Update Korban Longsor Cisarua, Bandung Barat : Ada 113 Orang Terdampak, 80 Orang Dinyatakan Hilang - Tribunnews
Kabasarnas Marsekal Madya M Syafii mengungkap ada 113 orang yang menjadi korban longsor di Cisarua, Bandung Barat, 80 di antaranya masih hilang.
Ringkasan Berita:
- Kabasarnas Marsekal Madya M Syafii mengungkap ada 113 orang yang menjadi korban longsor di Cisarua, Bandung Barat, 80 di antaranya masih hilang.
- Pada operasi pencarian hari pertama Sabtu (24/1/2026), terdapat 12 bodypack atau kantong jenazah yang diserahkan Basarnas dan Tim SAR gabungan kepada Tim DVI.
- Dari 12 bodypack tersebut, Tim DVI telah berhasil mengidentifikasi enam orang jenazah. Keenam jenazah tersebut pun telah diserahkan langsung kepada pihak keluarga.
TRIBUNNEWS.COM - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya M Syafii memberikan update informasi terkait jumlah korban bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat Sabtu (24/1/2026) dini hari.
M Syafii menyebut, informasi sementara total ada 113 orang korban dari 34 kepala keluarga yang terdampak longsor Cisarua.
"Dalam pelaksanaan operasi (pencarian korban) hari pertama, informasi sementara korban yang terdampak ada 113 korban dari 34 kepala keluarga, itu informasi awal," kata M Syafii dalam keterangan persnya, Minggu (25/1/2026) pagi, dilansir Kompas TV.
Sejauh ini, korban yang berhasil diselamatkan adalah 23 orang.
Sementara itu, masih ada sekitar 80 orang warga Cisarua yang dinyatakan hilang.
"Kemudian dari kejadian tersebut telah bisa kita selamatkan dengan jumlah 23 orang. Kemudian informasi yang juga kita terima bahwa masih ada 80 warga yang dinyatakan hilang," jelas M Syafii.
6 Jenazah Telah Teridentifikasi

Kabasarnas, M Syafii menyebut, pada operasi pencarian hari pertama kemarin, terdapat 12 bodypack atau kantong jenazah yang diserahkan Basarnas dan Tim SAR gabungan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI).
Dari 12 bodypack tersebut, Tim DVI telah berhasil mengidentifikasi enam orang jenazah.
Keenam jenazah tersebut pun telah diserahkan langsung kepada pihak keluarga.
"Kemudian dari hasil operasi hari pertama, saya sampaikan telah diserahkan kepada DVI sejumlah 12 bodypack. Jadi kantong yang kita serahkan."
"Kemudian dari DVI yang sudah mengidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga totalnya 6 jenazah."
"Jadi kita akan mengatakan jenazah pada saat sudah teridentifikasi, yang telah diserahkan kepada keluarga," terang M Syafii.
Baca juga: Jawa Barat Jadi Provinsi Terbanyak Bencana di 2025, Terbaru Longsor Cisarua, 82 Korban Masih Hilang
Detik-detik Longsor di Cisarua Bandung Barat
Eneng Rohaeni (38), seorang warga mengungkap detik-detik terjadinya longsor di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari.
Eneng yang rumahnya tidak jauh dari lokasi mengungkap dirinya mendengar gemuruh seperti suara pesawat sebelum peristiwa terjadi.
Menurut dia, suara gemuruh tiba-tiba memecah keheningan warga sekira pukul 03.00 WIB.
"30 menit setelahnya ada suara kayak jatuh, gebruk, itu kejadian kedua," ujar Eneng, Sabtu (24/1/2026).
Setelah suara itu terjadi, jeritan hingga teriakanan minta tolong pun terdengar.
Menurut dia, banyak warga yang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Suara gemuruh terdengar hingga beberapa menit.
"Kejadian pertama itu ada puing-puing, tertahan dulu. Jadi pada masih bisa untuk menyelamatkan diri. Baru yang kedua, itu semua tidak ada yang bisa menyelamatkan diri," katanya.
Setelah kejadian tersebut, Eneng mengaku dirinya masih sangat takut untuk berdiam di dalam rumah.
Meski rumahnya tidak terdampak langsung, Eneng bersama warga lainnya memutuskan untuk mengungsi.
"Kata pihak desa harus mengungsi dulu, siaga 1. Katanya takut ada longsor susulanan. Soalnya ini dua Kampung Pasir Kuda sama Pasir Kuning. Saya ngungsi ke rumah saudara," ucapnya.
Baca juga: Bocah 2 Tahun Selamat Dari Longsor di Cisarua Bandung Barat, Ditemukan Tim SAR di Atas Genting Rumah
Penyebab Longsor Cisarua

Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, mengungkap hujan berintensitas tinggi menjadi faktor utama penyebab longsor di Cisarua, Bandung Barat.
"Bencana tanah longsor terjadi akibat hujan deras yang disertai angin kencang," kata Hadi saat dikonfirmasi Tribun Jabar melalui pesan singkat, Sabtu (24/1/2026).
Sementara itu Walhi Jawa Barat (Jabar) menilai bencana longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat bukan dipicu cuaca ekstrem semata.
Tim Desk Disaster Walhi Jawa Barat, Abi menyebut longsor di Cisarua Bandung Barat merupakan akibat dari pembiaran kerusakan ekologis di Kawasan Bandung Utara.
Baca juga: Penyebab Longsor di Bandung Barat, Hujan Intensitas Tinggi Pemicunya, Suara Gemuruh Jadi Pertanda
Menurut Abi bencana tersebut menjadi bukti kebijakan pembangunan yang mengorbankan ruang terbuka hijau.
Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Cisarua selama dua hari sering dijadikan alasan utama terjadinya longsor.
“Namun narasi tersebut adalah satu kesalahan berpikir yang sangat fatal, karena pada faktanya hujan hanyalah salah satu pemicu, sementara penyebab sesungguhnya adalah rusaknya daya dukung lingkungan akibat alih fungsi lahan dan penyusutan ruang terbuka hijau yang dibiarkan berlangsung secara sistematis,” kata Abi, Sabtu (24/1/2026).
Disamping itu, lereng-lereng perbukitan yang seharusnya menjadi kawasan lindung, kini dipenuhi bangunan, mematikan fungsi resapan air dan membuat tanah kehilangan kestabilannya.
Menurutnya bahwa longsor ini adalah salah satu potret telanjang kerusakan ekologis di Bandung Utara.
Baca juga: Penanganan Korban Longsor di Cisarua: 65 Personel Polda Jabar Dikerahkan, Operasi SAR Gunakan Drone
“Longsor Cisarua memperlihatkan kehancuran ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air di Bandung Utara yang selama ini dibiarkan. Ketika fungsi ekologis dihancurkan, bencana bukan lagi kemungkinan, tetapi keniscayaan,” tegas Abi.
Kawasan Bandung Utara sejatinya merupakan wilayah lindung strategis yang berfungsi menjaga keseimbangan ekologis Bandung Raya.
Namun, fungsi tersebut telah dikorbankan demi kepentingan pembangunan yang eksploitatif.
“Negara gagal menjalankan mandat perlindungan lingkungan, sementara warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan dipaksa menanggung risiko yang tidak mereka ciptakan,” ucapnya.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Adi Suhendi)
Baca berita lainnya terkait Longsor di Bandung Barat.
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Puing-puing-bangunan-berserakan-setelah-diterjang-longsor-bandung-barat.jpg)