0
News
    Home Agrinas Berita Featured Spesial

    Agrinas Klaim Impor Mobil Pikap Bisa Hemat Anggaran hingga Rp 46,5 Triliun- Viva

    4 min read

     

    Agrinas Klaim Impor Mobil Pikap Bisa Hemat Anggaran hingga Rp 46,5 Triliun

    Jakarta, VIVA – Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota memastikan, impor 105.000 mobil Pikap yang bakal dilakukan dari India akan bisa menghemat anggaran hingga Rp 46,5 triliun.

    img_title

    "Dengan pengadaan sarana-prasarana ini, Agrinas Pangan bisa melakukan efisiensi sebesar Rp 46,5 triliun," kata Joao dalam konferensi pers di kantor Agrinas Pangan, Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota

    Photo :
    • Antara

    Meski demikian, Dia mengaku tidak bisa membeberkan lebih rinci mengenai angkanya, karena terikat dengan perjanjian Non-Disclosure Agreement (NDA) terkait hal tersebut.

    Dia hanya memastikan bahwa detil anggaran pengadaan itu nantinya akan diserahkan kepada Kementerian Keuangan.

    Joao mengaku bahwa sebelumnya Agrinas sudah coba merangkul sejumlah produsen mobil lokal dalam proses kualifikasi dan negosiasi pengadaan. 

    Namun, ternyata kapasitas produsen truk lokal yang bisa memenuhi syarat hanya mampu menyediakan total 45.000 unit. Antara lain terdiri dari Mitsubishi Fuso 20.600 unit, Foton Aumark 13.500 unit, Hino 10.000 unit, dan Isuzu Canter 900 unit.

    Karena, dengan menimbang keterbatasan dalam kapasitas produksi dalam negeri, Agrinas akhirnya memutuskan mengimpor 35.000 unit truk dari Tata Motors India.

    Sementara untuk pikap single cabin 4x4 sendiri ternyata tidak ada yang diproduksi di Indonesia. Terlebih, harganya pun melampaui anggaran yang tersedia.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Padahal di satu sisi, lanjut Joao, Agrinas tentunya berharap bisa mendapatkan harga yang lebih kompetitif karena akan membeli dalam jumlah besar. Namun, para produsen lokal yang diundang tetap menghitung harga per unit.

    "Sampai dengan terakhir, kami tidak mendapatkan atau dikasih kesempatan untuk memberikan dengan harga yang khusus sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar,” ujarnya.


    Komentar
    Additional JS