0
News
    Home Aceh Berita Featured Lintas Peristiwa Spesial

    4 Fakta Lubang Raksasa di Aceh Tengah, Meluas Jadi 3 Hektare hingga Respons Pemerintah - Tribunnews

    10 min read

     

    4 Fakta Lubang Raksasa di Aceh Tengah, Meluas Jadi 3 Hektare hingga Respons Pemerintah

    Lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, makin meluas capai 3 hektare.

    Ringkasan Berita:
    • Lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, makin meluas.
    • Kini, lubang sudah berukuran lebih dari 30.000 meter persegi atau sekitar 3 hektare.
    • Longsoran di ruas Pondok Balik- Ketol turut mengganggu konektivitas antarwilayah.

     

    TRIBUNNEWS.COM - Fenomena lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, menyita perhatian publik.

    Bukan seperti lubang-lubang di jalanan pada umumnya, namun lubang di Pondok Balik ini berukuran besar, bahkan mencapai lebih dari 30.000 meter persegi atau sekitar 3 hektare.

    Kondisi tersebut, mengancam permukiman warga di sekitar lubang, khususnya di kampung Pondok Balik.

    Lokasi Pondok Balik berada sekitar 43 Km dari pusat kota. Bila melihat situs penunjuk arah, Google Maps, lokasi Kampung Pondok ke pusat kota bisa ditempuh selama 1 jam perjalanan menggunakan mobil.

    Pergerakan tanah di Aceh Tengah ini sudah ada sejak tahun 2011. Belasan tahun berlalu, lebar lubang kian meluas mencapai 3 hektare.

    Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh memastikan, lubang tersebut bukanlah lubang ambles atau sinkhole sebagaimana yang banyak disebut belakangan. 

    Fakta Lubang Raksasa 3 Hektare di Aceh Tengah

    1. Pergerakan Tanah terjadi sejak 2011

    Berdasarkan data dari ESDM Aceh, sejak 2011 sudah dilakukan pengukuran pertambahan luasan longsoran tanah.

    Berdasarkan data Dinas ESDM Aceh pada 2025, luasan longsoran tanah di kawasan tersebut, mencapai lebih dari 27.000 meter persegi dan semakin mendekati jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik.

    Baca juga: Kata Guru Besar Teknik Geologi UGM Soal Lubang Raksasa di Aceh: Tidak Seperti Sinkhole

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Andalika, menjelaskan tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh juga sudah melakukan kajian bersama BPBD Aceh Tengah sejak tahun 2022. 

    Hasil kajian menunjukkan longsoran berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air.

    Kemudian, didominasi material vulkanik yang mudah menghantarkan air, sehingga pergerakan tanah bersifat aktif dan berkelanjutan, dilansir Tribungayo.com.

    2. Makin Meluas hingga Ganggu Infrastruktur di Sekitar Lokasi

    Adanya fenomena lubang raksasa Aceh Tengah, telah berimbas pada gangguan infrastruktur yang cukup serius, yakni akses jalan utama terputus total.

    Selain itu, ancaman juga mengarah ke infrastruktur kelistrikan. 

    Longsoran tanah berada hanya di beberapa meter dan semakin mendekat tower Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) berkapasitas 150 kilovolt.

    Dalam foto: Fenomena lubang raksasa yang ada di Jalan Buter, Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
    LUBANG RAKSASA - Dalam foto: Fenomena lubang raksasa yang ada di Jalan Buter, Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, makin meluas capai 3 hektare. (Dinas ESDM Aceh)

    Sejak Sabtu (31/1/2026) lalu, PLN telah melakukan pengerjaan pembongkaran Tower SUTET No 76 yang dipindahkan sekitar kurang lebih 150 meter dari lokasi rawan bencana agar sistem kelistrikan tetap aman dan pasokan listrik masyarakat tetap terjaga. 

    Masih mengutip Tribungayo.com, pekerjaan ini melibatkan tim PT 3B Sumatera sebanyak 80 personel dan termasuk dalam langkah cepat PLN untuk mengamankan sistem transmisi, memulihkan area terdampak, sekaligus memastikan gangguan listrik seminimal mungkin.

    Longsoran di ruas Pondok Balik- Ketol turut mengganggu konektivitas antarwilayah dan berisiko menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.

    3. Menteri PU Singgung Penanganan Cepat

    Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan penanganan cepat dan maksimal terhadap longsoran tanah pada lubang besar di Desa Pondok Balik.

    Longsoran tersebut, dinilai berpotensi meluas dan menimbulkan dampak lanjutan, tidak hanya terhadap infrastruktur jalan, tetapi juga terhadap sektor ekonomi masyarakat.

    Dodi menyebut, meski penanganan fisik membutuhkan waktu, pemerintah memastikan langkah cepat dilakukan agar kerusakan tidak semakin meluas. Terutama pada ruas jalan alternatif yang masih tersisa.

    “Perlu waktu, tapi kita upayakan maksimal agar jalan alternatif yang lebih pendek itu tidak hancur,” kata Dody saat meninjau langsung lokasi longsoran, Jumat (6/2/2026).

    Dody berpendapat, ruas jalan yang berjarak sekitar 80 meter dengan panjang 400 meter dari area masih berpeluang diselamatkan jika penanganan dilakukan secara tepat.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan, terdapat indikasi kuat bahwa pergerakan air menjadi salah satu faktor utama yang memicu longsoran dan pembentukan lubang besar di kawasan tersebut.

    Hal tersebut, berdasarkan hasil kajian awal tim teknis gabungan Kementerian PU dan Universitas Syiah Kuala.

    Aliran air dari sungai di sekitar lokasi diduga masuk ke dalam struktur tanah melalui rongga atau gua yang berada di dekat badan jalan.

    Nah, untuk mencegah longsoran semakin melebar, Dody menilai, penanganan akan dilakukan melalui sejumlah langkah teknis secara bersamaan.

    Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menegaskan penanganan terkait lubang besar itu, sangat krusial karena wilayah itu merupakan sentra perkebunan masyarakat.

    “Kalau ini sampai melebar, bukan hanya infrastruktur yang terdampak, tapi juga perkebunan rakyat, terutama cabai. Ini bisa berdampak pada inflasi daerah" kata Bupati.

    Bupati berharap, dengan langkah cepat yang dilakukan Kementerian PU, kerusakan tidak meluas dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.

    Di sisi lain, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas respons cepat pemerintah pusat.

    4. Penjelasan Badan Geologi ESDM

    Fenomena lubang raksasa yang muncul di Pondok Balik, Aceh Tengah, yang kian meluas dinilai menyerupai fenomena sinkhole.

    Namun, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, secara geologi, kasus ini memiliki karakteristik berbeda dari sinkhole yang umum terjadi di kawasan karst. 

    Kondisi ini menjadi perhatian karena muncul di wilayah yang selama ini tidak dikenal sebagai daerah rawan sinkhole.

    Secara umum, sinkhole terjadi pada tanah lempung, lanau, atau pasir lepas yang mudah tererosi dan mengalami pelarutan. 

    Dalam banyak literatur, kejadian sinkhole berkaitan erat dengan keberadaan batuan kapur atau material karst yang mudah larut oleh air. 

    Sementara itu, wilayah Aceh Tengah didominasi tanah vulkanik yang memiliki karakter lebih padat dan stabil. 

    Minimnya literasi publik mengenai perbedaan jenis tanah ini membuat fenomena yang terjadi kerap disalahartikan. Padahal, kondisi geologi lokal sangat memengaruhi proses terbentuknya lubang tanah.

    Baca juga: 4 Fenomena Astronomi Februari 2026, Ada Gerhana Matahari Cincin, Catat Tanggalnya

    Meski berbeda jenis material, secara ilmiah air tetap memegang peran yang sangat besar dalam pembentukan rongga bawah tanah. 

    Berbagai penelitian geologi menunjukkan hampir 90 persen kasus sinkhole di dunia dipicu oleh air, baik air hujan maupun air tanah. Air bekerja dengan cara melarutkan mineral tertentu atau mengikis butiran tanah halus di bawah permukaan. 

    Proses ini berlangsung perlahan hingga membentuk rongga yang tidak lagi mampu menopang beban di atasnya. 

    Pada titik tertentu, permukaan tanah pun runtuh secara tiba-tiba.

    Dikutip dari sda.pu.go.id, kondisi tersebut, dapat diperparah oleh faktor cuaca ekstrem yang terjadi pada akhir tahun lalu. 

    Siklon Senyar yang melanda wilayah Indonesia bagian barat pun menyebabkan peningkatan curah hujan yang signifikan, termasuk di Aceh Tengah

    Intensitas hujan yang tinggi membuat infiltrasi air ke dalam tanah meningkat drastis. 

    Aliran air bawah tanah menjadi lebih aktif dan berpotensi mempercepat proses pengikisan material halus.

    Oleh karena itu, dalam situasi seperti ini, tanah yang semula stabil dapat kehilangan daya dukungnya.

    Sebagian artikel ini telah tayang di Tribungayo.com dengan judul Tinjau Lubang Raksasa di Aceh Tengah, Menteri PU Tegaskan Hal Ini

    (Tribunnews.com/Suci Bangun DS, Tribungayo.com/Alga Mahate Ara, Kompas.com)


    Komentar
    Additional JS