Rupiah Melemah, Liburan ke Swiss Makin Mahal bagi WNI - IDXChannel


Di tengah penurunan jumlah wisatawan Indonesia, Swiss berupaya memperluas daya tarik pariwisatanya melalui kampanye Beyond the Snow: A Swiss Winter for the Senses. Kampanye ini mengajak wisatawan melihat Swiss lebih dari sekadar destinasi pegunungan bersalju dan olahraga ski.
Obolensky mengatakan, Swiss menawarkan pengalaman wisata yang beragam, mulai dari museum, festival budaya, kuliner, hingga kegiatan luar ruang. Wisatawan juga dapat menikmati berbagai kota bersejarah sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan pegunungan.
Dia mencontohkan Basel, kota asalnya, yang dikenal dengan seni, budaya, museum, dan festival karnaval. Salah satu tradisi yang terkenal adalah Basel Carnival, yang berlangsung pada akhir musim dingin dan melibatkan parade musik drum serta seruling.
"Swiss jauh lebih beragam daripada gambaran yang biasa kita lihat di kartu pos," ujar Obolensky.
Dia juga menyebut pariwisata berkontribusi sekitar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Swiss. Sektor tersebut menjadi salah satu faktor penting bagi perekonomian negara, selain industri farmasi dan mesin.
Sementara itu, Ferani mengatakan, tiga destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan Indonesia masih mencakup Zurich, Zermatt, dan Geneva. Namun, sejumlah lokasi seperti St. Moritz, Luzern, dan kawasan Jungfrau juga mulai menarik perhatian wisatawan Indonesia.
Swiss juga berupaya memperkuat daya tariknya bagi wisatawan Muslim dari Indonesia. Ferani menjelaskan, sejumlah hotel dan restoran telah menyediakan fasilitas ramah Muslim, seperti pilihan makanan tanpa babi dan alkohol, sajadah berdasarkan permintaan, serta layanan untuk mengeluarkan minuman beralkohol dari minibar.
Meski belum memiliki sertifikasi halal nasional, Switzerland Tourism menyediakan filter Muslim-friendly pada situs resminya untuk membantu wisatawan menemukan restoran, akomodasi, dan atraksi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
