Indonesia Negara Paling Bahagia di Dunia, Benarkah? - Inilah
Indonesia Negara Paling Bahagia di Dunia, Benarkah?
Benarkah Indonesia adalah negara paling bahagia di dunia? Pertanyaan ini menyeruak setelah hasil survei Global Flourishing Study (GFS) 2025 menempatkan negara kita di posisi puncak. Namun, jangan salah kaprah. Ada perbedaan mendasar antara sekadar 'bahagia' dengan 'tumbuh bermakna' alias 'flourishing'.
Berdasarkan laporan GFS terbaru yang dirilis April 2025, Indonesia mencatatkan skor tertinggi yakni 8,47. Angka ini membawa Indonesia mengungguli 22 negara dan satu teritori lainnya, termasuk Meksiko (8,19) dan Filipina (8,11).
Sementara itu, negara maju seperti Jepang (5,93) dan Inggris (6,88) justru terjerembap di posisi bawah.
Bukan Sekadar Senyum, tapi Ketangguhan Batin
Studi kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, Gallup, dan Center for Open Science ini menggunakan metodologi longitudinal yang sangat ketat. Melibatkan 207.920 responden berusia 18 tahun ke atas, di 22 negara dan satu teritori (Hong Kong), GFS mengukur enam dimensi inti kehidupan, bukan sekadar survei kepuasan sesaat.
Enam indikator tersebut meliputi:
- Kebahagiaan dan kepuasan hidup.
- Kesehatan mental dan fisik.
- Makna dan tujuan hidup.
- Karakter dan kebajikan.
- Hubungan sosial yang erat.
- Stabilitas material dan finansial.
Tingginya skor Indonesia menunjukkan bahwa secara kolektif, masyarakat kita memiliki modal sosial yang luar biasa. Hubungan antarmanusia yang hangat, religiositas yang kuat, serta kemampuan menemukan makna di tengah keterbatasan menjadi kunci utama mengapa Indonesia bisa memuncaki indeks ini.

Kontradiksi Stabilitas Finansial
Namun, di balik predikat 'juara' tersebut, ada fakta pahit yang harus ditelan. Dari enam dimensi yang diukur, Indonesia justru jeblok pada indikator stabilitas finansial dan material.
Dalam kategori keamanan ekonomi, Indonesia berada di urutan dua terbawah dengan status 'tidak aman' dan skor rendah di angka 0,7. Ini menjadi anomali yang menarik: rakyat Indonesia merasa hidupnya bermakna dan hubungan sosialnya kuat, meski secara ekonomi masih terseok-seok.
Fenomena ini menggambarkan realitas masyarakat kita yang 'tahan banting'. Kita mungkin tidak kaya secara materi, namun kaya secara batiniah.
Sebuah refleksi mendalam bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya melulu soal angka Produk Domestik Bruto (PDB), tapi soal bagaimana manusianya tetap menemukan tujuan hidup meski dalam kesederhanaan.