IDAI: Super Flu pada Anak dengan Komorbid Berisiko Timbulkan Komplikasi - Liputan6
IDAI: Super Flu pada Anak dengan Komorbid Berisiko Timbulkan Komplikasi
Anak dengan dengan komorbid atau punya penyakit penyerta yang terinfeksi super flu bisa menyebabkan gejala yang muncul bisa lebih berat.
Liputan6.com, Jakarta - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dokter Piprim Basarah Yanuarso SpA(K) mengatakan super flu bisa menginfeksi anak-anak. Namun, pada anak dengan dengan komorbid atau punya penyakit penyerta, gejala yang muncul bisa lebih berat.
"Super flu ini lebih berat pada anak-anak dengan komorbid," kata Piprim di sela-sela webinar bersama IDAI pada Selasa, 13 Januari 2026.
Piprim mengungkapkan anak dengan penyakit komorbid yang terinfeksi super flu atau Influenza A H3N2 subclade K bahkan bisa dirawat di rumah sakit karena menimbulkan komplikasi. Misalnya sampai menyebabkan anak mengalami pneumonia.
Mengenai data anak-anak yang terkena super flu di Indonesia, IDAI tidak memiliki data. Data sepenuhnya berada di Kementerian Kesehatan apalagi untuk menentukan seseorang terinfeksi atau tidak influenza A H3N2 subclade K perlu dengan pemeriksaan genome sequencing.
Data terakhir yang dibagikan Kementerian Kesehatan pada 1 Januari 2026 menunjukkan ada 62 kasus super flu di Indonesia.
Apa Itu Super Flu?
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, super flu bukanlah hal baru. Hanya variannya saja yang terbilang baru dan penularannya cepat.
"Ini influenza tipe A tapi varian K, jadi ini sebetulnya virus H3N2, udah lama adanya udah puluhan tahun," kata Budi saat berada di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/1/2026).
"Nah kemudian dia keluar varian baru, istilahnya subclade K. Dia penularannya cepat tapi (tingkat) kematiannya sangat rendah," tambahnya.
Di Indonesia, per 1 Januari 2026 sudah ditemukan 62 kasus super flu. Untuk itu, Budi mengimbau masyarakat untuk hati-hati tapi tidak panik.
“Di Indonesia kita sudah identifikasi yang saya lihat laporan terakhir masih puluhan, enggak parah sih, artinya bisa dengan pengobatan biasa.”
Gejala Super Flu
Epidemiolog Dicky Budiman beberapa waktu lalu mengatakan, gejala akibat super flu memang lebih parah dari flu musiman lainnya. Ini juga menjadi alasan mengapa influenza subclade K dijuluki super flu.
“Flu lebih berat, batuk lebih lama, banyak dahak, nyeri menelan yang lebih nyeri lebih pedas,” jelas Dicky.
Sementara, angka kematian akibat super flu tidak berubah signifikan. Namun, secara global sudah sekitar 3 juta orang yang terinfeksi dengan ratusan ribu pasien mengalami gejala parah.
“Angka kematiannya jauh lah di bawah COVID-19 di saat awal-awal pandemi. Namun, pada kelompok risiko tinggi seperti lansia di atas 65 apalagi sudah di atas 80 tahun, orang dengan komorbid, orang dengan gangguan imunitas, dan anak itu bisa parah. Angka kematiannya bisa lebih tinggi dibanding kelompok lain.”