0
News
    Home Featured Taliban

    Delegasi Taliban Peringati Muharram dengan Orang Bermazhab Syiah, DS: Makin Pusing Lagi Para Kadrun - TRIBUNNEWS

    10 min read

     

    Delegasi Taliban Peringati Muharram dengan Orang Bermazhab Syiah, DS: Makin Pusing Lagi Para Kadrun - Halaman all

    Kolase: capture cuitan pemilik akun Twitter @Bob_cart12 (Twitter @Bob_cart12) dan Denny Siregar (YouTube CokroTV).
    Kolase: capture cuitan pemilik akun Twitter @Bob_cart12 (Twitter @Bob_cart12) dan Denny Siregar (YouTube CokroTV).

    TRIBUN-TIMUR.COM - Pegiat media sosial Denny Siregar turut berkomentar terkait kedekatan Taliban dengan orang-orang bermazhab Syiah.

    Diketahui, Taliban mengikuti pemikiran dan mazhab Maturidiyah (bagian dari aliran Sunni).

    Gerakan Taliban sendiri diartikan sebagai gerakan nasionalis Islam Sunni pendukung Pashtun yang secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah Afganistan sejak 1996 sampai 2001.

    Dan per tanggal 16 Agustus, Taliban kembali menguasai Afghanistan.

    Denny Siregar menyebut kedekatan Taliban dengan orang yang beraliran mazhab Syiah membuat kadrun pusing.

    Hal tersebut diungkapkan Denny Siregar lewat postingan di laman Facebooknya, Rabu (18/8/2021) sore.

    "Makin pusing lagi nih para kadrun...

    Karena sekarang sudah dekat dengan Iran, Taliban yang beraliran Sunni keras sudah menerima realita bahwa mazhab Syiah adalah bagian dari Islam.

    Delegasi Taliban ikut memperingati Muharam bersama mereka yang bermazhab Syiah..

    Bentar lagi muncul deh tagar #Talibansyiahsesat (emoji tertawa).," tulisnya.

    Tampak dia memposting capture cuitan pemilik akun Twitter @@Bob_cart12.

    ""A picture says a thousand words".

    "#Taliban delegation has reportly travelled to Shia area, joined a #Muharram mourning session to further reassure minorities. This right for Shia doesn't even exist in western allied Saudi Arabia. #Afghanistan #Hazara."

    Artinya: "

    "Sebuah gambar mengatakan seribu kata.

    Delegasi #Taliban dilaporkan telah melakukan perjalanan ke daerah Syiah, bergabung dengan sesi berkabung #Muharram untuk lebih meyakinkan minoritas.

    Hak untuk Syiah ini bahkan tidak ada di sekutu barat Arab Saudi. #Afghanistan #Hazara".

    Dalam cuitan itu ada hastag Hazara.

    Hazara (bahasa Persia) adalah sebuah suku bangsa yang berada di Afganistan.

    Populasi Hazara juga dapat ditemui di Iran, Pakistan, Skandinavia, Australia dan Selandia Baru.

    Siapa sebenarnya Taliban dan apa tujuan mereka?

    Berikut hal-hal yang perlu diketahui seputar Taliban, dilansir Tribunnews.com dari Hindustan Times dan BBC:

    1. Siapa Taliban?

    Pada 1994, Mullah Mohammad Omar mendirikan Taliban dengan puluhan pengikut untuk menantang kejahatan dan korupsi yang merajalela selama perang saudara.

    Taliban secara harfiah berarti "mahasiswa" dalam bahasa Pashto, mengacu pada anggota pendirinya yang seorang mahasiswa.

    Kelompok ini awalnya menarik anggota dari apa yang disebut pejuang "mujahidin" yang mendorong pasukan Uni Soviet dari Afghanistan pada 1980-an.

    Taliban kemudian menguasai sebagian besar negara pada 1996.

    Mereka kemudian memerintah selama sekitar lima tahun sampai kelompok itu dicabut oleh pasukan AS pada 2001.

    Mullah Mohammad Omar bersembunyi setelah pasukan yang didukung AS menggulingkan kelompoknya.

    Gerakan Islam garis keras sejak itu berperang melawan pasukan Barat untuk mendapatkan kembali kendali atas Afghanistan.

    2. Siapa Saja Pemimpin Tinggi Taliban?

    Wakil Pemimpin Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar (ANADOLU AGENCY) ((ANADOLU AGENCY)

    Haibatullah Akhundzada, sarjana hukum Islam, adalah pemimpin tertinggi Taliban yang memegang otoritas terakhir atas urusan politik, agama, dan militer kelompok itu, menurut kantor berita Reuters.

    Haibatullah mengambil alih kepemimpinan setelah pendahulunya, Akhtar Mansour, tewas dalam serangan drone AS di dekat perbatasan Afghanistan-Pakistan pada 2016.

    Mullah Abdul Ghani Baradar mengepalai kantor politik Taliban dan merupakan bagian dari tim yang merundingkan penyelesaian politik dengan berbagai pemangku kepentingan di Doha.

    Sementara pemerintah Afghanistan dilaporkan telah menawarkan kesepakatan untuk mengakhiri kekerasan di Afghanistan, Baradar belum merespons sembari Taliban melanjutkan serangannya di tanah air.

    Diyakini berusia awal 30-an, putra Mullah Omar, Yaqoob, mengawasi operasi militer Taliban.

    Yaqoob dipandang sebagai penerus Mansour tetapi dia sendiri mengusulkan nama Akhundzada karena usianya yang masih muda dan kurangnya pengalaman di medan perang, lapor Reuters mengutip seorang komandan Taliban.

    3. Apa Tujuan Mereka?

    Taliban, yang sempat populer di awal-awal terbentuknya karena janjinya untuk mengekang kejahatan dan korupsi, kemudian menjadi terkenal karena secara brutal memaksakan versi Syariah mereka yang keras.

    Gadis-gadis dan wanita Afghanistan khususnya menanggung beban rezim Taliban, yang melarang mereka untuk bersekolah dan dan kerja.

    Laporan menunjukkan bahwa kelompok tersebut telah menggunakan taktik lama untuk menindas perempuan atas nama "sistem Islam yang asli".

    Taliban kembali berjanji untuk memulihkan perdamaian dan keamanan bagi para pengikutnya sementara ratusan ribu warga sipil mengungsi karena takut akan penganiayaan.

    4. Mengapa AS Ikut Berperang di Afghanistan dan Mengapa Berlangsung Sangat Lama?

    Dilansir BBC.com, kembali pada 2001, AS mengalami serangan mematikan 9/11 di New York dan Washington, di mana hampir 3.000 orang tewas.

    Para pejabat mengidentifikasi kelompok militan al-Qaeda, dan pemimpinnya Osama Bin Laden, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu.

    Bin Laden berada di Afghanistan, di bawah perlindungan Taliban, kelompok Islamis yang telah berkuasa sejak 1996.

    Ketika Taliban menolak untuk menyerahkannya, AS melakukan intervensi militer.

    AS dengan cepat menyingkirkan Taliban dan bersumpah untuk mendukung demokrasi dan menghilangkan ancaman teroris.

    Para militan menyelinap pergi dan kemudian berkumpul kembali.

    Sekutu NATO telah bergabung dengan AS dan pemerintah Afghanistan baru mengambil alih pada 2004 tetapi serangan mematikan Taliban terus berlanjut.

    "Gelombang pasukan" Presiden Barack Obama pada 2009 mampu menekan kembali Taliban tetapi itu tidak berlangsung lama.

    Pada tahun 2014, pada akhir tahun paling berdarah sejak 2001, pasukan internasional NATO mengakhiri misi tempur mereka, menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada tentara Afghanistan.

    Hal itu menjadikan momentum bagi Taliban untuk merebut lebih banyak wilayah.

    Pembicaraan damai antara AS dan Taliban dimulai secara sementara.

    Pemerintah Afghanistan hampir tidak terlibat, dan kesepakatan tentang penarikan muncul pada Februari 2020 di Qatar.

    Kesepakatan AS-Taliban tidak menghentikan serangan Taliban.

    Mereka mengalihkan fokus mereka ke pasukan keamanan Afghanistan dan warga sipil, dan menargetkan pembunuhan.

    Area kendali mereka pun berkembang.

    5. Janji Taliban Jika Kembali Berkuasa

    Diberitakan sebelumnya, pada Minggu (15/8/2021) Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen mengatakan, saat ini, mereka tengah mengepung Kota Kabul.

    "Dalam beberapa hari ke depan, kami menginginkan transfer damai," kata Shaheen yang berbasis di Qatar sebagai bagian dari tim perunding kelompok tersebut, dikutip Kompas.com dari dari AFP.

    Shaheen lalu memaparkan, kebijakan Taliban apa saja yang akan diterapkan di Afghanistan, setelah mereka berkuasai lagi usai 20 tahun terpukul oleh pasukan pimpinan Amerika Serikat (AS) akibat tragedi 9/11.

    "Kami menginginkan pemerintahan Islam yang inklusif... itu berarti semua warga Afghanistan akan menjadi bagian dari pemerintahan itu," kata Shaheen.

    "Kami akan melihatnya di masa depan saat transfer damai berlangsung."

    Dia juga mengatakan, kedutaan dan pekerja asing tidak akan menjadi sasaran Taliban dan mereka harus tetap berada di Afghanistan.

    "Tidak akan ada risiko bagi diplomat, LSM, siapa pun. Semua harus melanjutkan pekerjaan seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Mereka tidak akan disakiti, mereka harus tetap tinggal."

    Taliban menepis kekhawatiran bahwa Afghanistan akan terjerumus kembali ke hari-hari gelap dengan hukum ultra-konservatif kelompok itu.

    Shaheen berdalih, Taliban malah akan mencari babak baru toleransi.

    "Kami ingin bekerja dengan warga Afghanistan mana pun, kami ingin membuka babak baru perdamaian, toleransi, koeksistensi damai, dan persatuan nasional untuk negara dan rakyat Afghanistan," katanya.

    Banyak pejabat, tentara, dan polisi menyerah atau meninggalkan pos mereka, takut akan pembalasan terhadap siapa pun yang dicurigai bekerja dengan pemerintah yang didukung Barat atau pasukan Barat.

    Shaheen berujar itu tidak akan terjadi.

    "Kami yakinkan bahwa tidak ada balas dendam pada siapa pun. Setiap kasus akan diselidiki." Juru bicara yang berbasis di Doha tersebut menambahkan, Taliban juga akan meninjau hubungannya dengan Amerika Serikat. "Hubungan kami di masa lalu."

    "Di masa depan, jika mereka tidak mencampuri agenda kita lagi, akan menjadi babak baru kerja sama," pungkasnya. 

    Senin (16/8/2021), Taliban berhasil menguasai Afghanistan sepenuhnya. (Tribun-timur.com/ Sakinah Sudin) (Tribunnews.com, Tiara Shelavie/ Kompas.com/ Aditya Jaya Iswara)

    Editor: Sakinah Sudin
    Ikuti kami di
    Komentar
    Additional JS