang dilayani, struktur harga energi, dan kebijakan subsidi yang berlaku.

    Karena itu, manfaat ekonomi CNG perlu dinilai melalui dua ukuran yang berbeda: efisiensi biaya yang dirasakan pelanggan dan dampaknya terhadap kebutuhan energi nasional.

    Pada tingkat pelanggan, penghematan dapat dilihat dari perbandingan pengeluaran sebelum dan sesudah beralih. Pada tingkat nasional, pengaruhnya perlu dihitung berdasarkan realisasi pemanfaatan gas domestik dan perubahan konsumsi LPG impor.

    Pendekatan tersebut membuat evaluasi manfaat lebih terukur dan menghindari penyamaan antara potensi penghematan pelanggan dengan penghematan anggaran pemerintah.

    Inovasi Harus Aman dan Ekonomis

    Di balik peluang memperluas akses gas bumi, CNG clustering menghadapi tantangan yang tidak kecil. Pengangkutan gas menggunakan kendaraan memerlukan perencanaan logistik, sedangkan jarak antara sumber gas, fasilitas penerimaan, dan konsumen ikut menentukan biaya distribusi.

    Semakin jauh jarak pengangkutan, semakin besar pula komponen biaya yang perlu diperhitungkan. Karena itu, model CNG tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama di setiap wilayah tanpa mempertimbangkan kebutuhan pelanggan dan kondisi pasokan.

    Santiaji mengakui bahwa aspek keekonomian menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan layanan tersebut. “Yang penting kan ekonomian. Karena kalau dengan ekonomi, masyarakat bisa nyerap harganya kan lebih enak,” ujarnya.

    Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keberhasilan inovasi tidak cukup ditentukan oleh ketersediaan teknologi. Sistem harus mampu memberikan layanan yang aman dengan biaya yang dapat diterima konsumen.

    Di sisi lain, keandalan pasokan juga menentukan apakah pelanggan akan terus menggunakan gas bumi. Bagi restoran dan UMKM, gangguan pasokan dapat memengaruhi kegiatan operasional, sehingga kontinuitas layanan menjadi sama pentingnya dengan harga.

    Karena itu, pengembangan CNG clustering perlu mempertimbangkan kesiapan fasilitas, prosedur keselamatan, efisiensi pengangkutan, dan karakteristik permintaan. Jika seluruh faktor tersebut dapat dikelola secara tepat, model ini berpotensi menjadi salah satu alternatif distribusi bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa transmisi utama.

    Pengalaman di Sleman memberikan gambaran bagaimana alternatif tersebut dapat digunakan untuk memperluas akses. Namun, penerapannya di wilayah lain tetap memerlukan kajian teknis dan ekonomi sesuai kondisi setempat.

    Bagi Elin, perubahan yang paling terasa bukanlah teknologi di balik sistem distribusi gas bumi. Ia melihatnya dari hal yang lebih dekat dengan keseharian usaha: pengeluaran bulanan yang lebih rendah dan alternatif pasokan energi untuk dapurnya.

    Pengalaman itu menunjukkan bagaimana inovasi infrastruktur dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang dirasakan konsumen. Gas bumi yang sebelumnya sulit dijangkau melalui jaringan pipa konvensional kini dapat disalurkan melalui pendekatan distribusi yang berbeda.

    Namun, perjalanan CNG clustering masih membutuhkan pembuktian berkelanjutan. Keandalan pasokan, keselamatan operasional, keekonomian, dan penerimaan pelanggan akan menentukan sejauh mana model ini dapat dikembangkan ke wilayah lain.

    Bagi PGN dan Gagas, tantangannya bukan hanya membawa gas ke lokasi yang belum terjangkau pipa, tetapi memastikan layanan tersebut dapat berjalan konsisten dan memberikan manfaat yang terukur.

    CNG clustering tidak menggantikan seluruh kebutuhan jaringan pipa. Model ini menawarkan alternatif ketika kondisi geografis, kebutuhan konsumen, dan perhitungan ekonomi membuat distribusi nonpipa layak dipertimbangkan.

    Pada akhirnya, keberhasilan inovasi energi bukan semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kemampuannya menjawab persoalan nyata masyarakat.

    Di dapur Elin, ukuran keberhasilan itu sederhana: kompor dapat digunakan untuk memasak, usaha tetap berjalan, dan pengeluaran energi menjadi lebih terkendali.

    Dari gas yang diangkut melalui jalan raya hingga api yang menyala di dapur, CNG clustering memperlihatkan satu kemungkinan dalam memperluas pemanfaatan sumber daya domestik. Ketika jaringan pipa belum menjangkau semua konsumen, pendekatan distribusi yang tepat dapat membuka jalan lain agar gas bumi hadir dalam kehidupan sehari-hari.

    (Dani Jumadil Akhir)

    Lihat juga: Gery Gany si Kembar Yang Sudah Duet dari Kecil

    Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

    Komentar
    Additional JS