Persiapan Ramadan! Stop Buka Puasa Makan Kolak dan Es Buah Berlebihan, Ini Cara Pelan Menguranginya - Tribunnews
Ramadan sebentar lagi, momen sahur dan berbuka puasa pun kerap dirindukan. Sayang kita kerap kalap takjil manis. Ini bahaya.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Puasa Ramadan tak lama lagi, momen buka puasa kerap dirindukan.
- Makanan manis pun di depan mata.
- Sayang, kadang kita kalap, berbuka dengan makanan dan minuman manis secara berlebihan.
- Ini ternyata bisa menjadi masalah kesehatan jika tidak dikendalikan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ramadan sebentar lagi, momen sahur dan berbuka puasa pun kerap dirindukan.
Namun sayang, buka puasa kerap identik dengan rasa manis tapi membuat kita kalap.
Mulai dari teh manis, kolak, hingga es krim, seolah menjadi menu wajib yang tak boleh terlewatkan saat azan Magrib berkumandang.
Namun kebiasaan berbuka dengan makanan dan minuman manis secara berlebihan ternyata bisa menjadi masalah kesehatan jika tidak dikendalikan.
Dokter Umum dr. Irwan Heriyanto, MARS, menegaskan bahwa kebiasaan ini sebenarnya bisa dikurangi secara bertahap, bahkan sebelum Ramadan dimulai.
Buka Puasa Tak Harus Selalu Manis

Menurut dr. Irwan, persepsi bahwa buka puasa harus diawali dengan makanan manis perlu diluruskan.
Tubuh tidak selalu membutuhkan tambahan gula dari luar, karena sumber energi sebenarnya sudah tersedia dari makanan pokok.
“Karena kalau misalnya manis itu hanya untuk normal saja sebetulnya nggak sama. Tapi kalau kita berkebanyakan, sebenarnya rasa manis itu nggak yang manis saja itu sudah bisa membentuk gula di dalam tubuh kita. Contohnya, nasi ya,"ungkapnya dalam acara Halodoc Talks by Halodoc: Menjembatani Kesiapan dan Tantangan Kesehatan Selama Ramadan hingga Perayaan Idulfitri di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, nasi sebagai sumber karbohidrat akan dipecah menjadi gula di dalam tubuh.
Artinya, tanpa konsumsi makanan manis tambahan pun, kebutuhan energi tubuh sebenarnya sudah tercukupi.
*Karbohidrat Bukan Musuh, Asal Tak Berlebihan*
Tren menghindari nasi demi mengurangi gula juga dinilai kurang tepat jika dilakukan tanpa pemahaman yang benar. Karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh, terutama saat berpuasa.
“Nasi itu kan karbohidrat. Itu karbohidrat itu kalau dipecah-dipecah jadi gula. Untuk kebutuhan kesehatan kita sebenarnya sudah cukup banget,"imbuhnya.
Karena itu, dr. Irwan menilai pengaturan porsi jauh lebih penting dibandingkan menghilangkan jenis makanan tertentu.
Mengganti kebiasaan makan nasi dengan sayur, tanpa menambah asupan manis berlebihan, bisa menjadi langkah awal yang lebih seimbang.
*Rasa Manis Hanya Sensasi, Bukan Kebutuhan Tubuh*
Salah satu alasan sulitnya menahan keinginan makan manis saat berbuka adalah karena sensasi rasa di mulut.
Padahal, efek manis tersebut tidak benar-benar dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar.
“Sebenarnya dengan yang lain-lain itu sebenarnya nggak. Itu cuma merasanya di mulut saja. Lewat dari leher sini nggak ada manis sebetulnya,"lanjutnya.
Menurut dr. Irwan, keinginan makan manis sering kali berhenti di lidah.
Setelah ditelan, tubuh tidak membedakan apakah rasa tersebut berasal dari gula tambahan atau dari pemecahan karbohidrat.
*Mindset Cukup, Kunci Menahan Konsumsi Manis
Mengurangi kebiasaan makan manis bukan berarti harus pantang total. Dr. Irwan menekankan pentingnya mengubah pola pikir, dari “ingin banyak” menjadi “cukup”.
Mencicipi makanan manis sesekali masih diperbolehkan, selama tidak berlebihan.
Mengambil porsi kecil, menikmati secukupnya, lalu berhenti, dinilai jauh lebih sehat dibandingkan mengonsumsi dalam jumlah besar sekaligus.
Dengan membangun kebiasaan ini sebelum puasa, tubuh akan lebih mudah beradaptasi saat Ramadan tiba.
Buka puasa pun tetap nikmat, tanpa harus bergantung pada gula berlebih yang justru berisiko bagi kesehatan.