Bukan AS & China! Ini Negara Pemenang Perang Dagang II Trump: Inggris - CNBC Indonesia

 Dunia Internasional 

Bukan AS & China! Ini Negara Pemenang Perang Dagang II Trump: Inggris

sef, CNBC Indonesia
Kamis, 06/02/2025 08:03 WIB
Foto: Inggris (AP Photo/Alastair Grant)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Dagang Jilid II yang ditabuh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pasar global dilanda volatilitas baru pekan ini. Meski Trump menangguhkan kenaikan tarif 25% ke Kanada dan Meksiko, kenaikan tarif 10% tetap berlaku ke China mulai 4 Februari.

Namun setidaknya, rencana Trump tersebut tak membawa pengaruh signifikan ke Inggris. Meski mengancam Uni Eropa (UE) dengan tarif yang sama, Inggris sepertinya lolos dari perang dagang Trump.

Hal ini terlihat dari pernyataan Trump di depan wartawan, pekan ini. Ia berujar bahwa tarif UE pasti akan terjadi tetapi "kesepakatan dapat diselesaikan dengan Inggris".

"Inggris tidak sejalan. Tetapi saya yakin itu, saya pikir, itu dapat diselesaikan," kata Trump kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa ia "akrab sekali" dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer.

Bagaimana tidak, negara itu ternyata memiliki neraca perdagangannya lebih seimbang dengan Trump. Kedua negara memiliki defisit atau surplus perdagangan yang kecil.

Perlu diketahui, AS merupakan mitra dagang terbesar Inggris pada tahun hingga September 2024. Menurut data resmi, yang mencakup lebih dari 17% dari total perdagangan Inggris.

Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves, bulan lalu juga bersikeras bahwa Inggris "bukan bagian dari masalah" AS. Trump sendiri menerapkan tarif untuk mengelola defisit perdagangan di mana ekspor AS harus lebih banyak ke negara lain, dibanding yang diimpornya.

Hal ini pun diamini para pengamat. Kalaupun ada tarif, itu tak akan berdampak signifikan.

"Pada kenyataannya, dampak pada pasar Inggris akan relatif terbatas pada industri seperti perikanan dan pertambangan," kata eorang profesor bisnis dan strategi internasional di Warwick Business School, Irina urdu-Nardella, dikutip CNBC International, Kamis (6/4/2025).

"Sifat ekonomi Inggris yang berfokus pada jasa melindunginya secara signifikan dari konsekuensi tarif. Tarif sangat merugikan industri dengan rantai pasokan yang kompleks, di mana barang melintasi perbatasan beberapa kali karena perusahaan berupaya mengubah input menjadi barang jadi. Sekali lagi, ini tidak berlaku untuk pasar Inggris, yang sebagian besar mengekspor layanan perbankan dan konsultasi ke AS," jelanya.

Inggris sendiri memiliki lima ekspor unggulan ke AS. Yakni mobil, obat-obatan dan produk farmasi, generator tenaga mekanik, instrumen ilmiah, dan pesawat terbang dengan nilai total 25,6 miliar pound (Rp 499,2 triliun).

Namun nilai ekspor tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan ekspor jasa terbesarnya. Termasuk jasa keuangan dan asuransi, yang memiliki total nilai gabungan sebesar 109,6 miliar pound.

Posisi Unik

Menurut pengamat lain dari Sekolah Bisnis Said Universitas Oxford, Neri Karra Sillaman, menghindari tarif sama sekali adalah skenario yang ideal bagi Inggris. Karena hal itu dapat mendukung industri utama kerajaan.

"Jika Inggris tetap bebas tarif, Inggris dapat diposisikan secara unik untuk menarik investasi, bakat, dan kemitraan perdagangan baru," katanya.

"Dengan tarif yang mendorong bisnis untuk menemukan pusat yang lebih hemat biaya, Inggris dapat menjadi pintu gerbang pilihan bagi perusahaan yang ingin menghindari pembatasan," jelasnya.

"Sektor-sektor seperti barang mewah, mode, farmasi, dan manufaktur canggih- yang sudah menjadi keunggulan Inggris- dapat melihat masuknya peluang investasi dan perdagangan."

Sektor-sektor Inggris termasuk industri otomotif, kedirgantaraan, dan keuangan juga dapat memperoleh keuntungan dari peningkatan permintaan. Apalagi jika pembeli Amerika mencari di luar pemasok yang dikenai tarif.

Kita telah melihat pola-pola ini sebelumnya. Setiap perang dagang menggeser keseimbangan ekonomi global, dan ini bisa menjadi momen bagi Inggris untuk memanfaatkan perubahan, menjadi pemain aktif daripada sekadar pengamat," kata Sillaman lagi.

Jadi Safe Haven?

Pengamat lainnya, mantan pedagang valas dan pendiri platform keuangan pribadi Generation Money, Alex King, juga setuju bahwa kebijakan Trump dapat memberi Inggris sedikit kelegaan ekonomi. Pound Inggris juga bisa jadi pemenang dalam perang dagang.

"Ketika AS pertama kali mengenakan tarif pada China, produsen Tiongkok mengirimkan banyak barang mereka melalui Vietnam dan Thailand ke AS untuk menghindari tarif," kata King.

"Jika Inggris berhasil menghindari tarif, Inggris berpotensi berada dalam posisi yang menguntungkan untuk mendapatkan keuntungan dari rute serupa dari UE," katanya.

"Pound Inggris dapat muncul sebagai pemenang utama dari potensi perang dagang," tambahnya mencatat bahwa setelah konfirmasi tarif awal Trump minggu lalu, pound menguat terhadap euro, dolar Kanada, dan mata uang Australia dan Selandia Baru.

"Ini tanda bahwa investor global mungkin melihat Inggris sebagai tempat berlindung yang aman."

Inggris Pemenang

Menurut CEO di BRI Wealth Management, Dan Boardman, Inggris memiliki "peluang untuk menang" dalam menghindari tarif AS. Ini pun bisa menjadikannya pasar yang menarik bagi investor.

"Jika Trump melanjutkan tarif pada negara lain, masuk akal jika lebih banyak barang berakhir di Inggris dan ini menekan inflasi," katanya.

"Investasi masuk yang lebih besar ke Inggris juga mungkin terjadi jika tarif memburuk dan menjadi fitur yang lebih permanen dari lanskap perdagangan global," tambahnya.

Ia pun merujuk pada suku bunga di Inggris yang sekarang cenderung turun lebih jauh dan lebih cepat daripada AS. Hal itu katanya dapat memicu pemeringkatan ulang perusahaan-perusahaan Inggris bersamaan dengan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris, yang dikenal sebagai gilt.

"Jika ini digabungkan dengan stabilitas politik Inggris yang relatif dan valuasi yang murah, Inggris adalah tempat yang tepat untuk menjadi lebih unggul pada tahun 2025," katanya


(sef/sef)

Baca Juga

Komentar

 Pusatin Informasi 


 Postingan Lainnya 

Artikel populer - Google Berita