Evakuasi Korban Longsor Cisarua, Cuaca dan Kondisi Longsoran Masih Berupa Lumpur Jadi Kendala - Tribunnews
Evakuasi Korban Longsor Cisarua, Cuaca dan Kondisi Longsoran Masih Berupa Lumpur Jadi Kendala
Kabasarnas M Syafii menyebut cuaca dan kondisi material longsorang yang masih berupa lumpur jadi kendala proses evakuasi korban longsor Cisarua.
Ringkasan Berita:
- Kabasarnas M Syafii menyebut cuaca dan kondisi material longsorang yang masih berupa lumpur jadi kendala proses evakuasi korban longsor Cisarua.
- M Syafii mengungkap, jarak titik mahkota longsor sampai titik terjauhnya atau lidah longsoran, yakni sejauh 209 meter. Sehingga daerah yang terkena longsor cukup luas.
- Sejauh ini Tim SAR gabungan telah menggunakan unsur udara dan darat untuk memaksimalkan proses evakuasi. Di antaranya menggunakan drone, alat berat, dan pengerahan anjing pelacak.
TRIBUNNEWS.COM - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya M Syafii mengungkap kendala yang dialami Tim SAR gabungan dalam proses evakuasi korban bencana longsor di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat.
M Syafii menyebut, proses evakuasi korban bencana longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari kemarin ini terkendala kondisi cuaca.
Tak hanya cuaca, kondisi material longsoran yang masih berupa lumpur juga menjadi kendala tersendiri dalam proses evakuasi korban longsor Cisarua.
"Pertama pasti kita sangat ketergantungan dengan cuaca, mudah-mudahan hari ini lebih baik. Kedua adalah kondisi longsoran dimana masih berbentuk lumpur, sehingga akan menyulitkan dari kita," kata M Syafii dalam keterangan persnya, Minggu (25/1/2026) pagi, dilansir Kompas TV.
M Syafii mengungkap, jarak titik mahkota longsor sampai titik terjauhnya atau lidah longsoran, yakni sejauh 209 meter.
Sehingga daerah yang terkena longsor Cisarua ini cukup luas.
"Kemudian dari luas area, dari titik mahkota longsor sampai titik terjauhnya atau lidah longsoran, itu sejauh 209 meter, dengan luasan ini yang diperkirakan cukup luas," terang M Syafii.
M Syafii pun berharap, dengan mengandalkan fasilitas dan kekuatan yang ada, proses evakuasi longsor Cisarua ini bisa berjalan maksimal.
Sejauh ini Tim SAR gabungan telah menggunakan unsur udara dan darat untuk memaksimalkan proses evakuasi.
Di antaranya dengan menggunakan drone, alat berat, hingga pengerahan unit K9 Polri atau anjing pelacak.
Unit K9 Polri (sering ditulis Keynine atau K-9) adalah satuan polisi satwa yang menggunakan anjing terlatih untuk membantu tugas-tugas kepolisian, seperti pelacakan, keamanan, dan penegakan hukum.
Baca juga: Kisah Balita 2 Tahun Korban Longsor Ditemukan di Genting Rumah, Nur Masih Mencari Ibu Kandungnya
Istilah K-9 berasal dari pelafalan bahasa Inggris untuk "canine" (anjing), yang dipopulerkan untuk menyebut unit anjing pelacak kepolisian.
"Mudah-mudahan dengan kekuatan yang ada, fasilitas yang ada, kita menggunakan unsur udara berupa drone dari teman-teman yang memiliki fasilitas itu."
"Kemudian dari unsur darat, kita akan melaksanakan pekerjaan ini mulai dari manual. Kita akan menggunakan fasilitas yang ada, termasuk juga alat berat."
"Bahkan kita juga mengerahkan K9 dari teman-teman Kepolisian dan juga TNI," jelas M Syafii.
65 Personel Polda Jabar Dikerahkan
Sebanyak 65 personel Polda Jabar diterjunkan untuk membantu proses evakuasi dan penanganan korban.
Hal tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan.
Ia menyebut Polda Jabar juga mengerahkan satu unit mobil SAR, tiga unit ranger, dua bus pasukan, satu truk pasukan, satu unit elf pasukan, serta satu unit Maung.
"Kami siagakan pula 35 helm SAR, 25 ban SAR, 20 jas hujan, 30 sepatu boots, 12 cangkul, 10 sekop, satu terminal, satu lampu, satu roll kabel, 25 velbed, dua karmantel, satu tenda pleton, satu senso, satu posko SAR, satu dispenser, enam kursi, dan dua meja lapangan," katanya.
"Saat ini sedang dilakukan evakuasi dan pencarian korban," tambah Kabid Humas Polda Jabar.

Baca juga: Jawa Barat Jadi Provinsi Terbanyak Bencana di 2025, Terbaru Longsor Cisarua, 82 Korban Masih Hilang
Unsur SAR pun masih terus melakukan pencarian akibat bencana longsor tersebut.
"Saat ini, tim SAR gabungan masih terus mengupayakan pencarian terhadap korban yang masih tertimbun dengan observasi visual, penggalian manual, penyemprotan tanah menggunakan alkon, serta pemantauan menggunakan drone UAV," kata Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, dalam keterangannya.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian dan evakuasi korban masih terus berlangsung.
Medan yang berat, tertutup lumpur dan material longsor, serta kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan bagi tim di lapangan.
"Warga yang tinggal di sekitar lokasi bencana diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan," katanya.
Baca juga: Didominasi Hidrometeorologi, Bencana Longsor Kembali Telan Korban Jiwa
Update Jumlah Korban
Kabasarnas M Syafii menyebut, informasi sementara total ada 113 orang korban dari 34 kepala keluarga yang terdampak longsor Cisarua.
"Dalam pelaksanaan operasi (pencarian korban) hari pertama, informasi sementara korban yang terdampak ada 113 korban dari 34 kepala keluarga, itu informasi awal," ungkap M Syafii, Minggu (25/1/2026) pagi.
Sejauh ini, korban yang berhasil diselamatkan adalah 23 orang.
Sementara itu, masih ada sekitar 80 orang warga Cisarua yang dinyatakan hilang.
"Kemudian dari kejadian tersebut telah bisa kita selamatkan dengan jumlah 23 orang. Kemudian informasi yang juga kita terima bahwa masih ada 80 warga yang dinyatakan hilang," jelas M Syafii.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Tiara Shelavie)
Baca berita lainnya terkait Longsor di Bandung Barat.
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Puing-puing-bangunan-berserakan-setelah-diterjang-longsor-bandung-barat.jpg)