0
News
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Mahathir Mohamad Spesial

    Mahathir Mohamad: Kekacauan 2025 Berlanjut di 2026, Donald Trump Biang Keroknya - SindoNews

    3 min read

      

    Mahathir Mohamad: Kekacauan 2025 Berlanjut di 2026, Donald Trump Biang Keroknya

    Selasa, 06 Januari 2026 - 11:50 WIB

    Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad sebut tahun 2026 masih akan menjadi tahun kekacauan, yang sebagian besar disebabkan oleh Presiden AS Donald Trump. Foto/Sinar Daily/Asril Aswandi
    A
    A
    A
    KUALA LUMPUR - Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad, merasa tahun 2026 akan menjadi tahun yang mengkhawatirkan. Menurutnya, kekacauan tahun lalu akan berlanjut pada tahun ini dan penyebabnya adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    "Ini adalah tahun 2026 dan kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi di tahun baru ini," tulis Mahathir dalam artikelnya di Sinar Daily.

    "Satu hal yang pasti: kekacauan tahun 2025 akan berlanjut di tahun 2026. Sebagian besar, kekacauan itu disebabkan oleh satu orang—Presiden Amerika Serikat. Donald Trump, yang memenangkan masa jabatan kedua, telah membalikkan seluruh dunia," lanjut dia.

    Baca Juga: Mahathir Mohamad: PM Anwar Ibrahim Menyerahkan Malaysia kepada AS, Langkah Bodoh!

    Menurutnya, apa yang telah dilakukan Trump telah mengubah dunia multipolar menjadi dunia unipolar. "Dia praktis telah menyatakan perang terhadap semua negara di dunia, besar dan kecil. Dia ingin menjadikan Amerika Serikat hebat kembali," papar Mahathir.

    Mahathir mengutip klaim Trump bahwa dunia telah menipu Amerika Serikat. "Menurut Trump, dunia telah menggunakan AS sebagai pasar untuk membuang semua jenis produk. Menurutnya, dunia telah diperkaya dengan mengeksploitasi pasar AS," tulis PM ke-4 dan ke-7 Malaysia tersebut.

    Dengan klaim itu, Trump memutuskan untuk menerapkan tarif tinggi pada impor ke AS untuk mengurangi defisit yang diderita negaranya. Dia ingin semua perusahaan Amerika di luar negeri kembali ke AS.

    "Perusahaan-perusahaan ini akan menciptakan lapangan kerja bagi warga Amerika dan berhenti bergantung pada impor. Untuk itu, dia telah menaikkan tarif hingga 150 persen," papar Mahathir.

    "Sayangnya bagi Trump, tarif tinggi telah meningkatkan biaya di AS. Hanya orang kaya yang menikmati kehidupan yang baik di sana, sementara orang miskin menderita."

    Lebih lanjut, politisi senior Malaysia mengecam sepak terjang AS di dunia internasional, di mana Washington mendestabilisasi negara-negara dengan mempromosikan perubahan rezim.

    "AS mendukung perang saudara dengan dana dan senjata. Bantuan kepada negara-negara miskin telah dihentikan. Kekurangan makanan dan obat-obatan kini memengaruhi negara-negara tersebut," terang Mahathir.

    "Akibatnya, terjadi migrasi massal ke negara-negara maju yang stabil. Negara-negara ini sekarang harus menghadapi berbagai masalah yang disebabkan oleh para migran."

    Contoh terbaru AS adalah meluncurkan operasi militer di Venezuela yang berujung dengan penculikan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores pada Sabtu pekan lalu. Tindakan AS ini jelas melanggar hukum internasional, terlebih Maduro sebagai kepala negara memiliki kekebalan.

    Mahathir juga mengkritisi apa yang terjadi di Malaysia, di mana partai-partai yang kalah dalam pemilu justru membentuk pemerintahan. "Mereka tampaknya tidak mampu mengatasi inflasi dan masalah politik. Mereka membatasi diskusi tentang ras, agama, dan para penguasa. Mereka menyensor pers," kritik Mahathir.

    Menurutnya, tahun 2026 akan menyaksikan kelanjutan pemerintahan pimpinan PM Anwar Ibrahim yang dia sebut buruk. "Protes rakyat akan terus diabaikan. Para pelapor akan diselidiki dan dikenai tekanan pemerintah. Korupsi merajalela. Anggota Parlemen akan menghadapi penangguhan jika mereka berbicara," imbuh Mahathir.

    Dia kembali mengecam penandatanganan perjanjian pemerintah PM Anwar Ibrahim dengan AS, yang menurutnya, telah membuat Malaysia kehilangan kemerdekaannya. "Sekarang Malaysia harus mengikuti kebijakan luar negeri Amerika, termasuk memperlakukan China sebagai musuh potensial," lanjut Mahathir.
    (mas)
    Komentar
    Additional JS