Konflik dengan Iran, Presiden AS Donald Trump Kini Ancam Rusia Cs - Merdeka
Konflik dengan Iran, Presiden AS Donald Trump Kini Ancam Rusia Cs
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan keputusan itu bersifat final dan mengikat, meski tidak merinci lebih jauh mekanisme penerapannya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam negara-negara yang tetap melakukan perdagangan dengan Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen atas seluruh aktivitas bisnis mereka dengan Amerika Serikat. Ancaman itu dilontarkan Trump melalui unggahan di media social, Senin (12/1/2026).
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan keputusan itu bersifat final dan mengikat, meski tidak merinci lebih jauh mekanisme penerapannya.
"Mulai sekarang juga, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif sebesar 25% untuk semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
Daftar Negara yang Memiliki Hubungan Dagang dengan Iran

Dilansir Aljazeera, Selasa (13/1/2026), hingga kini belum jelas negara mana saja yang akan terdampak. Namun, sejumlah ekonomi besar seperti Rusia, China, Brasil, dan Turki diketahui memiliki hubungan dagang dengan Iran. Negara tersebut juga tengah dilanda gelombang protes dan kerusuhan anti-pemerintah yang meluas dalam sepekan terakhir.
Irak dan Uni Emirat Arab juga tercatat sebagai mitra dagang penting Iran, berdasarkan basis data Trading Economics.
Trump Terus Ancam Iran
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump semakin meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Ia bahkan mengancam akan melancarkan serangan militer lanjutan jika Iran tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat untuk menghentikan program nuklir dan militernya.
“Sekarang, saya mendengar bahwa Iran mencoba untuk membangun kembali kekuatannya, dan jika mereka melakukannya, kita harus menjatuhkan mereka,” kata Trump kepada wartawan pada Desember 2025 lalu.
“Kita akan menjatuhkan mereka. Kita akan menghancurkan mereka. Tapi, mudah-mudahan, itu tidak terjadi,” kata Trump.
Pada Juni lalu, Amerika Serikat membom tiga fasilitas nuklir Iran sebagai bagian dari perang 12 hari yang diprakarsai oleh Israel. Sejumlah pakar hukum menilai serangan AS tersebut kemungkinan melanggar hukum internasional.
Opsi Serangan Udara

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, Senin waktu setempat menyatakan opsi serangan ke Iran salah satunya adalah serangan Udara.
“Serangan udara akan menjadi salah satu dari sekian banyak pilihan yang ada,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Trump masih membuka peluang diplomasi jika memungkinkan.
Trump juga mengecam tindakan keras pemerintah Iran terhadap para demonstran anti-pemerintah dan memperingatkan bahwa kekerasan terhadap warga sipil dapat memicu serangan militer Amerika Serikat.
Dalam unggahan tertanggal 2 Januari di Truth Social, Trump mengindikasikan bahwa ia akan mempertimbangkan opsi militer apabila para pengunjuk rasa dibunuh.
“Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami siap siaga dan siap bertindak,” tulisnya.
Ancaman tersebut muncul sehari sebelum Amerika Serikat melancarkan serangan militer di Venezuela yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Iran Sebut Unjuk Rasa Berubah Berdarah buat Beri Alasan AS Menyerang
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding gelombang protes nasional di negaranya telah berubah menjadi kekerasan dan berdarah untuk memberi alasan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan intervensi militer terhadap Iran.
Dalam pertemuan dengan para diplomat asing di Teheran, Senin (12/1/2026), Araghchi menyatakan bahwa eskalasi kekerasan meningkat tajam sepanjang akhir pekan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi saat ini sudah berada dalam kendali pemerintah.
Ia menilai peringatan Trump mengenai kemungkinan tindakan militer terhadap Teheran jika protes berubah menjadi berdarah justru memicu kelompok yang disebutnya sebagai “teroris” untuk menargetkan demonstran dan pasukan keamanan demi mengundang campur tangan asing.
"Kami siap untuk perang tetapi juga untuk dialog," tegasnya dilansir Aljazeera.
Klaim Iran Punya Rekaman Video Distribusi Senjata Kepada Para Demonstran

Araghchi juga mengklaim bahwa Iran memiliki rekaman video terkait distribusi senjata kepada para demonstran. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang akan segera merilis pengakuan para tahanan, serta menegaskan bahwa aparat keamanan mengikuti dengan cermat perkembangan situasi di jalanan.
Menurutnya, demonstrasi tersebut dipicu dan didorong oleh unsur-unsur asing. Ia menegaskan pasukan keamanan akan memburu pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Gelombang protes yang terus meluas di Iran kini memasuki minggu ketiga, di tengah pemadaman internet nasional serta ancaman intervensi militer yang berulang kali dilontarkan oleh Presiden Donald Trump.
Jika Iran Diserang, Israel dan Semua Pangkalan Serta Kapal AS Jadi Target Sah
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat dan Israel berupaya menabur kekacauan dan ketidaktertiban di Iran dengan memerintahkan terjadinya kerusuhan. Ia juga mengimbau masyarakat Iran untuk menjauhkan diri dari apa yang disebutnya sebagai perusuh dan teroris.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan kesalahan perhitungan. Pernyataan itu disampaikannya menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyebut akan melancarkan serangan militer jika otoritas Iran membunuh para demonstran.
"Mari kita perjelas: Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita,” kata mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam itu saat berbicara di parlemen, Minggu (11/1/2026) dilansir Aljazeera.