0
News
    Home Banjir Bencana Demam Featured Kesehatan Lintas Peristiwa Pati Penyakit Kulit Spesial

    Genangan Banjir di Pati Picu Lonjakan Penyakit Kulit dan Demam - NU Online

    3 min read

     

    Genangan Banjir di Pati Picu Lonjakan Penyakit Kulit dan Demam



    Pati, NU Online

    Banjir yang merendam Kabupaten Pati, Jawa Tengah berdampak serius terhadap kondisi kesehatan warga. Genangan air yang bertahan selama berhari-hari memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama penyakit kulit dan demam akibat paparan air banjir yang kotor.


    Salah satu warga Desa Doropayung, Naily Farikha Zulfa, mengungkapkan bahwa banjir mulai terjadi pada Ahad dan makin parah pada Senin, 12 Januari 2026, saat air mulai masuk ke rumah-rumah warga.


    “Genangan banjir hingga kini masih bertahan dan bahkan cenderung meninggi akibat curah hujan yang tinggi serta luapan Sungai Silugonggo,” ujar Naily kepada NU Online, Ahad (18/1/2026).


    Ia menyebutkan, ketinggian air di sejumlah titik mencapai leher orang dewasa. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit, terutama penyakit kulit dan infeksi akibat air banjir yang bercampur lumpur, sampah, serta limbah.


    “Banyak warga yang mulai mengeluhkan gatal-gatal dan demam karena terlalu lama berada di air banjir,” imbuhnya.


    Menurut Naily, biasanya diperlukan waktu beberapa hari hingga berminggu-minggu bagi lingkungan dan kondisi kesehatan warga untuk kembali pulih setelah banjir surut. Warga juga menilai banjir tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


    Meski demikian, sebagian warga mengaku telah melakukan langkah antisipasi sejak awal, seperti menyiapkan obat-obatan, air bersih, dan kebutuhan pokok. Namun, dampak banjir tetap terasa berat, terutama bagi kesehatan keluarga.


    “Kami sudah berusaha bersiap, tetapi dampaknya tetap besar, khususnya bagi kesehatan warga,” jelasnya. Terbatasnya akses jalan di wilayah Juwana juga menyulitkan distribusi bantuan serta layanan kesehatan.


    Untuk mencegah kejadian serupa terulang, warga berharap adanya langkah serius dari pemerintah, mulai dari pengerukan sungai hingga pembangunan infrastruktur pengendali banjir, seperti waduk dan bendungan, agar aliran air dapat tertahan dan dialirkan ke laut saat curah hujan tinggi.


    Sementara itu, tenaga medis Rumah Sakit Islam (RSI) Pati, Yeni Ifrokhah menjelaskan pascabanjir banyak warga mengeluhkan gatal-gatal dan ruam kulit, terutama pada area kaki. Keluhan tersebut menjadi kasus yang paling dominan setelah banjir.


    “Gatal-gatal umumnya disebabkan oleh air banjir yang tercampur bakteri, kuman, sampah, limbah, serta kotoran hewan,” terang Yeni.


    Ia menambahkan, kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan air bersih dan sulitnya menjaga kebersihan selama banjir. Beberapa penyakit kulit yang sering ditemui pada korban banjir antara lain kurap, kutu air, kandidiasis, selulitis, impetigo, dan dermatitis. Pada kondisi tertentu, infeksi juga dapat disertai demam.


    “Pasien kami berikan obat-obatan. Jika keluhan tidak membaik, akan dirujuk ke rumah sakit terdekat,” ujarnya.


    Yeni menyampaikan, ketersediaan obat-obatan saat ini masih mencukupi berkat dukungan dari Puskesmas. Namun, jika hujan terus turun dan banjir meluas, dikhawatirkan stok obat akan menipis seiring meningkatnya jumlah warga terdampak.


    Komentar
    Additional JS