0
News
    Home Aceh Bencana Featured Lintas Peristiwa Spesial Sumatera

    500 Lebih Desa di Aceh Masih Gelap - Herald ID

    2 min read

     

    500 Lebih Desa di Aceh Masih Gelap - Herald ID


    Emak-emak ini marah-marah kepada Bahlil yang menyebut listrik di Aceh 93 persen pulih. (Foto: HO)

    HERALD.ID -Lebih dari 500 desa di Aceh masih gelap hampir tiga pekan setelah banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Hingga kini, warga di daerah terdampak mengeluhkan belum pulihnya aliran listrik serta terbatasnya akses bantuan logistik dan komunikasi.

    “Ini beras hanya tahan seminggu lagi,” ujar Jamil, warga Desa Wih Tenang Uken, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Senin, 15 Desember 2025.

    Ia mengatakan listrik di desanya belum menyala sama sekali, sementara komunikasi dengan keluarga di luar daerah hanya bisa dilakukan dua hari sekali.

    Keterbatasan akses membuat warga terpaksa bergerak sendiri. Di sejumlah desa, masyarakat membangun jembatan darurat secara swadaya lantaran bantuan infrastruktur belum menjangkau wilayah pedalaman Bener Meriah.

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero) mencatat, sebanyak 562 desa hingga kini masih belum tersambung listrik. Proses pemulihan terkendala akses jalan terputus dan kondisi medan berlumpur ekstrem.

    Tim Siaga Bencana ESDM melaporkan, pasokan listrik telah pulih untuk 776.875 dari total 970.954 pelanggan terdampak. Dari sisi wilayah, sebanyak 5.938 desa telah kembali berlistrik, sementara ratusan desa lainnya masih menunggu penyambungan akibat kerusakan jaringan dan hambatan lapangan.

    Ketua Tim ESDM Siaga Bencana, Rudy Sufahriadi, mengatakan percepatan pemulihan difokuskan pada daerah dengan tingkat kerusakan terparah.

    “Pemerintah bersama PLN memprioritaskan desa-desa yang masih gelap, terutama di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Tamiang,” ujarnya dikutip, Senin, 15 Desember 2025.

    Data lapangan menunjukkan, 151 desa di Aceh Tengah belum menikmati listrik, disusul Bener Meriah sebanyak 141 desa dan Aceh Tamiang 99 desa. Ketiga wilayah ini menjadi fokus pengerahan personel dan peralatan karena luasnya kerusakan jaringan.

    Tantangan berat juga terjadi pada infrastruktur transmisi utama. Menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Sigli–Bireuen menjadi titik krusial setelah salah satu tower roboh akibat bencana.

    “Emergency Repair System sudah terpasang untuk menggantikan Tower 340, namun penarikan kabel konduktor terhambat genangan lumpur pekat,” kata Rudy.

    Keselamatan petugas menjadi perhatian utama dalam proses pemulihan. Medan berlumpur memaksa personel bekerja dengan risiko tinggi demi mengejar sinkronisasi sistem kelistrikan Aceh.

    “Petugas harus berenang dan berjalan kaki menembus lumpur sedalam satu hingga satu setengah meter saat menarik kabel agar tidak terpuntir,” ujarnya.

    Halaman
    Komentar
    Additional JS