Tegas! Presiden Iran Ultimatum Trump, Deklarasi Perang Jika Khamenei Diserang - Serambinews
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, serangan terhadap Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang.
Ringkasan Berita:
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, serangan terhadap Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang.
- Ia menuding Amerika Serikat sebagai penyebab gelombang protes besar yang menewaskan ribuan warga Iran.
- Situasi Iran-AS kini berada di titik kritis, dengan ancaman perang terbuka masih menggantung di Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, serangan terhadap Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang.
SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memuncak.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian pada Minggu (18/1/2026), melalui platform media sosial X, di tengah spekulasi bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah mempertimbangkan langkah ekstrem berupa pencopotan atau bahkan upaya pembunuhan terhadap Khamenei.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kami setara dengan perang skala penuh melawan bangsa Iran,” tulis Pezeshkian tegas.
Pezeshkian juga menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gelombang protes besar-besaran yang mengguncang Iran sejak akhir Desember 2025.
Demonstrasi yang bermula dari protes biaya hidup akibat inflasi tinggi dan anjloknya nilai mata uang, berkembang menjadi aksi anti-pemerintah yang menuntut perubahan rezim.
Baca juga: AS–Iran Saling Tahan Diri, Ketegangan Masih Memuncak, Perang Bisa Pecah Kapan Saja
Menurut laporan The Guardian, ribuan demonstran dilaporkan tewas dalam kerusuhan tersebut.
Pezeshkian menyebut sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS dan sekutunya sebagai salah satu penyebab utama penderitaan rakyat Iran.
“Permusuhan berkepanjangan serta sanksi tidak manusiawi telah menekan kehidupan rakyat kami,” ujarnya.
Trump Serang Khamenei
Sebelumnya, Trump dalam wawancara dengan Politico menyebut Khamenei sebagai “orang sakit” yang harus berhenti membunuh rakyatnya.
Ia juga menyerukan berakhirnya kekuasaan Khamenei yang telah berlangsung hampir empat dekade.
Trump bahkan mendorong warga Iran untuk terus berunjuk rasa dan mengambil alih institusi negara.
Baca juga: VIDEO Iran Membara: 16.500 Orang Dilaporkan Meninggal dalam Protes Massal
Pada 12 Januari 2026, ia menyebut bantuan sedang dalam perjalanan, memicu spekulasi bahwa serangan terhadap Iran tinggal menunggu waktu.
Menghadapi gelombang protes, otoritas Iran pada 8 Januari 2026, memberlakukan pemadaman hampir total terhadap layanan internet dan telepon, sehingga memutus konektivitas global jutaan warga.
Langkah ini menuai kritik internasional, namun dianggap perlu oleh Pemerintah Iran untuk meredam eskalasi.
Di sisi lain, laporan Axios menyebutkan, Amerika Serikat hampir melancarkan serangan militer ke Iran pada 13 Januari 2026.
Namun rencana itu ditunda setelah Trump mendapat masukan dari sejumlah pemimpin regional.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperingatkan bahwa Israel belum siap menghadapi serangan balasan Iran.
Baca juga: VIDEO Iran Siaga, Kapal Induk Amerika Terdeteksi Satelit Menuju Timur Tengah
Sementara Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, meminta Trump menahan diri karena khawatir terhadap dampak ketidakstabilan kawasan.
“Situasinya benar-benar sangat dekat,” kata seorang pejabat AS kepada Axios, menegaskan bahwa perintah serangan pada akhirnya tidak pernah dikeluarkan.
Di tengah ketegangan, Trump melalui media sosial mengklaim bahwa Teheran telah membatalkan rencana eksekusi terhadap 800 orang, termasuk Erfan Soltani (26), demonstran pertama yang dijatuhi hukuman mati sejak kerusuhan dimulai.
Klaim ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas Iran, namun menjadi bagian dari narasi Trump bahwa tekanan internasional berhasil menahan langkah keras pemerintah Iran.
Dengan ultimatum Pezeshkian, situasi Iran-AS kini berada di titik kritis.
Ancaman perang terbuka masih menggantung, sementara rakyat Iran terus bergulat dengan krisis ekonomi dan represi politik.
Dunia internasional menanti langkah berikutnya, apakah diplomasi akan kembali meredakan ketegangan, atau justru konflik besar akan pecah di kawasan Timur Tengah.(*)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tausiah-9ijkl.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pemimpin-Tertinggi-Iran-Ayatollah-Ali-Khamenei-menyampaikan-pidato-pertama.jpg)