0
News
    Home Berita Featured Gaza Menlu Spesial

    Menlu RI: Gaza adalah Contoh Kenyataan Pahit, Indonesia Tak Boleh Diam - Kompas

    3 min read

     

    Menlu RI: Gaza adalah Contoh Kenyataan Pahit, Indonesia Tak Boleh Diam

    Kompas.com, 14 Januari 2026, 18:12 WIB

    Lihat Foto

    JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyoroti krisis di Gaza Palestina  sebagai krisis yang masih berlarut-larut tanpa adanya upaya nyata dari dunia untuk menghentikannya.

    “Dan Gaza adalah contoh dari kenyataan pahit tersebut,” ujar Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

    Sugiono menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap konflik yang dialami oleh Palestina.

    “Arahan beliau jelas, bahwa Indonesia tidak boleh diam ketika kemanusiaan dilanggar secara terang-terangan,” kata Sugiono.

    Momen Menlu Sugiono Gugup Saat Pidato di Hadapan Para Senior

    Sejak awal, Indonesia memilih terlibat dalam berbagai upaya internasional untuk merespons krisis di Gaza.

    Salah satunya dengan menjadi co-chair atau ketua bersama dalam working group, yakni kelompok kerja, yang menghasilkan New York Declaration atau Deklarasi New York.

    Indonesia juga terlibat aktif dalam mendorong implementasi hasil Riyadh Summit, yakni Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Riyadh, yang membahas isu Palestina.

    Dalam konteks tersebut, Indonesia disebut turut berperan aktif dalam pembahasan pembentukan International Stabilization Force (ISF) atau Pasukan Stabilisasi Internasional.

    ISF dipandang sebagai langkah transisional atau sementara untuk memastikan terjadinya gencatan senjata permanen, sekaligus membuka akses bantuan kemanusiaan bagi warga sipil di Gaza.

    Solusi dua negara

    Tetap, Indonesia konsisten dengan tujuan mewujudkan solusi dua negara untuk mengakhiri konflik di Gaza, yakni mewujudkan dua negara Palestina dan Israel yang sama-sama saling mengakui.

    “Namun, ISF ini merupakan instrumen sementara. Perdamaian melalui solusi dua negara merupakan tetap merupakan tujuan akhir,” ujar dia.

    “Karena bagi Indonesia, kemerdekaan kedaulatan Palestina adalah bagian dari amanat konstitusi yang harus kita perjuangkan,” tambahnya.

    Baginya, Palestina adalah pengingat bahwa diplomasi tidak boleh kehilangan nuraninya.

    Sugiono menegaskan, diplomasi Indonesia akan selalu hadir dengan prinsip, konsistensi, dan keberanian dalam setiap langkah menuju terwujudnya Palestina yang damai, berdaulat, dan merdeka.

    Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
    Komentar
    Additional JS