0
News
    Home Badan Gizi Nasional Berita Featured Kacang Romadhon Spesial Telur

    BGN Minta MBG Ramadhan Tak Lagi Dikemas Kantong Plastik, Menu Kacang Diganti Telur - Viva

    3 min read

     

    BGN Minta MBG Ramadhan Tak Lagi Dikemas Kantong Plastik, Menu Kacang Diganti Telur

    VIVA – Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap menu dan kemasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadhan menyusul sorotan publik yang menilai menu MBG di awal bulan Ramadhan belum memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).

    Evaluasi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Kepala BGN, Dadan Hindayana, bersama seluruh mitra dan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna merespons dinamika di lapangan.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    "Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadhan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran. Evaluasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik," ujar Dadan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026

    Dalam evaluasi itu, BGN menyoroti tiga aspek utama, yakni kemasan makanan, komposisi menu, dan transparansi perhitungan AKG. Dadan menegaskan, kemasan makanan menjadi perhatian serius agar kualitas dan higienitas tetap terjaga hingga sampai ke tangan penerima manfaat.

    Ia meminta seluruh SPPG dan mitra tidak lagi menggunakan kantong plastik sederhana untuk distribusi makanan. Makanan harus ditempatkan dalam wadah yang lebih representatif, higienis, serta mampu menjaga mutu makanan selama proses distribusi.

    Selain kemasan, komposisi bahan pangan juga dievaluasi agar tetap sesuai dengan pagu bahan baku yang telah ditetapkan. Dadan mencontohkan penggunaan kacang dalam menu yang dinilai memiliki harga relatif lebih mahal dibandingkan telur, sementara telur dianggap memiliki citra protein yang lebih baik dan lebih mudah diterima masyarakat.

    Karena itu, mitra diminta menyesuaikan komposisi menu dengan mengganti kacang menjadi telur tanpa mengurangi nilai gizi yang ditetapkan dalam standar program.

    BGN juga mewajibkan setiap SPPG menyusun penjelasan rinci terkait perhitungan AKG dan harga masing-masing bahan pangan dalam setiap menu. Untuk diketahui, pagu anggaran harga bahan baku ditetapkan sebesar Rp8.000 bagi balita hingga siswa SD kelas 3, dan Rp10.000 untuk kelompok lainnya.

    "Patokan dasar tersebut dapat berbeda sesuai indeks kemahalan daerah dan bersifat at cost, sehingga perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik," ujar Dadan.

    Sebagai bagian dari penguatan standar keamanan pangan selama Ramadhan, setiap SPPG juga diminta mulai melakukan pengadaan peralatan vakum. Penggunaan teknologi ini diharapkan membuat makanan lebih awet, higienis, dan tetap layak konsumsi saat didistribusikan.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    BGN turut mengingatkan mitra agar tidak memaksakan penggunaan bahan baku yang sudah dalam kondisi kurang baik. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, distribusi makanan dapat ditunda dan diganti pada hari berikutnya demi menjaga kualitas dan keamanan pangan.

    "Kami tidak ingin ada kompromi dalam hal kualitas. Prinsipnya sederhana: makanan harus aman, bergizi, dan sesuai pagu. Jika ada bahan yang tidak layak, lebih baik diganti daripada dipaksakan. Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat," tuturnya.


    Komentar
    Additional JS