Mengenal Lupus, Penyakit Autoimun Pemilik Gejala Beragam Sulit Dikenali, Demam hingga Rambut Rontok - Tribunnews
Mengenal Lupus, Penyakit Autoimun Pemilik Gejala Beragam Sulit Dikenali, Demam hingga Rambut Rontok - Tribunnews.com
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kompleks.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kompleks yang kerap sulit dikenali sejak awal karena gejalanya sangat beragam dan dapat menyerupai penyakit lain.
Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Alergi Imunologi, dr. Santi Sumihar R. Parhusip, Sp.PD, Subsp. AI, FINASIM, menjelaskan bahwa lupus adalah penyakit dengan spektrum klinis yang luas dan heterogen.
Sehingga pendekatan penanganannya tidak bisa disamaratakan.
“Tapi lupus itu adalah penyakit dengan variasi klinis yang sangat luas, sangat heterogen. Sehingga membutuhkan penanganan yang juga harus individual,” ujar dr. Santi dalam acara Exclusive Talk “Internal Medicine Update and Education” bersama RS Premier Bintaro dan Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Banten Tangerang, Minggu (14/12/2025).
Secara medis, lupus merupakan penyakit autoimun sistemik yang dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh.

Manifestasi klinisnya bergantung pada organ mana yang terdampak oleh proses imunologis yang terjadi di dalam tubuh.
“Seperti kita ketahui, systemic lupus erythematosus adalah suatu penyakit autoimun kompleks yang mengenai hampir semua sistem organ dalam tubuh kita. Dan memiliki manifestasi klinis yang bervariasi,” lanjutnya.
Gejala Fase Awal Lupus, Demam, Ruam Kupu-kupu hingga Rambut Rontok
Pada fase awal, lupus sering datang dengan keluhan umum berupa demam.
Demam hampir selalu ditemukan sebagai gejala klinis awal, meskipun tingkat keparahannya dapat berbeda-beda.
Pada anak-anak, demam bahkan menjadi gejala sistemik yang paling dominan.

Namun lupus tidak berhenti pada satu organ. Pada kulit, manifestasi lupus sangat menonjol.
Sekitar 71 persen pasien mengalami lupus kutaneus, termasuk ruam khas malar rash atau ruam kemerahan di pipi menyerupai sayap kupu-kupu yang ditemukan pada sekitar 45 persen kasus.
Selain itu, alopecia atau rambut rontok terjadi pada sekitar 31 persen pasien, sementara ulkus mulut ditemukan pada sekitar 26 persen kasus.
Nyeri Sendi hingga Efek Pada Organ Penting
Keterlibatan sendi menjadi manifestasi yang paling sering dijumpai.
Sekitar 85 persen pasien lupus mengalami artritis, berupa nyeri sendi, kaku, dan pembengkakan yang dapat mengganggu aktivitas harian.
Pada sistem darah, lupus dapat menimbulkan berbagai kelainan hematologis, seperti leukopenia, trombositopenia, sindrom antifosfolipid, limfadenopati, hingga anemia hemolitik autoimun.
Jika imun kompleks terdeposisi pada ginjal, pasien dapat mengalami lupus nefritis yang terjadi pada sekitar 21 persen kasus.
Dampak organ berat lainnya meliputi keterlibatan sistem saraf pusat atau neuropsychiatric SLE.
Kondisi ini dapat berupa kejang (4 persen), stroke (5 persen), neuropati kranial (2 persen), hingga gangguan kognitif.
Pada jantung dan paru, lupus dapat memicu serositis yang ditemukan pada sekitar 19 persen pasien.
Keragaman gejala ini tidak terlepas dari patogenesis lupus yang sangat kompleks. Proses awalnya melibatkan kegagalan pembersihan sel-sel yang mati (apoptotic cells), sehingga antigen nuklear terekspos dan dikenali sebagai ancaman oleh sistem imun.
Paparan sinar ultraviolet, infeksi virus dan bakteri, serta faktor hormonal memperburuk proses ini.
Aktivasi sel T dan sel B yang tidak terkontrol menyebabkan produksi autoantibodi dalam jumlah besar.
Autoantibodi ini kemudian membentuk imun kompleks yang terdeposisi di berbagai jaringan tubuh, memicu inflamasi dan kerusakan organ.
Kerusakan jaringan semakin diperparah oleh pelepasan sitokin proinflamasi seperti interferon gamma, interleukin-4, dan TGF-beta.
Inilah yang menjelaskan mengapa dua pasien lupus hampir tidak pernah memiliki pola penyakit yang sama.
Karena perjalanan penyakit lupus dapat berkembang dari ringan menjadi sedang hingga berat, diagnosis dini menjadi sangat penting.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala klinis, pemeriksaan pencitraan, serta pemeriksaan serologis, guna menghentikan progresivitas penyakit sebelum terjadi kerusakan organ permanen.