0
News
    Home Afrika Amerika Serikat China Dunia Internasional Featured

    Tarif Trump untuk Afrika Justru Untungkan China, Posisi AS Tergeser? - Kompas

    6 min read

     Dunia Internasional 

    Tarif Trump untuk Afrika Justru Untungkan China, Posisi AS Tergeser?



    BEIJING, KOMPAS.com – Kebijakan tarif ekspor yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memukul keras perekonomian sejumlah negara Afrika.

    Namun, di balik potensi krisis ini, China justru melihat peluang emas untuk mempererat hubungan dagang dengan benua tersebut.

    “Kami (Afrika) langsung masuk ke pelukan China,” kata ekonom Nigeria, Bismarck Rewane, seperti dikutip dari CNN.

    Baca juga: Sesama Anggota BRICS, China Bantu Brasil Hindari Tarif Trump 50 Persen lewat Kopi

    “Itu adalah konsekuensi yang tidak menguntungkan,” lanjutnya, menyinggung pergeseran hubungan dagang Afrika yang semakin condong ke China, mitra dagang bilateral terbesar benua itu dalam beberapa tahun terakhir.

    Gaji PNS 2026 Tak Naik, Berapa Besarannya Saat Ini?

    Empat negara Afrika — Libya, Afrika Selatan, Aljazair, dan Tunisia — menjadi yang paling terpukul, menghadapi tarif ekspor baru AS yang mencapai 25 hingga 30 persen. Sementara itu, 18 negara lain dikenakan bea masuk 15 persen, menurut paket tarif yang dirilis Gedung Putih, Kamis (31/7/2025)

    Trump mengeklaim tarif ini bersifat “resiprokal” dan ditujukan bagi negara-negara yang memiliki defisit perdagangan dengan AS.

    Namun, penentuan tarif ternyata berdasarkan besar kecilnya defisit tersebut, bukan tarif yang dikenakan negara tujuan kepada AS.

    Afrika Selatan, salah satu kekuatan ekonomi Afrika, menentang keras tarif 30 persen yang dikenakan pada ekspornya. Pemerintah setempat menyebut keputusan Trump tidak mencerminkan data perdagangan yang akurat.

    China ambil peluang

    Presiden China Xi Jinping akan mengambil peluang saat negara-negara Afrika dikenai tarif tinggi oleh Donald Trump.

    Lihat Foto

    Pada Juni lalu, Beijing mengumumkan pembebasan tarif impor untuk hampir seluruh mitra dagang Afrika.

    “Tidak ada waktu yang lebih tepat bagi negara-negara Afrika untuk memperkuat perdagangan Selatan–Selatan selain sekarang,” ujar peneliti Afrika Selatan, Neo Letswalo.

    Ia bahkan mendorong negara-negara Afrika untuk “sepenuhnya beralih ke China dan menjadikannya Amerika Serikat yang baru.”

    “Amerika perlahan kehilangan status kepemimpinan globalnya,” kata Letswalo.

    “Semakin sedikit negara bergantung pada AS, semakin besar peluang China menjadi alternatif,” imbuhnya.

    Kegagalan AS untuk membuat kesepakatan perdagangan dengan negara-negara Afrika sebelum tenggat tarif membuat benua itu makin terpinggirkan dari prioritas Gedung Putih. Letswalo menyebutnya sebagai “peluang terbuka” bagi China.

    Industri terancam lumpuh

    Dampak tarif sudah terasa di negara-negara Afrika, baik yang ekonominya berkembang pesat maupun yang miskin seperti Lesotho. Negeri mungil berpenduduk 2 juta jiwa itu terkena tarif 15 persen — setelah sebelumnya sempat dikenakan tarif 50 persen.

    Baca juga: Kekeh Beli Minyak Rusia, India Dihantam Kenaikan Tarif Impor AS Jadi 50 Persen

    Perdana Menteri Lesotho Samuel Matekane menyebut tarif besar dan penghentian bantuan AS telah “melumpuhkan industri yang sebelumnya menopang ribuan pekerjaan.”

    Trump sendiri pernah meremehkan Lesotho sebagai “negara yang tidak pernah didengar orang,” padahal nilai perdagangan kedua negara mencapai lebih dari 240 juta dollar AS (sekitar Rp 3,9 triliun) tahun lalu, mayoritas di sektor tekstil.

    Afrika Selatan juga menghadapi ancaman kehilangan ribuan pekerjaan. Asosiasi Petani Jeruk (CGA) memperingatkan, “kehilangan pekerjaan akan menjadi kepastian” jika tarif berlaku.

    “Ratusan ribu karton jeruk sudah siap dikirim ke AS dalam beberapa minggu ke depan. Jika tarif diterapkan, sebagian besar buah itu tidak akan terjual,” kata CGA dalam pernyataan resmi.

    Sektor otomotif pun tidak luput dari ancaman. “Sudah ada perusahaan yang mengancam hengkang akibat bisnis yang merosot,” ujar Letswalo.

    Menteri Sumber Daya Mineral dan Minyak Afrika Selatan, Gwede Mantashe, menegaskan pihaknya mencari pasar alternatif. “Mitra dagang terbesar kami adalah China, bukan AS. AS itu nomor dua,” ujarnya.

    Risiko ketergantungan pada China

    Meski peluang kerja sama dengan China terbuka lebar, Letswalo memperingatkan risiko yang mengintai.

    “Mengganti AS dengan China bisa berisiko, apalagi bagi industri muda di Afrika,” katanya.

    Ia khawatir produk murah China membanjiri pasar dan mematikan industri lokal, mengingat banyak negara Afrika sensitif terhadap harga.

    Data China-Global South Project menunjukkan neraca perdagangan China–Afrika cenderung timpang, di mana Afrika lebih banyak mengekspor bahan mentah sementara China mengekspor produk manufaktur bernilai tinggi.

    Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa sendiri pernah menekankan perlunya perdagangan yang seimbang saat bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing tahun lalu.

    Letswalo menyarankan Afrika mempercepat implementasi African Continental Free Trade Area (AfCFTA) untuk memperkuat perdagangan internal benua. Hingga kini, baru sekitar 20 dari 55 negara Afrika yang aktif berdagang di bawah kesepakatan yang berlaku sejak 2020 itu.

    Rewane menambahkan, krisis tarif ini seharusnya menjadi momentum Afrika untuk “membangun ketahanan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada perdagangan yang timpang.”

    “Yang terpenting, kita harus lebih melihat ke dalam, bukan bergantung ke luar,” ujarnya.

    Baca juga: Curhat Petambak Udang Indonesia Kena Tarif Trump 19 Persen, Kalah Saing dengan Ekuador

    Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!
    Komentar
    Additional JS