0
News
    Home Aceh Tamiang Bencana Featured Lintas Peristiwa Spesial Sumatera

    3 Pekan Berlalu, Permukiman Warga Aceh Tamiang Masih Gelap Gulita dan Dipenuhi Lumpur - Kompas

    6 min read

     

    3 Pekan Berlalu, Permukiman Warga Aceh Tamiang Masih Gelap Gulita dan Dipenuhi Lumpur

    Kompas.com, 15 Desember 2025, 12:26 WIB
    Lihat Foto

    ACEH TAMIANG, KOMPAS.com - Tiga pekan setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang, kondisi permukiman warga masih jauh dari pulih.

    Hingga Minggu (14/12/2025) malam, sebagian besar wilayah permukiman warga masih gelap gulita tanpa aliran listrik, sementara lumpur sisa banjir masih menumpuk di jalan, gang, pekarangan, dan dalam rumah.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Pengamatan Kompas.com pada Minggu petang hingga malam hari menunjukkan bahwa lampu rumah warga dan penerangan jalan di sejumlah kawasan permukiman tidak menyala.

    Hal ini terlihat di Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, serta kawasan Kota Lintang Atas dan Kota Lintang Bawah, Aceh Tamiang.

    Listrik Tak Kunjung Menyala, Warga Aceh Tamiang: Sedih Sekali

    Situasi di lapangan tersebut kontras dengan pernyataan sejumlah pejabat pemerintah yang menyebutkan bahwa aliran listrik di Provinsi Aceh telah tersambung hampir sepenuhnya.

    Di sepanjang Jalan Lintas Sumatera wilayah Aceh Tamiang, lampu penerangan jalan sebagian besar belum menyala.

    Penerangan hanya terlihat di kawasan Jembatan Aceh Tamiang, yang menjadi salah satu pusat pengungsian warga.

    Sumber cahaya utama di jalan raya pada malam hari hanya berasal dari kendaraan yang melintas dan sejumlah lokasi yang menggunakan genset.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Jarak pandang pengendara pun sangat terbatas, hanya sekitar tiga meter, akibat minimnya penerangan dan debu tebal dari lumpur kering sisa banjir yang beterbangan tertiup angin.

    Di dalam kawasan permukiman yang jauh dari jalan raya, kondisi lebih memprihatinkan.

    Tidak ada satu pun lampu yang menyala, sehingga warga mengandalkan senter, lilin, hingga lampu kendaraan untuk menerangi rumah mereka pada malam hari.

    Datang ke Posko untuk Mengisi Daya

    Bima (21), warga Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, mengungkapkan bahwa aliran listrik di wilayah tempat tinggalnya belum menyala sama sekali sejak banjir terjadi pada 26 November 2025.

    “Masih belum hidup, Bang. Di rumah, di permukiman kami juga belum,” ujarnya saat ditemui di posko pengungsian, Minggu malam.

    Dia menjelaskan, setiap hari harus mendatangi posko pengungsian untuk mengisi daya telepon selulernya dan milik warga lain.

    “Iya, betul. Untuk ngecas. Rekan-rekan yang mengungsi lainnya juga saya bawakan,” tambahnya.

    Bima mengungkapkan, selama hampir tiga pekan terakhir, warga bertahan hidup tanpa listrik dengan penerangan seadanya.

    “Kalau malam ya kami menggunakan lilin. Seadanya. Itu pun bukan lilin beli, lilin buatan. Bikin sendiri dari minyak makan sama kapas,” ucapnya.

    Menurut Bima, pernyataan pemerintah yang menyebut listrik di Aceh telah tersambung hampir 100 persen tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

    “Tidak benar, Bang. Kondisi di lapangan ya seperti saat ini. Orang-orang pada kebingungan cari listrik,” jelasnya.

    Selain listrik, Bima menyebut, warga juga sangat membutuhkan air bersih untuk membersihkan lumpur yang masih menempel di rumah dan perabotan.

    “Dibutuhkan sekarang itu air bersih untuk nyuci-nyuci lumpur-lumpur yang di rumah. Kalau enggak ada air bersih, baju-baju bisa lapuk, bisa koyak,” ujarnya.

    Untuk sementara, warga di Desa Bundar mengambil air dari sumur yang jaraknya sekitar 700 meter dari permukiman, meski kondisinya masih keruh.

    Listrik Masih Padam

    Hal senada disampaikan Muhammad Alastaf, warga Kota Lintang yang mengungsi di tenda pengungsian Jembatan Aceh Tamiang.

    Dia juga menegaskan bahwa hingga kini listrik di kawasan permukiman belum pulih.

    “Listrik masih padam. Belum sempurna. Di jalan jembatan ini saja yang hidup, sisanya belum,” kata Alastaf.

    Dia mengaku telah mengungsi selama lebih dari dua pekan karena kondisi rumahnya belum layak huni, dengan air bercampur masih menggenang setinggi kurang lebih 50 sentimeter.

    “Rumah tidak hanyut, alhamdulillah. Tapi belum layak huni. Airnya masih sebetis,” ujarnya.

    Menanggapi klaim pemulihan listrik yang disebut hampir menyeluruh, Alastaf mengaku sedih karena kondisi di lapangan sangat jauh berbeda.

    “Sedih sekali, Bang. Sakit,” katanya sambil memegang dada.

    “Berbeda, sangat berbeda (kondisi di lokasi),” tegasnya.

    Dia berharap pemerintah mempercepat pemulihan, terutama penyediaan air bersih dan kelistrikan di wilayah Aceh Tamiang.

    “Kalau logistik sudah lancar. Yang kami butuhkan sekarang cuma air bersih sama kelistrikan di kota-kota ini,” pungkasnya.

    Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini
    Komentar
    Additional JS