Tak Hanya Indonesia, Banjir Juga Menerjang Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Sri Lanka - Tribunnews
Tak Hanya Indonesia, Banjir Juga Menerjang Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Sri Lanka - Tribunnews.com
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah negara di Asia Tenggara dalam beberapa hari terakhir.
Di Indonesia, banjir melanda tiga provinsi sekaligus, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Selain Indonesia, banjir juga terjadi di Thailand, Malaysia, Vietnam, hingga Sri Lanka, dan telah menewaskan ratusan orang.
Indonesia
Mengutip data BNPB yang diunggah di Instagram @bnpb_indonesia, Jumat (28/11/2025), banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara pada pekan keempat November 2025, menyebabkan 116 orang meninggal dunia dan 42 orang hilang.
Korban tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Tapanuli Utara sebanyak 11 orang, Tapanuli Tengah 51 orang, Tapanuli Selatan 32 orang, Kota Sibolga 17 orang, Humbang Hasundutan 6 orang, Kota Padang Sidempuan 1 orang, dan Pakpak Barat 2 orang.
Di Aceh, 35 orang meninggal, 25 hilang, dan 8 luka-luka.
Korban paling banyak berasal dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah.
Pendataan masih berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Aceh Utara.

Sementara itu, di Sumatera Barat, banjir dan longsor menyebabkan 23 orang meninggal dunia, 12 hilang, dan 4 luka-luka.
Korban tersebar di Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Kota Padang, dan Pasaman Barat.
Total korban meninggal dunia di Indonesia: 174 orang.
Thailand
Di Thailand, korban tewas akibat banjir parah setelah hujan deras selama tiga hari telah mencapai 145 orang, menurut laporan Thai PBS, Jumat (28/11/2025).
Permukaan air kini mulai surut dan operasi penyelamatan masih berlangsung.
Dalam jumpa pers, juru bicara pemerintah Siripong Angkasakulkiat mengatakan korban tewas dilaporkan di delapan provinsi di Thailand bagian selatan.
Songkhla mencatat jumlah korban tertinggi, yakni 110 orang.
Menurut Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana, banjir meluas di wilayah selatan dan berdampak pada sekitar 3,54 juta orang, meski di beberapa daerah air sudah surut.
Kota Hat Yai, salah satu yang paling parah terdampak, menerima curah hujan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir pada awal pekan ini.
Pemerintah kemudian mengumumkan keadaan darurat di Provinsi Songkhla untuk mempercepat evakuasi dan penyelamatan.
Malaysia
Hujan deras ekstrem di negara bagian Perlis, Malaysia, yang berbatasan dengan Thailand selatan, telah menyebabkan banjir parah sejak minggu lalu.
Lebih dari 7.000 orang mengungsi, sementara data resmi menunjukkan lebih dari 34.000 orang telah dievakuasi di seluruh negeri.
Dua orang meninggal dunia, termasuk seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun yang dilaporkan terseret ke kolam penampungan banjir di Malaka
Ia ditemukan sekitar 600 meter dari lokasi terakhir terlihat, menurut Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.
Badan Meteorologi Malaysia juga telah mengeluarkan peringatan cuaca buruk yang berkelanjutan, termasuk dampak badai tropis Senyar yang bergerak dari Selat Malaka.
Vietnam
Hingga Kamis (27/11/2025) pagi, banjir yang melanda Vietnam tengah, terutama di provinsi-provinsi selatan-tengah, telah menyebabkan 98 orang meninggal dunia dan 10 orang hilang, menurut laporan Departemen Pengelolaan Tanggul serta Pencegahan dan Pengendalian Bencana Alam, dikutip dari Vietnam News Agency.
Sebanyak 426 rumah hancur, lebih dari 2.000 rumah rusak, dan lebih dari 272.000 rumah terendam banjir.
Sri Lanka
Setidaknya 56 orang meninggal dan 21 orang hilang di Sri Lanka setelah banjir dan tanah longsor yang dipicu hujan lebat melanda pekan ini, menurut BBC.
Ini menjadi salah satu bencana terkait cuaca terburuk yang dialami Sri Lanka dalam beberapa tahun terakhir.
Sebanyak 21 orang tewas di distrik perkebunan teh Badulla ketika tanah longsor menimpa rumah mereka pada malam hari, menurut Pusat Manajemen Bencana (DMC).
Siklon Ditwah menyapu pantai timur pada Jumat (28/11/2025), membawa lebih banyak hujan.
Video di media sosial menunjukkan rumah-rumah tersapu banjir, sementara layanan kereta api di banyak wilayah dihentikan.
Permukaan air sungai terus meningkat, dan DMC telah memperingatkan warga di dataran rendah untuk mengungsi ke tempat lebih tinggi.
Peringatan banjir tingkat merah dikeluarkan untuk daerah di lembah Sungai Kelani dalam 48 jam ke depan, termasuk wilayah ibu kota, Kolombo.
Dalam sidang parlemen pada Jumat, anggota parlemen Ajith Perera mengungkapkan adanya laporan darurat mengenai sebuah bus yang terdampar dekat kompleks waduk Kala Wewa selama lebih dari satu jam.
Ia mendesak pemerintah mengizinkan penggunaan helikopter untuk menyelamatkan para penumpang.
Menteri Kehakiman Harshana Nanayakkara mengonfirmasi kondisi tersebut.
Ia mengatakan polisi memerintahkan bus itu berhenti karena kondisi yang terlalu berbahaya untuk melanjutkan perjalanan.
Angkatan bersenjata telah dikerahkan, dan helikopter penyelamatan telah diizinkan.
"Mereka akan diselamatkan," ujarnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)