0
News
    Home Berita Featured Juara Olimpiade Matematika Pencak Silat Pendidikan Sekolah Rakyat Spesial

    Siswa Miskin yang Tadinya Tak Punya Harapan Kini Sukses Ukir Prestasi di Sekolah Rakyat, Olimpiade Matematika hingga Silat - Liputan6

    4 min read

     

    Siswa Miskin yang Tadinya Tak Punya Harapan Kini Sukses Ukir Prestasi di Sekolah Rakyat, Olimpiade Matematika hingga Silat

    Siswa dan siswi Sekolah Rakyat mulai berprestasi di berbagai bidang, dari olahraga, seni, hingga akademik.

    oleh Muhammad Farih FananiDiterbitkan 12 Januari 2026, 21:13 WIB
    Share
    Air Mata Haru di Banjarbaru, Anggun dan Aditya Akhirnya Bisa Sekolah Lagi Berkat Sekolah Rakyat
    Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) hadir di tengah calon siswa Sekolah Rakyat tahap 1C di Kota Banjarbaru. (Sumber: Kemensos)

    Liputan6.com, Jakarta - Program Sekolah Rakyat mulai menunjukkan progres nyata. Para siswa dan siswi yang berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrim yang tadinya terpentok biaya untuk mengenyam pendidikan mulai memperlihatkan capaian konkret di berbagai bidang, dari olahraga, seni, hingga akademik. 

    Hal itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat peresmian 166 Sekolah Rakyat yang dipusatkan di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1). Menurut Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah, Sekolah Rakyat dirancang sebagai ekosistem pendidikan yang memungkinkan anak-anak dari kelompok paling rentan tumbuh dan menemukan potensinya.

    BACA JUGA:

    Dalam beberapa bulan berjalan, capaian siswa Sekolah Rakyat tercermin dari berbagai prestasi di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Di bidang olahraga, siswa Sekolah Rakyat meraih gelar juara dalam kejuaraan pencak silat, karate, taekwondo, gulat, hingga atletik. 

    Di Jawa Barat dan Bengkulu, misalnya, siswa Sekolah Rakyat menorehkan prestasi pada kejuaraan silat dan karate tingkat daerah. Di Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Selatan, siswa Sekolah Rakyat mencatatkan kemenangan dalam ajang taekwondo, lomba lari, hingga kompetisi poster nasional.

    Capaian serupa juga terlihat di bidang seni dan akademik. Sejumlah siswa berhasil meraih penghargaan dalam lomba hadrah dan seni Qur’ani, sementara yang lain menembus festival cerpen nasional serta lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Di Lombok Barat, seorang siswa Sekolah Rakyat bahkan masuk sepuluh besar Olimpiade Matematika, Sains, dan Bahasa Inggris tingkat nasional tahun 2025.

    Sekolah Rakyat Tidak Hanya Memberikan Pendidikan Formal

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, capaian tersebut bukan sekadar soal kemenangan dalam lomba, melainkan cerminan dari perubahan mendasar yang dialami siswa Sekolah Rakyat.

    “Ketika anak-anak mendapatkan rasa aman dan diperhatikan, mereka tumbuh,” ujar Gus Ipul. 

    Ia menambahkan, sejak awal siswa Sekolah Rakyat dipetakan potensinya melalui pendekatan berbasis talenta. “Melalui pemetaan talenta, kami menemukan potensi yang sangat beragam. Ada yang kuat di bidang sains dan teknologi, ada yang menonjol di bidang sosial, dan ada pula yang berbakat di bidang bahasa,” katanya.

    Sekolah Rakyat merupakan program inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang dirancang secara gratis berasrama untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang selama ini kerap luput dari sistem pendidikan formal. Saat ini, Sekolah Rakyat telah tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota dengan total 166 titik sekolah.

    Sebagian besar siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan tingkat kerentanan ekonomi tinggi. Sekitar 60 persen orang tua siswa bekerja di sektor informal dengan penghasilan tidak tetap, dan 67 persen keluarga berpenghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan. Banyak di antara siswa tersebut sebelumnya mengalami putus sekolah, bahkan belum pernah mengenyam pendidikan formal.

    Gus Ipul menyebutkan, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan formal, tetapi juga membangun ekosistem perlindungan, pemulihan, dan pemberdayaan. Anak-anak mendapatkan pemenuhan gizi, layanan kesehatan, pembinaan karakter, serta pendampingan psikososial. Pendekatan ini, menurut dia, menjadi fondasi penting bagi munculnya prestasi dan keberanian siswa untuk bermimpi lebih tinggi.

    “Sekolah Rakyat dirancang agar anak-anak tidak berhenti di bangku sekolah, tetapi memiliki peluang melanjutkan pendidikan atau meniti masa depan yang lebih baik sesuai minat dan bakatnya,” ujar Gus Ipul.

    Pemerintah berharap, capaian prestasi para siswa Sekolah Rakyat ini menjadi penanda awal bahwa pendidikan yang inklusif dan berkeadilan mampu membuka ruang mobilitas sosial bagi anak-anak dari keluarga paling miskin, sekaligus menegaskan kehadiran negara dalam menyiapkan masa depan mereka.

    Share
    Komentar
    Additional JS