0
News
    Home Berita Disdik Featured Kasus Makan Bergizi Gratis Spesial SPPG

    MBG Diantar ke Sekolah Tanpa Siswa, Kepala SPPG Bantah Penyaluran Fiktif, Disdik Singgung Jadwal - Tribunnews

    10 min read

     

    MBG Diantar ke Sekolah Tanpa Siswa, Kepala SPPG Bantah Penyaluran Fiktif, Disdik Singgung Jadwal

    Video menunjukkan petugas SPPG menyalurkan MBG ke sekolah yang sepi tidak ada siswa, viral di media sosial.

    MBG Diantar ke Sekolah Tanpa Siswa, Kepala SPPG Bantah Penyaluran Fiktif, Disdik Singgung Jadwal
    Ringkasan Berita:
    • Video menunjukkan petugas SPPG menyalurkan MBG ke sekolah yang sepi tidak ada siswa, viral di media sosial.
    • Disdik telah memanggil pihak sekolah terkait masalah ini.

    TRIBUNJATIM.COM - Sebuah video yang menunjukkan petugas SPPG menyalurkan MBG ke sekolah yang sepi tidak ada siswa, viral di media sosial.

    Dalam video yang beredar tersebut juga terlihat, terdapat seorang guru yang merokok di teras kelas.

    Sedangkan dua guru lainnya di dalam kelas menyalakan musik dangdut menggunakan smartboard.

    Baca juga: Kalah dari Pegawai Dapur MBG, Eko Tak Lagi Jadi Honorer Meski Lama Mengabdi: Sakit Jiwa Pemerintah

    Adapun penyaluran Makan Bergizi Gratis tersebut terjadi di SDN Batuporo Timur 1Kecamatan KedungdungKabupaten Sampang, Jawa Timur.

    Dalam narasi yang beredar di media sosial, tidak ada siswa yang masuk di sekolah tersebut.

    Merespons viralnya video tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten SampangMoh Yusuf, mengatakan bahwa pihaknya telah memanggil pihak sekolah.

    Hasilnya, sekolah menyatakan bahwa MBG yang diterima disalurkan ke siswa penerima manfaat.

    "Menurut keterangan sekolah, siswa itu mengambil sepulang madrasah," ujar Yusuf, Kamis (22/1/2026).

    Yusuf mengatakan, menurut data pokok pendidikan (Dapodik), ada sebanyak 33 siswa penerima MBG di SDN Batuporo Timur 1.

    Namun, 33 siswa tersebut setiap pagi bersekolah di madrasah atau sekolah swasta berbasis agama yang ada di sekitar SDN Batuporo Timur 1.

    Saat madrasah tersebut libur di hari Jumat, siswa akan masuk ke sekolah formal.

    "Siswa itu masuk ke sekolah hari Jumat. Kalau di luar hari Jumat, mereka belajar di madrasah. Namun, MBG-nya tetap diambil ke sekolah," kata Yusuf.

    Dia pun menyayangkan adanya kondisi tersebut.

    Yusuf menduga, ada tekanan dari salah satu pihak yang mengakibatkan siswa tidak bisa masuk sekolah secara rutin tiap hari.

    "Selanjutnya, kami akan berdialog dengan warga sekitar, apakah sekolah ini masih diperlukan atau tidak. Jika tidak, akan kami tutup," ujarnya.

    Sementara itu, Sekretaris Satgas MBG Kabupaten SampangSudarmanto, mengatakan bahwa penyaluran MBG ke sekolah tersebut dihentikan oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sementara waktu.

    "Sudah distop sejak kemarin lusa. Mulai penyaluran lagi ke sana ya nunggu hasil pemeriksaan dari inspektorat nanti seperti apa," kata Sudarmanto.

    Baca juga: Makan Nasi Cuma Pakai Lauk Snack Dibagi Bertiga, Kisah Pekerja WNI Bikin Orang Malaysia Pilu

    Terpisah, Kepala SPPG Shavina-Shavira Sampang, Hoiruman mengaku, tak ada penyaluran MBG fiktif di sekolah tersebut.

    Sebab, sejak awal penyaluran, pihaknya memiliki dokumentasi sebagai bukti adanya siswa yang menerima makanan tersebut.

    "Kami sudah memvalidasi terkait pengiriman MBG dan MoU, bahwasanya siswa ini ada. Pengiriman awal di 16 September 2025, sudah ada dokumen pengiriman dan siswa makan MBG. Foto dan video lengkap," ujarnya.

    MBG bukan bisnis

    Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Dadang Hendrayudha, menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar bisnis, tetapi juga kemanusiaan.

    Ia meminta pada seluruh pelaksana program MBG ini untuk memperhatikan hal itu.

    Mengingat program ini memberikan dampak luas terhadap masyarakat.

    Selain menghidupkan perekonomian masyarakat, juga membuka lapangan pekerjaan.

    "Saya berharap ibu-ibu, yayasan, maupun mitra ini (MBG) bukan hanya sekadar bisnis. Tapi ini masalah kemanusiaan," kata Dadang di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (16/1/2026) malam.

    "Jadi uang yang bapak (pengusaha) miliki investasikan untuk mendukung program MBG bisa dirasakan adik-adik kita. Ingat masyarakat Indonesia belum semuanya beruntung," imbuhnya.

    Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Magetan, mencatat 30 SPPG belum dapat melayani masyarakat karena terkendala pencairan dana operasional dari pemerintah pusat. Baru 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kembali aktif setelah libur sekolah akhir tahun 2025.
    Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Magetan, mencatat 30 SPPG belum dapat melayani masyarakat karena terkendala pencairan dana operasional dari pemerintah pusat. Baru 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kembali aktif setelah libur sekolah akhir tahun 2025. (KOMPAS.COM/SUKOCO)

    Dia mengajak pengusaha untuk berinvestasi dalam program MBG.

    Dengan membuka dapur SPPG, mereka dapat membantu masyarakat sekitar.

    Tidak hanya menghidupkan perekonomian masyarakat, tapi juga membuka lapangan pekerjaan.

    "Tapi yang jelas dengan bapak menginvestasikan uang bapak ini semua berkah."

    "Bapak menjadi pengusaha-pengusaha kecil yang bisa membantu masyarakat di sekitar bapak memberikan pekerjaan," katanya.

    Baca juga: Nasib Status WNI Syifa usai Jadi Tentara AS Pakai Green Card, Anggota DPR Ungkap Potensi Pelanggaran

    Dadang mengajak pemerintah daerah, terutama di wilayah Soloraya, untuk mendukung program MBG.

    Untuk mencukupi kebutuhan dapur, Dadang juga meminta Pemda untuk memberdayakan masyarakat.

    Di wilayah Soloraya terdapat ratusan dapur SPPG.

    "Multipliernya apa, dapur ini butuh sayur, dapur ini butuh telur, dapur ini butuh ayam, butuh banyak sekali. Satu dapur kalau itu ayam kurang lebih 390 kg, kalau butuh lele sesuai jumlah itu berapa kilo," kata dia.

    "Artinya kalau di Soloraya ini ada 596 SPPG ini tugasnya pemerintah daerah untuk memberdayakan masyarakat."

    "Masyarakat petani, nelayan, peternak ayam, peternak ikan, kalau perlu ajak pengusaha-pengusaha lokal untuk mengembangkan itu," sambung dia.

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap diberikan dan dimakan para wali murid yang kerja bakti usai sekolah MI Mabruk Qur'an terkena imbas banjir dan longsor di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Kamis (22/1/2026)
    Ilustrasi program Makan Bergizi Gratis (Tribun Jatim Network/Purwanto)

    Bupati Boyolali, Agus Irawan mengatakan, SPPG Gagaksipat menjadi pioner dalam program MBG di wilayah Boyolali, khususnya di Kecamatan Ngemplak.

    Terdapat empat SPPG di bawah naungan Yayasan Bangun Gizi Nusantara.

    "Pertama mungkin yang ada di Boyolali dengan mencukupi percontohan yang ada di Kecamatan Ngemplak. Hampir Pak Puspo di Kecamatan Ngemplak mendirikan SPPG. Ada empat. Dan mencukupi (MBG) Kecamatan Ngemplak," kata Agus.

    Agus juga mengatakan, dapur SPPG di Boyolali sudah mencapai 80 persen.

    Terdapat 98 dapur SPPG tersebar di seluruh wilayah Boyolali.

    Kemudian lanjut Agus selama pelaksanaan MBG tidak pernah ditemukan kasus.

    Artinya, kata Agus dapur SPPG di Boyolali harus terus menjaga agar menu makanan yang didistribusikan kepada penerima manfaat di Boyolali aman dan bergizi.

    "Kita kabupaten dengan SPPG-nya, MBG-nya yang tidak pernah ada masalah atau kasus. Ini yang harus benar-benar kita perhatikan bersama," ungkap dia.


    Komentar
    Additional JS