0
News
    Home Bencana Berita Featured Lintas Peristiwa Spesial Sumatera

    Dampak Bencana Sumatera: 820.000 Ternak Mati dan 107.000 Hektare Sawah Terdampak - indopos

    4 min read

     

    Dampak Bencana Sumatera: 820.000 Ternak Mati dan 107.000 Hektare Sawah Terdampak



    Nelly Marinda Situmorang

    INDOPOSCO.ID – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan, bencana banjir bandang dan longsor melanda tiga provinsi di Sumatera pada akhir November 2025 lalu mengakibatkan ratusan ribu hewan ternak mati.

    “Jumlah ternak mati hilang untuk jenis ternak sapi, kerbau, kambing, domba, unggas mencapai lebih 820.000 ekor,” kata Amran Sulaiman saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IV DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2026).

    Perubahan Struktur Perdagangan Warnai Capaian Penerimaan Bea Cukai Belawan di Tahun 2025

    Selain menewaskan ratusan ribu ternak, bencana hidrometeorologi yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah merusak seratusan ribu hektar sawah.

    “Berdasarkan data per tanggal 13 Januari 2026, sawah yang terdampak bencana di ketiga provinsi mencapai 107,4 ribu hektar yang terdiri atas sawah rusak ringan 56,1 ribu hektar, rusak sedang 22,2 ribu hektar, rusak berat 29,1 ribu hektar,” ungkap Amran.

    Selain itu, terjadi kerusakan infrastruktur yang mencakup ribuan unit Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan), ratusan kilometer irigasi, serta puluhan unit rumah potong hewan (RPH) dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).

    “Kami juga mencatat RPH rusak sebanyak 58 unit, alsintan hilang mencapai 2.300 unit, BPP rusak 11 unit, bendungan rusak 3 unit, irigasi rusak 152 kilometer, dan jalan produksi rusak 820 unit,” ungkap Amran.

    Sedangkan lahan tanaman kopi, kakao, kelapa dalam dan lain-lainnya di luar lahan sawit yang terdampak mencapai 29,3 ribu hektar. Adapun lahan holtikultura terdampak meliputi lahan sayuran, buah, dan tanaman obat mencapai 1.800 hektar. (dan)

    INDOPOSCO.ID – Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Kementerian Agama, Rohmat Mulyana Sapdi mengatakan, secara nasional, Survei Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM), Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) meraih predikat “Sangat Tinggi” dengan skor 88,40.

    “Dimensi ideologis mencatat nilai tertinggi sebesar 94,15, disusul dimensi pengalaman (94,09), perilaku mahasiswa (88,88), intelektual (85,68), dan dimensi ritualistik sebagai nilai terendah dengan skor 82,88,” terang Rohmat dalam keterangan, Rabu (14/1/2026).

    Menpar : Kunjungan Wisatawan Meningkat 10,44 Persen di 2025

    Sementara, menurutnya, survei IKM Non-PTKI mencakup mahasiswa beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Dan secara umum, IKM Non-PTKI berada pada kategori “Sangat Tinggi”.

    Ia merinci, mahasiswa Kristen memperoleh skor nasional 89,75, dengan dimensi ideologis 93,99, ritualistik 84,91, pengalaman spiritual 92,40, intelektual 88,53, dan perilaku 89,27. Lalu, mahasiswa Katolik memperoleh skor nasional 88,27, dengan dimensi ideologis 91,74, ritualistik 80,92, pengalaman spiritual 91,68, intelektual 87,18, dan perilaku 89,25.

    Sementara, untuk mahasiswa Hindu memperoleh skor nasional 82,54, dengan dimensi ideologis 88,92, ritualistik 72,21, pengalaman spiritual 86,26, intelektual 77,95, dan perilaku 87,07. Dan, mahasiswa Buddha memperoleh skor nasional 82,56, dengan dimensi ideologis 88,95, ritualistik 72,19, pengalaman spiritual 86,28, intelektual 77,97, dan perilaku 87,10.

    Rahmat menambahkan, mahasiswa sebagai generasi muda intelektual memiliki peran strategis dalam mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui berbagai kontribusi positif, termasuk dalam aspek keberagamaan sebagai bagian esensial kehidupan individu.

    “Perkembangan teknologi digital, termasuk kehadiran Artificial Intelligence (AI), menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberagamaan generasi muda, termasuk mahasiswa,” ucapnya.

    Ia menuturkan, pergeseran pola pencarian informasi keagamaan yang kini semakin mudah diakses dinilai perlu menjadi perhatian serius agar kualitas keberagamaan mahasiswa tetap terjaga.

    “Ada hal yang dinamis dan diperbarui mengikuti perkembangan zaman, tapi di sisi lain agama juga ada ultimate meaning-nya, ada sesuatu yang harus dikonservasi, harus dipelihara oleh kita. Jadi ada nilai-nilai yang sebenarnya itu mutlak dan tidak bisa diubah,” jelasnya. (nas)

    Komentar
    Additional JS