Rudal Iran Dicegat, Harga Minyak Anjlok 7% dalam Sehari | Sindonews
Dunia Internasional,Konflik Timur Tengah,
Rudal Iran Dicegat, Harga Minyak Anjlok 7% dalam Sehari | Halaman Lengkap


Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Kamis, 03 Juli 2025 - 09:15 WIB
Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam setelah rudal Iran berhasil dicegat. FOTO/Middle East Images
- Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam setelah serangan rudal yang dilancarkan Iran ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Qatar dan Irak berhasil dicegat. Keberhasilan ini dinilai mampu meredakan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik yang sempat meningkat akibat aksi militer Iran tersebut justru berujung pada penguatan pasar saham AS dan pelemahan harga minyak. Para pelaku pasar menilai bahwa Iran kemungkinan tidak akan melanjutkan serangan lanjutan, sehingga konflik tidak berkembang lebih jauh.
Harga minyak mentah AS (WTI) tercatat turun 7,2% menjadi USD68,51. Ini merupakan penurunan satu hari terbesar sejak awal April, sekaligus penurunan terburuk dalam hampir tiga tahun terakhir. Penurunan tersebut membawa harga minyak ke bawah USD70 per barel untuk pertama kalinya sejak 12 Juni.
Sementara itu, indeks saham utama di Wall Street justru menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 374 poin atau 0,89%, S&P 500 naik 0,96%, dan Nasdaq Composite menguat 0,94%. Pasar merespons positif kemungkinan meredanya ketegangan yang dapat membebani pertumbuhan ekonomi global.
"Yang kita lihat kemungkinan besar adalah serangan simbolik dari Iran," ujar Kirk Lippold, mantan perwira komandan kapal perang USS Cole, seperti dikutip dari Considerable, Kamis (3/7). Ia menilai Iran sengaja melakukan serangan terbatas, bahkan disebut-sebut telah memberi peringatan kepada Qatar guna menghindari jatuhnya korban jiwa.
Langkah Iran menunjukkan keinginan untuk menahan diri dalam menghadapi situasi yang berpotensi memicu perang besar. Meski begitu, ketegangan kawasan masih menjadi perhatian utama para investor yang juga menghadapi ketidakpastian suku bunga, volatilitas tarif perdagangan, dan indikator ekonomi yang beragam.
"Jika serangan dari AS dan Israel telah mereda dan balasan dari Iran terbatas, maka ini akan menjadi angin segar bagi pasar," kata analis militer sekaligus pensiunan Kolonel AU AS Cedric Leighton. Menurut dia, berakhirnya siklus serangan dan pembalasan dapat menurunkan ketegangan global dan membantu stabilisasi pasar energi.
Baca Juga: Iran Segera Memiliki Bom Nuklir, Israel Desak China untuk Menekan Iran
Namun demikian, risiko masih mengintai. Jika konflik kembali meningkat, gangguan terhadap pasokan minyak global tidak bisa dihindari. Hal ini berpotensi memicu inflasi dan memperbesar risiko resesi, terutama di negara-negara importir energi seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Di pasar energi, para trader masih menanti bukti nyata terjadinya gangguan pasokan. "Pasar telah terlalu sering bereaksi terhadap alarm palsu seputar gangguan geopolitik," ujar Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group. Ia menambahkan, lonjakan harga baru hanya mungkin terjadi jika ada gangguan signifikan terhadap aliran energi di kawasan Teluk.
Menteri Energi AS, Chris Wright, mengaku terkejut atas penurunan harga minyak yang drastis, meskipun sudah mengantisipasi fluktuasi karena konflik. Sementara itu, aset safe haven seperti emas hanya naik 0,2 persen ke USD3.390 per troy ons. Imbal hasil obligasi juga turun tipis, menandakan sikap hati-hati investor.
Nilai tukar dolar AS melemah 0,3% pada akhir perdagangan hari itu. Meski tekanan harga minyak mereda, situasi geopolitik tetap rapuh. Jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sekitar 20% pasokan minyak dunia tetap rawan terhadap potensi blokade atau gangguan militer.
"Selat Hormuz akan tetap menjadi fokus dunia internasional. Iran telah bersumpah akan menutup jalur itu sebagai bentuk pembalasan," ujar George Vessey, Kepala Strategi Valas dan Makro di Convera.
Baca Juga: Pertama Kalinya, AS Cabut Sanksi Rusia Terkait Proyek Nuklir di Eropa
Menurut dia, perkembangan situasi di kawasan Teluk akan sangat menentukan arah pasar dalam waktu dekat. Saat ini, pelaku pasar tampaknya mulai mengalihkan perhatian dari konflik.
Sentimen investor membaik seiring keyakinan bahwa fase ketegangan ini tidak akan berlangsung lama. Namun, risiko tetap membayangi dan keputusan-keputusan politik berikutnya di kawasan akan menjadi penentu utama dinamika pasar energi global.
(nng)
Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Iklan - Scroll untuk melanjutkan
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com,
Klik Disiniuntuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Infografis
