0
News
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Spesial

    3 Pilihan Suram yang Harus Dihadapi Trump Jelang Perang dengan Iran | Republika Online

    5 min read

     

    3 Pilihan Suram yang Harus Dihadapi Trump Jelang Perang dengan Iran | Republika Online



    REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Analis geopolitik Bobby Ghosh menggambarkan gambaran suram tentang pilihan-pilihan yang dihadapi Presiden AS Donald Trump dalam menangani protes yang meningkat di Iran. Trump tidak memiliki pilihan yang baik atau bahkan sedang.

    Dalam artikel yang diterbitkan oleh majalah Time Amerika Serikat, dia menulis bahwa Trump telah menerima laporan tentang pilihan-pilihan untuk melakukan serangan militer di Iran.

    Baca Juga :

    Sponsored

    Penulis artikel tersebut berpendapat bahwa pesan ini tidak hanya ditujukan kepada para mullah yang berkuasa di Teheran. "Tetapi juga kepada kita semua. Ia ingin kita percaya bahwa ia akan menyelamatkan para demonstran Iran."

    Baca Juga :

    Ghosh mencatat, Presiden telah mengeluarkan peringatan "agresif" selama beberapa hari dengan nada yang semakin keras terhadap Teheran, seiring dengan berlanjutnya protes rakyat di sana.

    Pada Senin dini hari, Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan serangkaian tanggapan terhadap kerusuhan yang meningkat di Iran, termasuk opsi militer yang mungkin, seiring dengan berlanjutnya protes yang melanda negara itu.

    Baca Juga :

    Dalam pernyataannya kepada wartawan di Pesawat Kepresidenan, dia menegaskan bahwa negaranya memiliki opsi yang sangat kuat terhadap Iran.

    "Kami akan menanggapi dengan tegas setiap tindakan, dan kami akan menyerang Iran dengan cara yang belum pernah mereka lihat sebelumnya jika mereka melakukan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa."

    Menanggapi pernyataan tersebut, Gush mengatakan bahwa kata-kata Presiden itu kuat, jenis yang populer di saluran berita dan media sosial, dan menganggap bahwa "inilah Trump yang kita kenal," yang terbiasa mengancam dan menakut-nakuti sebagai kebijakan.

    Dia menambahkan, pernyataan tersebut mencerminkan sebagian dari kepribadian Presiden yang bertekad untuk menjadi berbeda dari pendahulunya, Barack Obama dan Joe Biden, karena dia ingin menjadi orang yang benar-benar mengambil tindakan.

    Menurut artikel tersebut, retorika keras Trump meningkatkan ekspektasi orang-orang Iran yang mempertaruhkan nyawa mereka, sekutu-sekutunya di Teluk yang mengamati situasi dengan cemas, dan orang-orang terdekatnya yang mendesaknya untuk bertindak.

    Halaman 2 / 3

    Masalahnya adalah Trump tidak memiliki pilihan yang baik, bahkan pilihan yang sedang-sedang saja, menurut penulis artikel yang memaparkan skenario-skenario yang mungkin terjadi, "masing-masing lebih buruk dari yang lain":

    Pertama, serangan simbolis

    Skenario ini adalah menyerang lokasi-lokasi Garda Revolusi atau fasilitas militer terbatas untuk memberi kesan bahwa pemerintah AS telah melakukan sesuatu tanpa memicu perang.

    Namun penulis memperingatkan bahwa serangan semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa, tidak akan menghentikan pasukan Basij untuk menangkap para remaja putri, dan tidak akan menghalangi Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei untuk menghancurkan pemberontakan dengan segala kekuatan yang diperlukan. Yang terburuk, serangan itu mengirimkan pesan kejam kepada para demonstran: "Kalian sendirian."

    Kedua, memenggal kepala

    Menurut Gush, memenggal kepala rezim Iran dengan membunuh Khamenei dan para pemimpin tinggi Garda Revolusi adalah ide menarik karena kesederhanaannya, tetapi pada kenyataannya hal itu dapat menghasilkan rezim militer yang lebih kejam.

    Penulis memperingatkan alternatif yang siap untuk mengisi kekosongan dalam situasi ini bukanlah para demonstran dan demokrasi, melainkan Garda Revolusi yang memiliki 190 ribu tentara, yang dianggap sebagai kekuatan yang paling terorganisasi dan kompak.

    Dia menambahkan, bahwa formasi militer apa pun yang menggantikan Pemimpin Tertinggi mungkin akan berakhir dengan membuat kesepakatan dengan Washington guna melindungi kepentingannya, yang merupakan paradoks pahit bagi mereka yang telah mengorbankan nyawa mereka demi kebebasan.

    Halaman 3 / 3

    Ketiga, operasi militer berkelanjutan

    Gush menganggap skenario ini sebagai jalur tengah, yaitu melancarkan operasi udara berkelanjutan untuk melemahkan aparat keamanan Iran, bukan simbolis atau memenggal kepala, melainkan serangan sistematis untuk mempersulit penindasan, tanpa mengambil risiko dengan mengerahkan pasukan di lapangan.

    Dia menjelaskan, kampanye militer yang mungkin dilakukan dalam skenario ini meliputi penargetan pusat-pusat komando, penghancuran gudang senjata, gangguan komunikasi, dan pemberian kesempatan kepada para demonstran untuk bertahan.

    Namun, Gush memperingatkan ironisnya, semakin sukses operasi tersebut, semakin besar risiko terjadinya kekacauan yang dapat menyeret Iran ke nasib yang mirip dengan Libya atau Yaman.

    Ghosh menyimpulkan kenyataan yang mengganggu menunjukkan bahwa masa depan Iran tidak akan ditentukan oleh rudal jelajah Amerika, melainkan akan dibuat oleh orang Iran sendiri dalam konflik kehendak yang panjang.

    Meskipun penulis berpendapat bahwa Washington dapat membantu "secara marginal" melalui sanksi, teknologi, dan tekanan diplomatik, dia memperingatkan pembebasan tidak datang dari langit (mengacu pada serangan udara).

    Para demonstran layak mendapatkan lebih dari janji-janji kosong. Sama seperti Amerika layak mendapatkan lebih dari petualangan baru di Timur Tengah yang lahir dari niat baik dan pemikiran ajaib.

    photo
    Lini Masa KOnflik Israel Iran - (Republika)
    Komentar
    Additional JS