Sudewo Tersangka, Warga Pati Lepas 7 Kambing dan 7 Ayam, Titip Pesan Khusus ke Presiden Prabowo - Tribunnews
Sudewo Tersangka, Warga Pati Lepas 7 Kambing dan 7 Ayam, Titip Pesan Khusus ke Presiden Prabowo
LSM Gerakan Jalan Lurus Kab Pati gelar kegiatan bernuansa simbolis dan filosofis rayakan Sudewo jadi tersangka, lepas 7 kambing dan 7 ayam putih
Ringkasan Berita:
- Penetapan Bupati Pati Sudewo sebagai tersangka tuai reaksi beragam.
- Teranyar, Minggu sore (25/1/2026) LSM Gerakan Jalan Lurus (GJL) Kab Pati gelar kegiatan bernuansa simbolis dan filosofis rayakan Sudewo jadi tersangka dengan melepas 7 kambing dan 7 ayam putih.
- LSM ini juga menitipkan pesan khusus untuk Presiden Prabowo Subianto.
TRIBUNNEWS.COM, PATI - Minggu sore (25/1/2026), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Jalan Lurus (GJL) Kabupaten Pati memilih menggelar kegiatan yang lebih bernuansa simbolis dan filosofis.
Mereka melepas tujuh ekor kambing dan tujuh ekor ayam.
Kegiatan ini dilangsungkan di lapangan Desa Karangwotan, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati.
Diketahui penetapan Bupati Pati (Nonaktif) Sudewo sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memicu beragam reaksi dari masyarakat.
Pada Jumat lalu (23/1/2026), ribuan orang mengikuti Tasyakuran Rakyat yang diinisiasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dan Gerakan Aktivis Pati (GAP).
Mereka berdoa bersama, potong tumpeng, kemudian makan bersama. Ada pula yang menunaikan nazar dengan bercukur gundul dan berlari keliling alun-alun.
Makna Lepas 7 Sapi dan 7 Ayam Putih
Ketua Umum LSM GJL, Riyanta, berdiri di hadapan massanya dengan pesan yang lugas namun filosofis.
Dalam sebuah acara syukuran yang ditandai dengan simbolisme tujuh ekor kambing dan ayam, Riyanta menyerukan pembersihan besar-besaran terhadap praktik korupsi di Indonesia, dimulai dari tanah Pati.
Baca juga: 2 Karangan Bunga untuk Bupati Pati Sudewo: Selamat dan Sukses Wisuda di Gedung Merah Putih
Riyanta mengawali orasinya dengan mengingatkan pentingnya kesadaran akan asal-usul kehidupan atau sangkan paraning dumadi.
Ia menekankan bahwa selama manusia masih diberi napas, maka sudah kewajibannya untuk menjadi pribadi yang baik dan tidak merugikan sesama.
"Jangan menjadi manusia yang jahat, jangan menjadi manusia-manusia yang suka memakan manusia," tegas Riyanta di hadapan para anggota GJL.
Ada pemandangan unik dalam acara tersebut, yakni kehadiran tujuh ekor kambing.
Riyanta menjelaskan bahwa kambing-kambing tersebut bukanlah sekadar ternak, melainkan simbol rakyat kecil atau "wedhus gembel".
Terinspirasi dari kutipan legendaris Bung Karno tentang pemuda, Riyanta melontarkan tantangan baru.
"Bagi Gerakan Jalan Lurus, berikan saya 7 ekor kambing, nanti akan saya kembalikan menjadi 7 ekor harimau," ujarnya.
Metafora ini merujuk pada tekadnya untuk membina masyarakat kecil agar memiliki keberanian dan "jiwa ksatria" dalam melawan penyimpangan.
Baca juga: Detik-detik Pintu Tralis Dibuka Penyidik KPK 6 Jam Geledah Kantor dan Rumah Dinas Bupati Pati Sudewo
Riyanta juga menyinggung realita pahit di Kabupaten Pati yang menurutnya sudah berlangsung puluhan tahun, yakni praktik pungutan liar dalam pengisian perangkat desa hingga CPNS.
Menurut mantan anggota Polri ini, sejak tahun 80-an hingga era reformasi, jabatan-jabatan tersebut seringkali "tidak gratis".
"Berkaitan dengan kecurangan dalam pengisian perangkat desa, saya sampaikan di forum ini, sejak tahun 80-an yang namanya pengisian perangkat ya praktiknya tidak gratis. Kemudian dilanjutkan ke era reformasi sampai kemarin peristiwanya Pak Sudewo juga tidak gratis. Ini kesalahan kita semua, kita harus mawas diri tidak perlu menyalahkan siapa pun tapi kita harus mencari solusi yang terbaik," papar dia.
Dia memperingatkan bahwa jika masyarakat tidak melawan, maka anak cucu mereka yang berprestasi namun tidak memiliki uang akan terus terpinggirkan.
Pesan Khusus untuk Presiden Prabowo: 2026 Momentum Pembersihan Nasional Kejahatan Jabatan
Lebih lanjut, Riyanta menitipkan pesan kuat bagi Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta agar tahun 2026 menjadi momentum pembersihan nasional terhadap oknum-oknum yang mengkhianati negara melalui kejahatan jabatan.
Ia mengatakan bahwa langkah pembersihan ini harus dimulai dengan memperkuat aparat penegak hukum seperti Polri, Kejaksaan, hingga KPK.
"Saya sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto, terus Pak Prabowo untuk membersihkan. Tahun 2026 ini, berangkat dari Pati, lakukan pembersihan terhadap siapapun yang mengotori dan mengkhianati negara," serunya.
Baca juga: Sudewo Jadi Pintu Masuk, KPK Beri Sinyal Kejar 19 Anggota Komisi V DPR Lain di Kasus Suap DJKA
Dalam kesempatan itu, Riyanta juga menceritakan kegagalannya mencari tujuh ekor ayam hitam mulus selama tiga hari.
Kegagalan tersebut justru memberinya perenungan mendalam bahwa hal-hal yang "hitam" atau gelap di negeri ini memang harus diisolasi.
"Sing ireng-ireng iku kudu dikrangkeng (yang hitam-hitam itu harus dikurung)," cetusnya.
Sebagai gantinya, ia melepaskan tujuh ayam putih sebagai simbol kesucian dan kejernihan hati.
"Jadi oleh karena itu saya berharap pada Pak Presiden Prabowo Subianto segala bentuk kejahatan, terutama yang berkaitan dengan kejahatan-kejahatan jabatan, harus dihentikan dan pelakunya harus dikerangkeng. Simbol ayam putih ini, siapa pun manusia pasti punya hati yang jernih. Ini lambang kesucian, ini lambang kebersihan," tegas dia.

Menurutnya, acara yang diinisiasi oleh GJL Pati di bawah prakarsa Kaswin ini adalah bentuk syukur atas harapan baru bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Pati yang lebih lurus, sesuai dengan pedoman Pancasila dan UUD 1945.
Riyanta menutup orasinya dengan mengajak masyarakat untuk tidak lagi menjadi penonton yang pasif, melainkan aktif melakukan pengawasan terhadap pembangunan, termasuk penggunaan dana desa yang sering menjadi sorotan negatif di tengah masyarakat.
Untuk diketahui, tujuh kambing dan ayam yang dilepaskan secara simbolis selanjutnya diserahkan kepada anak yatim serta warga yang membutuhkan.
Riyanta menjelaskan, angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu. Maksudnya, angka tujuh menjadi simbol pengharapan akan pitulungan (pertolongan) dari Yang Maha Kuasa.
Kepala Desa Karangwotan, Sumari, menilai kegiatan GJL ini sangat memberi efek yang positif bagi warga.
Menurutnya kegiatan sosial ini sangat meringankan beban anak yatim yang memang semestinya selalu diberi pertolongan.
"Kami berterimakasih kepada GJL telah menyelenggarakan acara ini di Desa Karangwotan. Adanya bantuan kepada anak yatim bisa membuat mereka senang," kata dia.
Sumari mengapresiasi terselenggaranya acara pelepasan kambing dan ayam karena warganya tertolong oleh adanya acara ini.
"Karena adanya kegiatan sosial, saya sangat bersenang hati sebagai kepala desa. Rakyat saya terbantu dengan adanya bantuan kepada anak yatim," tandas dia. (mzk)
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Warga Pati Lepas 7 Kambing dan 7 Ayam Putih Setelah Sudewo Jadi Tersangka, Ini Filosofinya,
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/longsor-bandung-barat-cisarua-2.jpg)