0
News
    Home Bandung Barat Cisarua Featured Lintas Peristiwa Longsor Spesial Walhi

    Jeritan Warga Pecah saat Longsor di Cisarua Bandung Barat, Walhi: Negara Gagal Lindungi Warga -, Tribunnews

    9 min read

     

    Jeritan Warga Pecah saat Longsor di Cisarua Bandung Barat, Walhi: Negara Gagal Lindungi Warga

    Jeritan warga memecah keheningan di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu dini hari.

    Ringkasan Berita:
    • Bencana tanah longsor terjadi di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu dini hari.
    • Hingga kini, 10 warga menjadi korban meninggal dunia dan puluhan masih belum ditemukan.
    • Walhi menilai negara gagal melindungi warga dari kerusakan ekologis.

     

    TRIBUNNEWS.COM - Jeritan warga memecah keheningan di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat pada Sabtu (24/1/2026) sekira pukul 03.00 dini hari.

    Suara gemuruh dari tanah longsor itu begitu kencang. Warga terbangun dari tidurnya.

    "Ada suara gemuruh di kejadian pertama seperti (suara) pesawat, 30 menit setelahnya ada suara kayak jatuh, gebruk, itu kejadian kedua," ujar Eneng Rohaeni (38), salah satu warga setempat, Sabtu.

    Dilansir Tribun Jabar, Eneng mengungkapkan saat longsor pertama, puing-puing bangunan masih sempat tertahan.

    Warga masih sempat menyelamatkan diri. 

    "Baru (longsor) yang kedua, semua tidak ada yang bisa menyelamatkan diri," ungkapnya.

    Jeritan dan teriakan warga pecah.

    Rasa takut masih menyelimuti Eneng saat menceritakan kejadian mencekam itu.

    BERI KESAKSIAN - Eneng Rohaeni (38), salah satu warga Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memberikan kesaksiannya soal longsor di desanya, Sabtu (24/1/2026).
    BERI KESAKSIAN - Eneng Rohaeni (38), salah satu warga Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memberikan kesaksiannya soal longsor di desanya, Sabtu (24/1/2026). (TribunJabar.id/Adi Ramadhan Pratama)

    Ia takut untuk berdiam di dalam rumah. Meski rumahnya tidak terdampak langsung, Eneng bersama warga lainnya memutuskan untuk mengungsi.

    "Kata pihak desa harus mengungsi dulu, siaga 1. Katanya takut ada longsor susulanan. Soalnya ini dua Kampung Pasir Kuda sama Pasir Kuning. Saya ngungsi ke rumah saudara," ucapnya.

    Baca juga: Dua Kali Gemuruh di Tengah Malam, Longsor Pasirlangu Kabupaten Bandung Barat Sisakan Trauma Mendalam

    Eneng berharap pemerintah segera hadir membantu para korban.

    "Mudah-mudahan ada santunan buat korban yang meninggal. Juga kasian apalagi saudara jauh, rumah habis, kasian. Mudah-mudahan ada bantuan untuk keluarga korban," ujarnya.

    10 Korban Meninggal Dunia, Puluhan Masih Hilang

    Kapolres Cimahi, Jawa Barat, AKBP Niko Adi Putra, mengungkapkan pada Sabtu siang, terdapat 10 orang yang menjadi korban bencana longsor di daerah tersebut.

    Data tersebut masih akan berkembang.

    Material tanah yang bercampur air deras dari lereng Gunung Burangrang menerjang pemukiman warga secara mendadak saat sebagian besar penduduk tengah terlelap tidur.

    "Kurang lebih 24 orang yang sudah berhasil dilakukan evakuasi, kami nanti akan validkan datanya. Data sampai dengan saat ini di kami, datanya 10 (korban meninggal dunia), 21 selamat, kalau daftar (korban) hilang, data kami ada 89. Tentunya akan kami validkan datanya," papar Niko, Sabtu, dikutip dari YouTube Kompas TV.

    Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, Asep Sehabudin, mengatakan longsor di Cisarua itu diakibatkan karena curah hujan yang tinggi sejak Jumat (23/1/2026) siang hingga Sabtu malam.

    "Longsor tanah akibat curah hujan yang tinggi ya dari kemarin siang dan malam hari dan telah terjadi pada jam tadi jam 02.00 Waktu Indonesia Barat," ungkap Asep, Sabtu. dikutip dari YouTube tvOne.

    Selain itu, Asep menyampaikan, sebanyak 30 rumah tertimbun longsor.

    "Diperkirakan jumlah jiwanya 109 jiwa dan juga KK-nyaa 33," katanya.

    Asep mengatakan, TNI-Polri juga ikut diterjunkan untuk membantu mencari dan mengevakuasi korban.

    "Hari ini kita menurunkan dari TNI, Polri, dan juga BPBD serta lingkungan warga masyarakat untuk mencari korban yang dianggap hilang karena komposisinya rumahnya sudah hampir 30 rumah itu sudah tertimbun secara keseluruhan," ucapnya.

    "Kita terus mencari, cuma lokasi cuaca dan juga lumpur masih basah. Jadi kita dalam posisi masih hanya pencarian di pinggir-pinggir saja belum kita mencari yang lebih lanjut," sambungnya.

    Walhi: Negara Gagal Lindungi Warga

    Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menegaskan bencana longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat menilai negara gagal melindungi warganya dari bencana kerusakan ekologis.

    Menurut Walhilongsor di Cisarua merupakan konsekuensi langsung dari kejahatan tata ruang dan pembiaran kerusakan ekologis di Kawasan Bandung Utara (KBU). 

    Abi, tim Desk Disaster Walhi Jawa Barat menegaskan tragedi ini justru kembali membuktikan bahwa kebijakan pembangunan yang mengorbankan ruang terbuka hijau telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.

     Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Cisarua selama dua hari sering dijadikan alasan utama terjadinya longsor

    “Namun narasi tersebut adalah satu kesalahan berpikir yang sangat fatal, karena pada faktanya hujan hanyalah salah satu pemicu, sementara penyebab sesungguhnya adalah rusaknya daya dukung lingkungan akibat alih fungsi lahan dan penyusutan ruang terbuka hijau yang dibiarkan berlangsung secara sistematis,” kata Abi saat dihubungi Tribun Jabar, Sabtu (24/1/2026).

    Menurutnya longsor ini adalah salah satu potret telanjang kerusakan ekologis di Bandung Utara.

    “Longsor Cisarua memperlihatkan kehancuran ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air di Bandung Utara yang selama ini dibiarkan. Ketika fungsi ekologis dihancurkan, bencana bukanlagi kemungkinan, tetapi keniscayaan,” tegas Abi.

    Kawasan Bandung Utara sejatinya merupakan wilayah lindung strategis yangberfungsi menjaga keseimbangan ekologis Bandung Raya. 

    Namun fungsi tersebut telah dikorbankan demi kepentingan pembangunan yang eksploitatif. 

    “Negara gagal menjalankan mandat perlindungan lingkungan, sementara warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan dipaksa menanggung risiko yang tidak mereka ciptakan,” ucapnya.

    (Tribunnews.com/Gilan, Rifqah) (TribunJabar.id/Adi Ramadhan Pratama, Putri Puspita Nilawati)


    Komentar
    Additional JS