7 Hal yang Akan Terjadi Jika Iran Tenggelamkan Kapal Induk AS - SindoNews
7 Hal yang Akan Terjadi Jika Iran Tenggelamkan Kapal Induk AS
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Kamis, 19 Februari 2026 - 13:25 WIB
Kapal induk USS Abraham Lincoln Angkatan Laut Amerika Serikat. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei ancam tenggelamkan kapal induk AS. Foto/TWZ
TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah mengancam akan menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat (AS) ke dasar laut jika perang pecah. Ancaman itu disampaikan ketika Washington menumpuk aset-aset tempurnya di Timur Tengah.
Saat ini, kapal induk USS Abraham Lincoln bersama kelompok serangnya sudah siaga di Timur Tengah—tepatnya di lepas pantai Oman. Kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah.
Baca Juga: AS-Iran di Ambang Perang, Rusia dan China Gabung Latihan Perang Teheran
"Presiden AS terus mengatakan ‘militer kita adalah militer terkuat di dunia’; militer terkuat di dunia terkadang dapat menerima tamparan sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi berdiri tegak," kata Khamenei di depan para pengikutnya.
“Mereka terus mengatakan, ‘kami telah mengirim kapal induk ke arah Iran’. Oke, tentu saja kapal induk adalah alat yang berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya daripada kapal induk adalah senjata yang dapat menenggelamkannya ke dasar laut," lanjut Khamenei.
Khamenei tidak merinci senjata Iran apa yang bisa menenggelamkan kapal induk Amerika.
Terlepas dari benar tidaknya ada senjata Iran yang dapat menenggelamkan kapal induk AS, protokol Angkatan Laut AS telah dirancang untuk memastikan bahwa tindakan semacam itu akan menjadi langkah terakhir dari rezim musuh mana pun.
Mengutip laporan dari WION News, Kamis (19/2/2026), adatujuh hal yang akan terjadi jika Iran menenggelamkan kapal induk Amerika; entah USS Abraham Lincoln atau pun USS Gerald R. Ford.
7Hal yang Akan Terjadi Jika Iran Tenggelamkan Kapal Induk AS
1. Pembalasan Otomatis (Aturan SROE)
Berdasarkan Standing Rules of Engagement (SROE), komandan kelompok serang kapal induk tidak memerlukan izin dari Gedung Putih untuk membalas tembakan setelah tindakan permusuhan terdeteksi.
Jika rudal diluncurkan ke USS Gerald R. Ford, Aegis Combat System pada kapal perusak pengawal secara otomatis terlibat. Secara bersamaan, sayap udara kapal induk diizinkan untuk segera menghancurkan sumber peluncuran, baik itu baterai sistem rudal berbasis pantai, peluncur mobile, maupun bunker komando, tanpa menunggu sinyal diplomatik.
2. Ambang Batas "5.000 Jiwa"
Kapal induk super AS lebih dari sekadar kapal; itu adalah kota Amerika terapung dengan hampir 5.000 personel militer.
Dalam doktrin militer AS, penghancuran kapal induk dikategorikan sebagai "Act of War" atau "Tindakan Perang" yang setara dengan serangan nuklir di kota besar AS.
Protokol menetapkan respons yang tidak proporsional. Hilangnya kapal perang utama AS memicu pergeseran yang telah direncanakan sebelumnya dari "konflik terkendali" ke "dominasi teater total", di mana tujuannya menjadi netralisasi lengkap seluruh infrastruktur militer musuh.
3. Rantai Pembunuhan "Find, Fix, Finish"
Jika sebuah kapal induk rusak atau tenggelam, AS mengaktifkan protokol global "Find, Fix, Finish".
Setiap aset yang tersedia, dari drone ketinggian tinggi MQ-4C Triton hingga sensor bawah air, ditugaskan dengan satu tujuan: menemukan setiap aset Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di wilayah tersebut.
Fase "Finish" melibatkan saturasi rudal Tomahawk dan serangan pesawat pengebom B-21 Raider yang dirancang untuk melenyapkan "armada bayangan" IRGC, pabrik drone, dan silo rudal dalam 24 jam pertama.
4. Protokol "Maritime Stranglehold"
Angkatan Laut AS akan segera menerapkan blokade total Selat Hormuz. Di bawah protokol "Maritime Stranglehold" atau "Pencekikan Maritim", setiap kapal, termasuk kapal tanker pihak ketiga, yang mencoba mengangkut minyak Iran akan dicegat atau disita.
Tujuannya adalah untuk memicu "Economic Cardiac Arrest" atau "Henti Jantung Ekonomi" dengan memutus 100 persen pendapatan ekspor Iran secara instan, memaksa rezim untuk memilih antara kebangkrutan total atau penyerahan total.
5. Pemenggalan Komando dan Kontrol
Tidak seperti serangan taktis terbatas pada Juni 2025, respons "pasca-kapal induk ditenggelamkan" adalah AS menargetkan "Brain of the State" atau "Otak Negara".
Protokol ini mencakup serangan presisi terhadap Markas Besar IRGC, Kementerian Intelijen, dan simpul komunikasi yang digunakan oleh kepemimpinan rezim ulama Iran.
Tujuannya bergeser dari "membela armada" menjadi "Strategic Decapitation (Pemenggalan Strategis)", memastikan rezim tidak lagi dapat mengoordinasikan proksi "Poros Perlawanan" di Lebanon, Yaman, atau pun Irak.
6. "Logic Bombs" Infrastruktur Nasional
Komando Siber AS diberi wewenang untuk melakukan "pemadaman jaringan total" sebagai respons terhadap serangan terhadap kapal induk.
Ini melibatkan penyebaran "Logic Bombs", perangkat lunak berbahaya yang telah ditanam sebelumnya di jaringan listrik, sistem air, dan telekomunikasi Iran.
Ini dirancang untuk melumpuhkan kemampuan negara tersebut untuk memobilisasi gelombang serangan kedua, secara efektif "membutakan" militer sementara pengeboman kinetik AS terus berlanjut.
7. Ultimatum "Penyerahan Strategis"
Protokol terakhir adalah pengerahan triad nuklir ke posisi kesiapan tinggi. Meskipun penggunaan senjata tersebut adalah upaya terakhir, ancaman tersebut digunakan untuk menuntut "Penyerahan Strategis Tanpa Syarat".
AS akan menuntut pembongkaran total dan permanen program nuklir dan rudal balistik Iran di bawah perjanjian "surrender-style", yang didukung oleh "kekuatan besar" yang dijanjikan Trump siap dan menunggu di Teluk.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

Kapal Induk Kedua Tiba di Timur Tengah, AS Serius Ancam Iran