11 Bisnis Sukanto Tanoto yang Membuatnya Super Tajir dengan Kekayaan Rp391 Triliun! - Inilah
11 Bisnis Sukanto Tanoto yang Membuatnya Super Tajir dengan Kekayaan Rp391 Triliun!
Profil Sukanto Tanoto (Foto: RGE)
Indonesia dihuni lebih dari 287 juta penduduk. Sayangnya, hanya 1.479 orang di antaranya yang tergolong super kaya.
Bahkan, angka itu tak sampai sepersennya total penduduk Indonesia. Salah satu taipan Indonesia adalah Sukanto Tanoto.
Sukanto dinobatkan sebagai orang terkaya kedua di Indonesia versi Bloomberg Billionaires Index pada Februari 2026. Kekayaannya diperkirakan sebanyak Rp391,49 triliun.
Sebagai pengusaha, Sukanto tentu mengumpulkan kekayaannya dari berbagai bisnis yang ia geluti selama puluhan tahun. Lantas, apa saja bisnis milik Sukanto Tanoto?
Rentetan Bisnis Milik Sukanto Tanoto, dari Minyak hingga Kertas
1. Royal Golden Eagle
Sukanto Tanoto memulai bisnisnya dengan mendirikan Royal Goldne Eagle (RGE) pada 1973 yang menjalankan usaha bisnis kayu lapis.
Untuk mendukung operasional RGE, Sukanto membangun Forino Pte Ltd di Singapura pada 1977. Dua tahun kemudian, ia memperluas bisnis ke industri minyak sawit.
Sukanto pun mendirikan perusahaan Asian Agri yang khusus mengelola operasi perkebunan kelapa sawit. Tak cukup sampai di sana, Sukanto juga memasuki industri pulp pada 1983 yang ditandai dengan pembangunan pabrik di Porsea , Sumatra Utra.
Bisnis pulp milik Sukanto awalnya berjalan di bawah Indorayon, tetapi akhirnya ia mendirikan Asia Pasific Resources International Holdings Ltd (APRIL) pada 1994.
Seiring waktu, RGE kini menjadi perusahaan induk yang menaungi bisnis Sukanto Tanoto yaitu APRIL, Asia Symbol, Vinda, Asian Agri, Apical, Bracell, Sateri, APR, dan Pacific Energy.
2. APRIL
Bisnis utama Sukanto Tanoto adalah Asia Pacific Resources International Holding Ltd. (APRIL), salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia.
Pabril APRIL yang berada di Pangkalan Kerinci, Riau, mampu memproduksi hingga empat juta ton pulp dan 1,15 juta ton kertas per tahun.
Pulp APRIL digunakan untuk berbagai produksi termasuk tisu dan kertas khusus. Produk unggulannya adalah PaperOne yang dijual ke lebih dari 110 negara di dunia.
APRIL memiliki satu juta hektare lahan, tetapi hanya mengelola sekitar 450.000 hektare.
Sebanyak 51 persen sisanya digunakan untuk konservasi, lahan masyarakat, dan pembangunan infrastruktur.
APRIL juga memiliki anak usaham yakni PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP). Salah satu fungsinya adalah membantu bisnis dan usaha masyarakat setempat.
3. Asia Symbol
Bisnis pulp dan kertas Sukanto Tanoto juga ada di China lewat perusahaan Asia Symbol yang dirikan pada 2005. Pabriknya dibangun di Provinsi Shandong, Guangdong, dan Jiangsu.
Produk utamanya adalah BHKP atau bubur kertas, karton gading, kertas cetak bebas kayu tanpa lapisan, kertas kantor, dan kertas tisu.
Asia Symbol mencatatkan produksi tahunan sebanyak 2,2 juta ton pulp, 1,5 juta ton kertas halus, 600.000 ton kartin, dan 250.000 ton kertas tisu.
4. Vinda
Vinda International Holdings Limited berdiri sejak 1985 dan memproduksi berbagai produk kesehatan. Vinda resmi menjadi bagian RGE milik Sukanto Tanoto pada 2024.
Perusahaan ini memproduksi tisu, perawatan inkontinensia, perawatan kewanitaan, perawatan bayi, hingga produk kebersihan profesional.
Merek-merek Vinda meliputi tisu Vinda, Tempo, TORK, Vinda Professional, TENA, Dr.P, Libresse, Libero, dan Drypers.
Semua produk Vinda dijual di berbagai negara termasuk Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, dan negara Asia lainnya. Bahkan, tisu Tempo meramaikan pasar Eropa.
5. Asian Agri
Asian Agri diklaim sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di Asia dengan kapasitas tahunan mencapai 1,1 juta ton.
Produksi jutaan ton minyak sawit itu tak lepas dari 30 perkebunan seluas 160.000 hektare dan 23 pabrik di Provinsi Sumatra Utara, Riau, dan Jambi.
Berdasarkan laman resmi perusahaan, Asian Agri tak mengelola semua lahannya. Sebanyak 60.000 hektare dikelola petani kecil dengan skema plasma.
Sementara, petani kecil independen mengelola 42.500 hektare sisanya. Adapun produk unggulan Asian Agri adalah biji topas.
Biji topaz dikembangkan oleh tim peneliti Asian Agri di Oil Plam Research Station milik perusahaan di Tebing Tinggi Deli, Sumatra Utara.
Produk itu sudah dirilis sejak tahun 2004 berdasarkan Keputusan Kementerian Pertanian dan telah terjual lebih dari 200 juta bibit.
6. Apical
Apical merupakan perusahaan pengolah minyak nabati yang didirikan pada 2006 dan berkantor pusat di Singapura.
Dengan aset di Indonesia, China, dan Spanyol, Apical kini mengoperasikan sejumlah kilang minyak, pabrik oleokimia, pabrik bahan bakar terbarukan, dan pabrik penghancur biji-bijian.
Selain itu, Apical juga memiliki operasi pengolahan dan distribusi di Brasil, India, Pakistan, Filipina, Timur Tengah, Afrika, Amerika Serikat, dan Vietnam.
Semua produk Apical dijual ke 32 negara selain Indonesia termasuk Argentina, Rusia, Amerika Serikat, Spanyol, Honduras, Ghana, Arab Saudi, Turki, Jepang, hingga Italia.
Berikut adalah perusahaan operasional Apical:
Kilang Minyak
- PT Asianagro Agungjaya Marunda (Jakarta)
- PT Asianagro Agungjaya Tanjung Balai (Sumatra)
- PT Sari Dumai Sejati (Sumatra)
- PT Kutai Refinery Nusantara (Kalimantan)
- PT Padang Raya Cakrawala (Padang)
- PT Sari Dumai Oleo (Dumai)
- Excelic Food Technology Co Ltd (Nanjing, China)
- Bio-Oils La Rabida (Huelva, Spanyol)
Tanaman Biodiesel
- PT Kutai Refinery Nusantara (Kalimantan)
- Bio-Oils La Rabida (Huelva, Spanyol)
- PT Sari Dumai Sejati (Sumatra)
- PT Padang Raya Cakrawala (Padang)
- PT Sari Dumai Oleo (Dumai)
Tanaman Oleokimia
- PT Apical Kao Chemicals (Sumatra)
- PT Sari Dumai Sejati (Sumatra)
- PT Sari Dumai Oleo (Marunda)
- PT Sari Dumai Oleo (Dumai)
- PT Kutai Refinery Nusantara (Kalimantan)
- Apical Oleochemical Co Ltd (Taixing, China)
Pabrik Penghancur Biji
- PT Sari Dumai Sejati (Sumatra)
- PT Kutai Refinery Nusantara (Kalimantan)
7. Bracell
Bracell merupakan perusahaan asal Brasil yang memproduksi pulp pelarut khusus.
Hasilnya digunakan sebagai bahan utama pembuatan bingkai kacamata, pelembut es krim, kosmetik, deteren, hingga benang ban.
Perusahaan ini mulai beroperasi pada 2003 setelah mengakuisis BSC (Bahia Specialty Cellulose) dan Copener Florestal di Bahia, Brasil.
Pada Agustus 2018, Bracell mengakusisi Lwarcel Celulose di Sao Paulo. Bracell total mengelola sekitar 234.000 hektare lahan, yang 83.000 hektare di antaranya merupakan area konservasi.
8. Sateri
Melansir laman RGE, Sateri merupakan produsen terbesar serat viscose-rayon yang digunakan untuk tekstil, tisu, hingga produk perawatan diri.
Keenam pabrik Sateri di China memiliki kapasitas produksi tahunan mencapai 1,9 juta ton.
Produknya antara lain viscoser merek EcoCosy, benang tekstil, kain non-anyaman spunlace, Lyocell, FINEX, dan serta tekstil daur ulang.
9. APR
Asian Pacific Rayon (APR) adalah produsen viscore rayon terintegrasi pertama di Asia, mulai dari perkebunan hingga produksi serat viscose.
Perusahaan ini didirikan pada 2016 di kawasan yang sama dengan APRIL, yakni Pangkalan Kerinci, Provinsi Riau.
APR memasarkan produk-produknya ke Vietnam, Bangladesh, Nepal, Pakistan, Mesir, Turki, hingga Brasil.
10. Pacific Energy
Pacific Energy fokus pada pada pengembangan sumber daya energi independen. Di sektor hulu, perusahaan ini memproduksi minyak dan gas di Indonesia.
Sementara di hilir, operasional Pacific Energy terkonsentrasi pada gas alam cair (LNG), terminal penerima, dan pembangkit listrik di China.
Aset-aset Pacific Energy saat ini berada di Indonesia, China, dan Kanada.
11. Tanoto Foundation
Sukanto Tanoto juga mendirikan Tanoto Foundation bersama istrinya, Tinai Bingei Tanoto, pada 1981 di Besitung, Sumatra Utara. Yayasan ini dimulai dari sebuah taman kanak-kanak dan sekolah dasar.
Seiring waktu, Tanoto Foundation melebarkan sayap ke Singapura dan China. Program-programnya fokus pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, perawatan kesehatan, hingga pengembangan kepemimpinan.
Tanoto Foundation juga memberikan beasiswa lewat program TELADAN di Indonesia dan SUAR di Singapura.