Dari Sanksi ke Investasi: Cadangan Minyak Terbesar Dunia Diembat Trump - Viva
Dari Sanksi ke Investasi: Cadangan Minyak Terbesar Dunia Diembat Trump
Jakarta, VIVA – Amerika Serikat (AS) siap berinvestasi besar-besaran di sektor energi Venezuela, pascapenggulingan Presiden Nicolas Maduro. Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Donald Trump.
Alasan Trump melakukan kudeta terhadap Maduro karena ingin memulihkan infrastruktur kilang minyak Venezuela yang rusak dan memulai kembali kebangkitan pendapatan bagi negara Amerika Selatan itu.
Venezuela, anggota pendiri OPEC, memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, yang mencakup 17 persen dari cadangan global dengan 303 miliar barel.
Saat ini, Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak AS yang beroperasi di Venezuela, mengirimkan sekitar 140 ribu barel per hari pada kuartal IV 2025.
Perusahaan tersebut telah menyatakan komitmennya terhadap keselamatan tenaga kerjanya dan pelestarian asetnya, seperti dikutip dari situs UK.Finance.Yahoo, Senin, 5 Januari 2026.
Pasukan khusus AS bersama Badan Pusat Intelijen atau CIA menangkap Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, setelah serangan besar-besaran. Keduanya telah didakwa atas tuduhan perdagangan narkoba di Distrik Selatan New York, AS.
Terlepas dari embargo yang masih berlangsung terhadap minyak mentah Venezuela, Donald Trump menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan minyak negaranya akan secara langsung mendanai rekonstruksi infrastruktur minyak mentah Venezuela, dan menjanjikan penggantian biaya atas upaya mereka.
Trump juga mengatakan bahwa perusahaan minyak akan membayar langsung biaya pembangunan kembali infrastruktur minyak mentah Venezuela.
"Mereka akan mendapatkan penggantian atas apa yang mereka lakukan. Kita akan mengalirkan minyak mentah sebagaimana mestinya. Kita akan menjual minyak mentah dalam jumlah besar ke negara-negara lain," tegasnya.
Produksi minyak mentah Venezuela telah mengalami penurunan signifikan sejak puncaknya di akhir 1990-an.
Saat ini, negara tersebut memproduksi sekitar 800 ribu barel per hari, sangat kontras dengan produksi AS yang mencapai 13,8 juta barel per hari.