Korban Tewas Demo di Iran Bisa Capai 1.000, Lebih Parah dari Protes Mahsa Amini - Serambinews
Korban Tewas Demo di Iran Bisa Capai 1.000, Lebih Parah dari Protes Mahsa Amini - Serambinews.com
SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Jumlah korban tewas dalam demo anti-pemerintah yang meluas di Iran kali ini diperkirakan mencapai 1.000 orang, lebih parah dari protes kematian Mahsa Amini pada 2022.
Hingga Minggu (11/1/2026), sedikitnya 544 orang meninggal dunia sejak gelombang unjuk rasa dimulai pada akhir Desember 2025.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat (AS) mencatat, angka tersebut melonjak drastis dari 116 korban jiwa yang tercatat sehari sebelumnya, Sabtu (10/1/2026).
Organisasi itu juga mengungkapkan bahwa sebanyak 579 laporan kematian tambahan masih dalam proses verifikasi.
Jika laporan tersebut terbukti, maka total korban jiwa dapat mencapai 1.123 orang.
Jumlah tersebut lebih banyak dari korban tewas dalam demo kematian Mahsa Amini, yang menurut Al Jazeera merenggut nyawa tak kurang dari 500 demonstran, dan lebih dari 20.000 orang ditangkap.
Mahsa Amini adalah gadis Kurdi berusia 22 tahun yang ditangkap polisi moral karena diduga melanggar aturan ketat berpakaian bagi perempuan.

Ia dilaporkan meninggal dalam tahanan karena tindakan keras aparat, memicu api amarah massa.
Situasi demo Iran terkini
Selain jatuhnya korban tewas, lebih dari 10.681 orang dilaporkan telah ditangkap dan dipindahkan ke penjara di berbagai provinsi di Iran.
Sky News menyebutkan, sebagian besar korban meninggal akibat tembakan peluru tajam dan peluru karet dari jarak dekat.
Di Ibu Kota Teheran, stasiun televisi pemerintah menayangkan gambar puluhan kantong jenazah yang disimpan di kantor forensik.
Tayangan lain menunjukkan kerumunan warga berkumpul di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak untuk mengidentifikasi anggota keluarga mereka yang tewas dalam kerusuhan.
Pemadaman komunikasi di 31 provinsi membuat situasi di lapangan sulit dipantau secara menyeluruh. Gelombang protes awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial.
Unjuk rasa kini telah berkembang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi rezim Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Pernyataan Presiden Iran
Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya menanggapi eskalasi krisis yang terjadi di negaranya.
Dalam wawancara dengan media nasional yang berafiliasi dengan pemerintah, Pezeshkian menyebut bahwa aksi kekerasan dilakukan oleh oknum yang memiliki keterkaitan dengan kekuatan asing.
Ia menuding kelompok tersebut terlibat dalam pembunuhan warga sipil, pembakaran tempat ibadah, serta perusakan fasilitas umum.
“Musuh-musuh Iran sedang mencoba menabur kekacauan dan ketidaktertiban dengan memerintahkan kerusuhan,” kata Pezeshkian.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa pemerintah tetap terbuka untuk mendengarkan suara rakyat.
Pezeshkian menyampaikan komitmen pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ekonomi yang menjadi pemicu keresahan masyarakat.
Ia juga menyerukan agar masyarakat menjauh dari kelompok yang disebutnya sebagai perusuh dan teroris karena dianggap ingin menghancurkan struktur sosial Iran.