0
News
    Home Bantuan Sosial Bencana Berita Bulog Featured Lintas Peristiwa Spesial Sumatera

    Bulog Sebut Bantuan Sosial ke Masyarakat Terdampak Bencana Sumatera Meningkat - Liputan6

    8 min read

     

    Bulog Sebut Bantuan Sosial ke Masyarakat Terdampak Bencana Sumatera Meningkat

    Bulog mengatakan, penyaluran bantuan ke Sumatera Utara lebih mudah dibandingkan Aceh yang berat.

    oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 09 Januari 2026, 18:18 WIB
    Share. 
    Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

    Liputan6.com, Jakarta - Perum Bulog memastikan pemberian bantuan untuk setiap daerah terdampak bencana di AcehSumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) ada peningkatan ataupun pelipatgandaan hingga tiga kali lipat. Bulog juga membuat skala prioritas dalam pemberian bantuan yakni, daerah terisolir, daerah membutuhkan, dan daerah terpapar. 

    Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, ada 15 gudang di seluruh Aceh dengan stok total beras cadangan pemerintah mencapai  64.889 ton. Kemudian untuk minyak goreng ada 307.220 kiloliter. 

    BACA JUGA:

    Kemudian untuk kondisi cadangan beras bencana alam yang sudah disalurkan adalah 12.561 ton dengan cadangan beras daerah yang sudah disalurkan adalah 154 ton. 

    "Khusus untuk Aceh sesuai dengan permintaan Gubernur Aceh kemarin yaitu beliau minta tambahan 5.000 ton. Dan itu pun sudah kami kirim syukur Alhamdulillah sudah terdiskusi ke masing-masing kabupaten kota,” katanya di BNPB, Jumat (9/1/2026).

    Ia menyampaikan, untuk bantuan pangan beras totalnya adalah 8.922 ton dan untuk bantuan pangan minyak goreng yaitu 1.784 liter. Pihaknya memprioritaskan Takengon, Benermeriah, Takengon karena terisolir.

    "Jadi masyarakat yang ada di Aceh khususnya yang terdapat bencana tidak perlu bimbang dan ragu apalagi ini mau menghadapi Ramadan. Jadi stok beras bulog cukup banyak, minyak juga banyak dan insya Allah gula juga banyak,” ucapnya.

    Ia melanjutkan, distribusi untuk di Sumatera Utara dengan 19 titik gudang memiliki stok cadangan pangan hingga 17.904 ton dan minyak goreng sekitar 284.588 kiloliter. 

    Sementara itu, bantuan beras pemerintah untuk bencana alam sudah terdistribusi total 5.098 ton dan untuk bantuan dari pemerintah daerah sudah terdistribusi sekitar 57 ton. Kemudian, bantuan pangan beras yang diberikan kepada masyarakat yaitu sekitar 15.211 ton dan bantuan minyak goreng juga 3.042 ton. 

    "Syukur Alhamdulillah juga proses penyaluran untuk di Sumatera Utara ini berjalan juga lancar, memang lebih mudah dibanding dengan di Aceh. Karena Sumatera Utara terdampak namun tidak seperti yang di Aceh yang terlalu berat,” ujar dia.

    Kesediaan Logistik

    Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)
    Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

    Pada Sumatera Barat, kata dia, dengan 12 gudang yang hampir penuh stoknya, menjamin kesediaan logistik baik beras mencapai 5.508 ton ditambah 30.000 ton yang sedang dikirim. Selanjutnya, minyak goreng, ada 15.928 kiloliter yang akan digunakan juga dalam mendukung bantuan bencana alam.

    "Sedangkan bantuan pangan beras khususnya yang kita berikan kepada masyarakat di Sumatera Barat adalah 6.795 ton dan bantuan pangan minyak goreng 1.359 kiloliter," ujar dia.

    Bulog juga mendistribusikan bukan hanya bahan pangan tapi juga ada pakaian layak pakai dan keperluan rumah tangga.

    "Untuk wilayah Sumatera Barat tanggap daruratnya mungkin sudah selesai dan Alhamdulillah ini lebih cepat penanganannya,” tandasnya.

    BACA JUGA:

    Bulog Pastikan Serap Gabah Petani Any Quality Tetap Berlaku pada 2026

    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani
    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam Press Conference Capaian Krusial BULOG 2025 dan Langkah Strategis 2026 di kantornya, Jakarta, Jumat (2/1/2025). (Liputan6.com/Maulandy)

    Sebelumnya, Perum Bulog memastikan kebijakan pembelian gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram menggunakan skema any quality akan terus dilanjutkan pada 2026. Kebijakan ini ditegaskan sebagai upaya melindungi petani sekaligus memperkuat serapan padi nasional.

    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, kebijakan tersebut selaras dengan Instruksi Presiden Prabowo Subianto dan telah dibahas secara internal bersama jajaran direksi Bulog. Selain itu, kebijakan ini juga telah dilaporkan kepada Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman serta Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.

    “Jadi kita sudah diskusikan. Nanti memang tetap any quality. Tujuan any quality ini apa sih? Itu untuk membahagiakan para petani, jadi petani itu semua berasnya kita serap,” kata Rizal dalam jumpa pers Capaian Krusial Bulog 2025, Jumat (2/1/2026).

    Program pembelian gabah any quality ini bertujuan memastikan seluruh hasil panen petani terserap dengan harga pemerintah. Dengan demikian, petani memperoleh kepastian pasar, pendapatan yang layak, serta terhindar dari praktik tengkulak yang merugikan.

    BACA JUGA:

    Demi Kesejahteraan Petani

    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani
    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam Press Conference Capaian Krusial BULOG 2025 dan Langkah Strategis 2026 di kantornya, Jakarta, Jumat (2/1/2025). (Liputan6.com/Maulandy)

    Bulog menetapkan harga pembelian gabah Rp 6.500 per kilogram sebagai acuan resmi untuk menjaga kesejahteraan petani, stabilitas produksi pangan, serta keberlanjutan pasokan beras nasional. Meski menggunakan skema any quality, Rizal menegaskan tetap ada ketentuan yang harus dipatuhi petani.

    Salah satunya adalah kewajiban panen sesuai usia tanaman. Menurut Rizal, panen yang dilakukan terlalu dini berisiko menurunkan kualitas gabah dan beras yang dihasilkan.

    Ia menjelaskan, gabah yang dipanen sebelum cukup umur cenderung mudah pecah, menghasilkan beras dengan rendemen rendah, cepat rusak, dan memiliki daya simpan yang tidak optimal. Kondisi tersebut dinilai berpotensi merugikan rantai pasok beras secara nasional.

    Untuk itu, Bulog akan memperkuat sosialisasi kebijakan kepada berbagai pihak, mulai dari penyuluh pertanian lapangan, Babinsa, hingga Bhabinkamtibmas, agar pemahaman mengenai kriteria panen sesuai ketentuan pemerintah dapat diterapkan secara seragam di lapangan.

    BACA JUGA:

    Pengolahan Gabah Jadi Beras Bermutu

    Panen Gabah Kering
    Kenaikan harga gabah di tingkat petani akan memengaruhi nilai jual produk akhir dalam hal ini beras yang dipastikan akan mengalami kenaikan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

    Koordinasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu mendorong praktik panen sesuai umur tanaman, meningkatkan kualitas hasil panen, serta menjaga efisiensi proses pengolahan gabah menjadi beras bermutu dan berdaya saing.

    “Sama kalau kayak kita biasa panen mangga, durian, atau jambu. Kalau belum masa usia panen kan rasanya beda. Jadi seyogyanya nanti yang dipanen itu adalah yang sudah cukup usia panen,” tegas Rizal.

    Kebijakan ini juga dinilai berperan penting dalam menjaga stabilisasi harga gabah, menjamin pasokan beras, serta memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peran negara dalam tata niaga pangan yang adil, transparan, dan berkelanjutan.

    Share
    Komentar
    Additional JS