Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Bantah Melarikan Diri ke Luar Negeri
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Bantah Melarikan Diri ke Luar Negeri
TRIBUNNEWS.COM, UKRAINA - Volodymyr Zelensky membantah tuduhan dia telah melarikan diri dari Ukraina.
Dirinya pun mengatakan saat ini masih di Kyiv, ibu kota Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memposting video di akun Instagramnya pada hari Jumat (4/3/2022) waktu setempat dan mengatakan dirinya masih di ibukota Kyiv dan belum meninggalkan negara itu.
"Setiap dua hari informasi keluar bahwa saya telah melarikan diri ke suatu tempat, melarikan diri dari Ukraina, dari Kyiv, dari kantor saya. Seperti yang Anda lihat, saya di sini di tempat saya, Andriy Borisovich (Yermak) ada di sini. Tidak ada yang melarikan diri ke mana pun. Di sini kami sedang bekerja," kata Zelensky.
"Kami suka jogging, tapi sekarang kami tidak punya waktu untuk itu, untuk berbagai latihan kardio," candanya.
"Bekerja. Kemuliaan bagi Ukraina."
Pada hari yang sama, dia juga terlihat mengadakan jumpa pers dengan para wartawan dengan pengawalan ketat dari pengawalnya.
Lolos dari Upaya Pembunuhan
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky dilaporkan tiga kali lolos dari upaya pembunuhan sejak Rusia menyerang Ukraina pekan lalu.
Zelensky sebelumnya dilaporkan telah berhasil menghindari upaya pembunuhan itu.
Seperti dilaporkan Times of London, Zelensky berhasil selamat setelah orang-orang Rusia yang menentang perang memberi informasi intelijen tentang serangan yang direncanakan kepada pejabat pemerintah Ukraina.
“Saya bisa katakan bahwa kami menerima informasi dari (Layanan Keamanan Federal Rusia), yang tak mau ambil bagian dari perang berdarah ini,” bunyi pernyataan Menteri Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina dikutip dari Fox News, Jumat (4/3/2022).
Laporan dari Times of London itu mengungkapkan bahwa Kelompok Wagner, pasukan paramiliter yang didukung Rusia, di belakang dua upaya pembunuhan tersebut.
Rusia pun diyakini bakal menyangkal keterlibatannya jika kelompok itu berhasil membunuh Zelensky.
“Mereka akan masuk ke sana dengan misi yang sangat terkenal, sesuatu yang ingin disangkal oleh Rusia. Pemenggalan kepala negara adalah misi besar,” ujar sumber diplomatik dalam laporan itu.
Uni Eropa sendiri didukung oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken telah memberikan sanksi kepada kelompok Wagner dan rekan-rekannya pada Desember lalu, atas pelanggaran hak asasi manusia serius.
Hal itu termasuk penyiksaan dan di luar proses hukum, eksekusi dan pembunuhan secara singkat atau sewenang-wenang, dan aktivitas destabilisasi di sejumlah negara termasuk Libya, Suriah, Republik Afrika Tengah, dan Donbas Ukraina.
Mantan pejabat intelijen AS berspekulasi bahwa tentara bayaran ini kemungkinan telah beroperasi di Kiev selama berbulan-bulan.
Hal itu dikarenakan Presiden Rusia Vladimir Putin membutuhkan intelijen lapangan di Ibu Kota Ukraina sebelum invasi yang direncanakan dimulai pekan lalu.
Microsoft dan mitra dapat memperoleh kompensasi jika Anda membeli sesuatu melalui link yang direkomendasikan di halaman ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar