0
News
    Home Featured HUT Kemerdekaan RI HUT RI Prabowo Subianto Sidang Tahunan MPR

    Prabowo Beberkan Asal Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen yang Datanya Sempat Diragukan - Kompas

    3 min read

     

    Prabowo Beberkan Asal Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen yang Datanya Sempat Diragukan

    JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto menjelaskan komponen pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 yang mencapai 5,12 persen.

    Komponen utama pendukung pertumbuhan itu adalah konsumsi masyarakat yang meningkat.

    "Dengan dukungan semua komponen bangsa, pemerintah bersatu padu, berjuang agar rakyat tetap terlindungi. Ekonomi Indonesia tetap stabil dan layanan publik dapat berjalan efektif. Hasilnya dapat kita rasakan sekarang ekonomi tiga bulan kedua 2025 tumbuh 5,12 persen year on year," ujar Prabowo dalam pidato nota keuangan dan RUU APBN 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2025).

    "(Pertumbuhan ini) membaik dari 3 bulan pertama (yang sebesar) 4,87 persen. Lebih dari setengahnya adalah (karena) kontribusi dari aktivitas konsumsi masyarakat yang meningkat 4,97 persen," katanya.

    Ultimatum Prabowo Bikin Ahmad Dhani Beri Standing Aplaus, Soal Apa?

    Baca juga: Prabowo Pamer Ekonomi RI Tumbuh 5,12 Persen, Yakin Bakal Terus Naik

    Selain itu, ada pertumbuhan ekspor sebesar 10,67 persen yang ikut mendukung pertumbuhan ekonomi.

    Lalu ada nilai tambah dari hilirisasi yang menjadi penyumbang terbesar.

    "Kuatnya ekspor kita, kuatnya ekonomi menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat," ungkap Prabowo.

    Di sisi lain, tingkat pengangguran disebut Prabowo turun menjadi 4,76 persen pada Februari 2025.

    Penurunan ini terhitung sejak jumlah sebelumnya yang sebesar 4,82 persen.

    Kepala Negara pun menyampaikan bahwa pemerintah sudah bisa menciptakan 3,6 juta lapangan kerja baru.

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia

    Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025 mencapai 5,12 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan nilai produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 5.947 triliun.

    Namun, sejumlah ekonom menilai data tersebut tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

    Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, bahkan menyebut ada sejumlah kejanggalan dalam data yang dirilis BPS tersebut.

    Bhima menyoroti perbedaan mencolok antara laporan BPS dengan indikator lain seperti Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur.

    BPS mencatat industri pengolahan tumbuh sebesar 5,68 persen yoy, namun PMI Manufaktur justru berada di bawah ambang ekspansi sepanjang kuartal II.

    Merespons keraguan itu, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi memberikan respons dengan menegaskan, pemerintah jujur dalam menerbitkan data penurunan atau kenaikan pertumbuhan ekonomi.

    Baca juga: Pemerintah Kejar Pertumbuhan Ekonomi 5,2 Persen di 2025

    Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!

    Prabowo Tak Singgung Kenaikan Gaji PNS dalam Pidato RAPBN 2026

    Komentar
    Additional JS