Alasan Sebagian Besar Maskapai Melewatkan Baris 13 | tempo
Alasan Sebagian Besar Maskapai Melewatkan Baris 13 | tempo
KETIKA menaiki pesawat, pernahkah Anda memperhatikan bahwa tidak semua kursi bernomor urut rapi? Pada beberapa maskapai, baris ke-13 justru hilang. Fenomena ini bukan karena alasan teknis, melainkan berkaitan erat dengan takhayul yang sudah berakar kuat di berbagai budaya.
Ketakutan pada Angka 13
Triskaidekaphobia, yang merupakan istilah untuk ketakutan terhadap angka 13 ternyata berlaku juga di ketinggian 30 ribu kaki. Banyak maskapai besar dunia, seperti Emirates, Ryanair, Cathay Pacific, hingga Singapore Airlines, memilih melewati baris ke-13 demi meredakan kecemasan penumpang yang percaya angka tersebut membawa sial.
Fenomena ini bukan hal baru. CrewLounge, sebuah perangkat lunak penerbangan, pernah mencatat kasus unik pada Brussels Airlines. Saat maskapai itu meluncurkan desain pesawat dengan 13 titik pada ekornya, sejumlah pelanggan enggan terbang. Akhirnya, maskapai menambahkan satu titik lagi sehingga jumlahnya menjadi 14.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Seperti dilansir dari Travel and Leisure Asia, Profesor Hayk S. Arakelyan dari Universitas Internasional Tokyo dalam makalah penelitiannya yang berjudul “3 phobia-Triskaidekaphobia mengungkapkan, banyak orang sadar bahwa ketakutan ini irasional, mereka tetap tidak berdaya menghadapi reaksi panik yang muncul.
Maskapai yang Menghapus Baris 13
Beberapa maskapai internasional memilih menghindari baris ke-13. Di antaranya Iberia, Lufthansa, Air France, ITA Airways, KLM, dan Ryanair di Eropa. Lalu United Airlines, Air Canada, dan beberapa pesawat Alaska Airlines di Amerika Serikat. Di Inggris hanya Virgin Atlantic yang menghapus baris 13, dan di Timur Tengah termasuk Emirates dan Qatar Airways. Sedangkan di Asia, mencakup Singapore Airlines, Cathay Pacific, Hong Kong Airlines, Thai Airways, dan China Airlines.
Namun, tidak semua maskapai mengikuti aturan tak tertulis ini. Delta, American Airlines, Southwest Airlines, British Airways, easyJet, hingga Etihad tetap mempertahankan baris ke-13 di dalam pesawatnya.
Kepercayaan bahwa angka 13 membawa kesialan banyak dipengaruhi oleh kisah budaya dan mitologi. Dalam tradisi Kristen, Yudas Iskariot — sang pengkhianat — disebut hadir sebagai tamu ke-13 di Perjamuan Terakhir. Mitologi Nordik juga menempatkan Loki sebagai dewa ke-13 yang tidak diundang ke sebuah jamuan, yang kemudian membawa malapetaka.
Di luar itu, angka 13 juga sering dikaitkan dengan cerita kelam lain, mulai dari jumlah langkah menuju tiang gantungan hingga jumlah penyihir dalam sebuah kelompok.
Angka lain
Menariknya, bukan hanya baris 13 yang sering dilewati. Lufthansa, misalnya, juga menghindari baris ke-17 karena dalam angka Romawi (XVII), susunannya bisa diacak menjadi VIXI yang berarti "saya telah hidup" sebuah eufemisme untuk kematian dalam budaya Italia dan Brasil.
Sementara di Asia, angka 4 juga kerap dihindari karena pengucapannya dalam bahasa Mandarin dan Kanton mirip dengan kata "mati". Karena itu, beberapa maskapai seperti Singapore Airlines, Thai Airways, Cathay Pacific, dan Hong Kong Airlines tidak menggunakan baris ke-4.
Bagi para teknisi penerbangan, penghapusan baris 13 tidak memiliki dampak teknis apa pun. “Itu hanya angka di dinding,” jelas Jakub Dryk, insinyur pesawat berlisensi sekaligus kontraktor independen Aircalin.
Meski begitu, langkah sederhana ini membantu mengurangi ketidaknyamanan penumpang. Dengan begitu, maskapai bisa memastikan perjalanan terasa lebih tenang, meski sebagian orang mungkin masih menggenggam erat takhayul mereka di udara.
KINAR LAIMAURA
Pilihan editor: Begini Cara Menolak Bertukar Kursi Pesawat dengan Penumpang Lain