Bahlil Ungkap Hasil Kesepakatan Energi dari AS, Siap Belanja Impor 15 Miliar Dolar AS - Republika
Bahlil Ungkap Hasil Kesepakatan Energi dari AS, Siap Belanja Impor 15 Miliar Dolar AS
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON DC -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia akan membelanjakan sekitar 15 miliar dolar AS untuk membeli energi dari Amerika Serikat. Pembelian tersebut mencakup BBM jadi, LPG, dan minyak mentah sebagai bagian dari implementasi kesepakatan dagang antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump.
Alokasi belanja energi itu dilakukan untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan kedua negara. Implementasi teknis pembelian akan dijalankan oleh PT Pertamina (Persero) setelah proses finalisasi yang ditargetkan selesai dalam waktu 90 hari.
“Dalam perjanjian tersebut telah dimuat secara jelas bahwa untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan kita, maka dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar 15 miliar dolar AS. Dari jumlah itu terdiri atas pembelian BBM jadi, LPG, dan crude (minyak mentah),” kata Bahlil di Washington DC, Jumat (20/2/2026) malam waktu Indonesia.
Ia menegaskan pembelian dari Amerika Serikat tidak akan menambah volume impor energi nasional. Pemerintah hanya mengalihkan sebagian sumber pasokan dari kawasan lain ke Amerika Serikat.
Selama ini impor energi Indonesia berasal dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan sejumlah negara di Afrika. Pergeseran sumber pasokan dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian agar memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
“15 miliar dolar AS yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti menambah volume impor. Namun, kita menggeser sebagian volume impor dari beberapa negara,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan Indonesia masih mengimpor LPG sekitar 7 juta ton per tahun. Sebagian pasokan selama ini juga berasal dari Amerika Serikat dan volumenya akan ditingkatkan dalam skema baru tersebut.

Halaman 2 / 2
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyampaikan skema impor energi dari Amerika Serikat dilakukan melalui mekanisme bisnis yang berlaku. Proses pengadaan tetap dilakukan melalui tender dan mekanisme bidding terbuka.
Menurut Simon, impor menjadi langkah transisi untuk menjaga ketahanan energi di tengah kebutuhan yang masih lebih besar dibandingkan produksi domestik. “Skema impor adalah jembatan menuju ketahanan dan kemandirian energi,” ujarnya.
Pertamina juga melakukan penjajakan kerja sama dengan sejumlah mitra energi di Amerika Serikat, termasuk untuk peningkatan produksi, transfer teknologi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Diversifikasi sumber pasokan diharapkan dapat memberikan harga yang lebih kompetitif.
Saat ini sekitar 57 persen impor LPG Pertamina berasal dari Amerika Serikat dan porsinya berpotensi meningkat hingga sekitar 70 persen. Untuk minyak mentah, Pertamina juga akan mendorong peningkatan pasokan dari negara tersebut.
Bahlil menegaskan seluruh pelaksanaan kesepakatan akan berjalan setelah masa finalisasi 90 hari selesai. Pemerintah menargetkan implementasi berlangsung cepat guna membangun kepercayaan dan memastikan kerja sama memberikan keuntungan bagi kedua negara. Kesepakatan energi ini diharapkan memperkuat ketahanan pasokan sekaligus menjaga keseimbangan perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat.