Asal-usul Benteng Engelenburg atau Benteng Loji, Peninggalan Belanda di Klaten yang Kini Tak Tersisa - Tribunsolo
Asal-usul Benteng Engelenburg atau Benteng Loji, Peninggalan Belanda di Klaten yang Kini Tak Tersisa - Tribunsolo.com
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Leiden University Libraries Digital Collections
Ringkasan Berita:
- Benteng Engelenburg atau Benteng Loji merupakan peninggalan kolonial Belanda di pusat Kota Klaten yang berperan penting dalam sejarah berdirinya Kabupaten Klaten.
- Dibangun sejak 1796 dan diresmikan 28 Juli 1804, benteng ini menjadi penengah konflik pasca Perjanjian Giyanti dan tanggalnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Klaten.
- Kini benteng telah hilang dan lokasinya berubah menjadi Masjid Raya Klaten serta kawasan publik di sekitar Alun-alun Klaten.
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Kabupaten Klaten menyimpan jejak sejarah panjang yang berlapis, mulai dari masa kerajaan Hindu-Buddha, Islam, hingga kolonial Belanda.
Salah satu peninggalan penting dari era kolonial yang kini telah hilang adalah Benteng Engelenburg atau Fort Engelenburg, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal sebagai Benteng Loji.
Meski tak lagi menyisakan bentuk fisik, keberadaan benteng ini memiliki peran besar dalam sejarah berdirinya Kabupaten Klaten.
Benteng Engelenburg didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda di pusat Kota Klaten.
Sejumlah sumber sejarah menyebut pembangunan benteng telah dimulai sejak tahun 1796, namun peletakan batu pertama secara resmi tercatat pada 28 Juli 1804 Masehi.
Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Klaten dan diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2007.
Benteng Penengah Konflik Pasca Perjanjian Giyanti

Pendirian Benteng Engelenburg tidak lepas dari kondisi politik Jawa pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Perjanjian tersebut memecah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua kekuasaan besar, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Perpecahan ini kemudian diikuti berdirinya Kadipaten Mangkunegaran.
Ketiga pusat kekuasaan ini kerap berada dalam ketegangan politik dan militer.
Belanda, sebagai kekuatan kolonial, membangun Benteng Engelenburg di Klaten yang letaknya strategis, berada di antara Surakarta dan Yogyakarta.
Benteng ini berfungsi sebagai basis pertahanan artileri sekaligus simbol pengawasan dan penyeimbang konflik antar kerajaan.
Benteng Engelenburg merupakan bagian penting dari sistem pertahanan kompeni Belanda di Jawa.
Dalam berbagai literatur Belanda, seperti karya FHW Kuypers dalam Nederlandsche Artillerie, tulisan JFG Brumund (1853), hingga Van Doren (1847), disebutkan bahwa benteng ini memiliki fasilitas militer yang cukup lengkap.
Benteng Engelenburg digambarkan memiliki kanal atau parit, dua bangunan utama bergaya Eropa, kubah, barak tentara, hingga jembatan gantung bergaya Portugis.
Namun, seluruh struktur tersebut kini telah lenyap tanpa sisa.
Saksi Mata Benteng Loji yang Pernah Berdiri
Meski jejak fisiknya telah hilang, keberadaan Benteng Engelenburg masih hidup dalam ingatan sejumlah warga lanjut usia Klaten.
Benteng tersebut masih berdiri utuh saat dirinya bersekolah pada tahun 1950-an.
Di dalam benteng terdapat dua bangunan loji yang digunakan sebagai asrama tentara.
Namun setelah Indonesia merdeka, kondisi benteng semakin tidak terawat.
Kawasan tersebut sempat dialihfungsikan menjadi sekolah dasar, lapangan olahraga, hingga terminal.

Dari Benteng Kolonial ke Masjid Raya Klaten
Perubahan besar terjadi pada akhir 1960-an ketika kawasan bekas Benteng Engelenburg mulai dibangun Masjid Raya Klaten.
Pembangunan masjid dimulai pada 1 Januari 1970 dan selesai pada 25 Februari 1980.
Masjid tersebut diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah Soepardjo pada 27 Februari 1980.
Masjid Raya Klaten dibangun di atas tanah bekas benteng dan kini berdiri megah di sisi utara Alun-alun Klaten.
Menurut prasasti peresmian, pembangunan masjid dilakukan melalui gotong royong masyarakat dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah.
Saat itu, sumber dana pembangunan masjid berasal dari iuran masyarakat, termasuk sumbangan dari SPP siswa sekolah pada masa itu.
Selain itu, pembangunan menara masjid mendapat bantuan dari Presiden Soeharto sekitar tahun 1971.
Menara tersebut bahkan sempat dikenal sebagai Menara Soeharto sebelum mengalami penyempurnaan bentuk.
Klaten dalam Lintasan Sejarah Panjang
Klaten disebut telah dikenal sejak masa kerajaan Hindu-Buddha, dibuktikan dengan keberadaan candi dan petilasan kuno.
Pada masa kerajaan Islam seperti Demak, Pajang, dan Mataram, wilayah Klaten masuk dalam wilayah Negara Agung.
Meski terdapat cerita rakyat tentang Kiai Melati sebagai cikal bakal Klaten, nama Klaten baru secara resmi muncul dalam catatan sejarah saat pendirian Benteng Engelenburg pada masa Hindia Belanda.
Sementara itu, Benteng Engelenburg tidak dapat ditetapkan sebagai cagar budaya karena bangunannya telah sepenuhnya hilang.
Berdasarkan peta Belanda, lokasi benteng mencakup area Masjid Raya Klaten dan sebagian Alun-alun saat ini.
Kini, kawasan bekas Benteng Engelenburg telah berubah menjadi pusat aktivitas keagamaan, pendidikan, dan sosial.
Di lokasi tersebut berdiri Masjid Raya Klaten, sekolah, kantor KUA, serta area parkir Klaten Town Square.
(*)