Inilah Ular Viper Biru, Ular Berbisa Asli Indonesia yang kini Populer Berkat Film Zootopia 2 - mongabay
Indonesia merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa, termasuk berbagai spesies reptil yang memiliki warna dan karakteristik unik di habitat aslinya. Kepopuleran film animasi Zootopia 2 membawa dampak yang tidak terduga bagi dunia konservasi reptil di tanah air. Munculnya karakter Gary De’Snake, seekor ular biru yang ceria, telah memikat jutaan penonton di seluruh dunia. Karakter ini ternyata terinspirasi langsung dari sosok nyata Trimeresurus insularis atau yang dikenal sebagai ular viper biru. Spesies ini merupakan ular endemik yang berasal dari wilayah Kepulauan Sunda Kecil di Indonesia Timur, mulai dari Bali hingga Pulau Komodo. Keunikan warna biru langit yang mencolok menjadikannya salah satu ular paling estetis di dunia. Visualnya kini diadopsi menjadi tokoh layar lebar yang sangat populer.

Namun, di balik keindahannya yang memukau, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan ahli herpetologi. Peningkatan permintaan pasar gelap terhadap viper biru melonjak tajam setelah film tersebut dirilis. Banyak orang yang awam terhadap risiko keselamatan mencoba memelihara ular ini karena terbuai citra ramah yang ditampilkan oleh tokoh animasi. Padahal, Trimeresurus insularis adalah predator yang memiliki bisa hemotoksik yang kuat. Gigitannya dapat menyebabkan pendarahan hebat, pembengkakan ekstrem, hingga kerusakan jaringan yang permanen. Kesadaran masyarakat akan status satwa ini sebagai hewan berbisa sangat krusial. Tren pop-kultur tidak boleh berujung pada ancaman kepunahan spesies di alam liar maupun risiko keselamatan manusia yang fatal.
“Si Ular Langit” dari Tanah Naga
Viper biru sering dijuluki sebagai “Ular Langit” karena gradasi warna biru muda di seluruh tubuhnya yang kontras dengan ekor kemerahan. Di habitat aslinya, seperti Pulau Komodo dan Flores, ular ini berbagi ruang dengan Varanus komodoensis atau komodo. Kawasan yang dijuluki “Tanah Naga” ini menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana kita bisa menemukan kombinasi unik antara kadal raksasa purba dan viper berwarna langit. Menariknya, warna biru ini merupakan hasil dari polimorfisme fenotipik yang dipengaruhi oleh isolasi geografis selama ribuan tahun. Di pulau lain seperti Timor atau Sumba, spesies yang sama justru lebih sering ditemukan dengan warna hijau atau kuning pucat.

Keberadaan ular ini sebenarnya sangat dihormati dalam kearifan lokal masyarakat Nusa Tenggara Timur. Di wilayah Adonara dan Lembata, ular dengan warna mencolok sering dianggap sebagai utusan leluhur atau penjaga tempat sakral. Masyarakat setempat memandang mereka bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari keseimbangan ekosistem hutan monsun. Integrasi antara kearifan tradisional ini dengan riset ilmiah modern menjadi kunci penting dalam melindungi T. insularis dari perburuan liar yang dipicu oleh tren media sosial dan industri film.
Riset Terbaru: Tantangan Medis dan Komposisi Bisa
Sebuah studi proteomik terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Proteome Research memberikan pandangan krusial mengenai kompleksitas racun ular ini. Para peneliti menemukan bahwa bisa T. insularis terdiri dari 48 jenis protein dari 14 keluarga toksin utama. Komposisinya didominasi oleh Snake Venom Metalloproteinases (SVMPs) dan Serine Proteases (SVSPs). Meskipun warna tubuhnya bervariasi antar pulau, struktur racunnya ternyata cukup stabil secara evolusioner. Hal ini memberikan secercah harapan bagi pengembangan protokol medis yang lebih standar di masa depan.
Namun, riset tersebut juga mengungkap fakta pahit. Indonesia saat ini belum memiliki antibisa (antivenom) spesifik yang efektif untuk menetralisir racun T. insularis. Penggunaan antibisa multivalen yang ada saat ini sering kali kurang optimal. Menariknya, studi komparatif menunjukkan bahwa Green Pit Viper Antivenom (GPVAV) dari Thailand justru memiliki efektivitas hingga 80 kali lebih tinggi dalam menetralisir racun viper biru ini dibandingkan produk dalam negeri. Temuan ini mendorong perlunya kolaborasi internasional dan percepatan riset toksinologi nasional untuk memastikan keselamatan masyarakat di wilayah Wallacea tetap terjaga di tengah naiknya popularitas ular ini.