Fakta CKG 2025: 1 dari 5 Anak Usia Sekolah–Remaja Alami Hipertensi - Tribunnews
Fakta CKG 2025: 1 dari 5 Anak Usia Sekolah–Remaja Alami Hipertensi
Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 mengungkap tantangan kesehatan serius. Anakd an remaja cenderung alami hipertensi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 ungkap fakta hasil pemeriksaannya.
- Satu dari lima anak usia sekolah dan remaja sudah mengalami tekanan darah di atas normal, yakni di angka 120 per 80.
- Ini jadi tantangan kesehatan serius pada kelompok usia sekolah dan remaja.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 mengungkap tantangan kesehatan serius pada kelompok usia sekolah dan remaja.
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menyebut satu dari lima anak usia sekolah dan remaja sudah mengalami tekanan darah di atas normal.
Baca juga: Hipertensi dan Kolesterol Mengintai Usia Produktif, Jamtens Herbal Probiotik Dukung Gaya Hidup Sehat
“Untuk usia sekolah dan remaja, yang kita temukan ternyata satu dari lima itu sudah mengalami tekanan darah di atas normal,” ujar Maria Endang saat memaparkan hasil pemeriksaan CKG 2025 pada konferensi pers virtual Capaian dan Evaluasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Serta Rencana CKG 2026, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, tekanan darah normal berada di angka 120 per 80.
Temuan tersebut mencakup anak dengan kondisi pra-hipertensi hingga yang sudah masuk kategori hipertensi.
Risiko Penyakit Kronis Mengintai Sejak Usia Muda

Maria Endang menekankan, temuan tekanan darah di atas normal pada usia yang masih sangat muda perlu menjadi perhatian serius.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis di kemudian hari apabila tidak dicegah sejak dini.
“Ini masih mudah sekali, usia sekolah remaja, sehingga resiko untuk nantinya mengalami situasi yang lebih berat tentunya juga tinggi,” jelasnya.
Upaya pencegahan yang dianjurkan antara lain mengurangi konsumsi garam.
Terutama dari makanan olahan dan jajanan, memperbanyak asupan sayur dan buah, melakukan aktivitas fisik secara rutin, serta memastikan waktu istirahat yang cukup.
Jika sudah dinyatakan hipertensi, pengobatan perlu dilakukan secara teratur sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Kegemukan, Obesitas, dan Masalah Gizi Remaja

Selain tekanan darah, CKG 2025 juga menemukan persoalan gizi pada usia sekolah dan remaja.
Sebanyak 7 dari 100 anak dalam kelompok usia ini tercatat mengalami kegemukan, gizi lebih, hingga obesitas.
Jika digabungkan dengan temuan tekanan darah di atas normal, kondisi ini dinilai meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan.
Kementerian Kesehatan mendorong pengurangan konsumsi makanan ultraproses yang tinggi garam, gula, dan lemak, serta peningkatan aktivitas fisik secara teratur.
Masalah gizi lain yang cukup menonjol adalah anemia. Data CKG 2025 menunjukkan satu dari empat remaja mengalami anemia, terutama pada remaja putri.
“Anemia menunjukkan situasi gisi yang kurang baik, yaitu kurang darah,” kata Maria Endang.
Anemia dicegah melalui konsumsi gizi seimbang, serta suplementasi tablet tambah darah, khususnya bagi remaja putri, disertai kontrol kesehatan lanjutan.
Gangguan Telinga hingga Gigi Berlubang Masih Tinggi
CKG 2025 juga mencatat tingginya masalah kesehatan telinga pada usia sekolah dan remaja.
Sekitar 26 dari 100 anak mengalami gangguan telinga, mulai dari infeksi, telinga tertutup kotoran, hingga penurunan pendengaran yang dapat mengganggu kualitas hidup.
Selain itu, masalah gigi berlubang masih menjadi temuan terbesar pada kelompok usia ini. Hampir setengah anak usia sekolah dan remaja mengalami karies gigi.
“Kelompok usia sekolah dan remaja malah 47 persen, hampir setengahnya mengalami gigi berlubang atau karies gigi,” ungkap Maria Endang.
Ia menegaskan pentingnya membiasakan perilaku gosok gigi yang benar, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, serta melakukan pemeriksaan gigi secara rutin setiap enam bulan.
Temuan CKG 2025 ini menjadi peringatan bahwa masalah kesehatan pada usia sekolah dan remaja semakin kompleks dan perlu ditangani sejak dini melalui perubahan gaya hidup, pencegahan, dan akses layanan kesehatan yang berkelanjutan.
--