0
News
    Home Featured Ilmu Pengetahuan Romawi Kuno Spesial

    Belum Ada Kendaraan Bermotor, Dari Mana Polusi Udara di Romawi Kuno Berasal? - National Geographic

    6 min read

     

    Belum Ada Kendaraan Bermotor, Dari Mana Polusi Udara di Romawi Kuno Berasal?


    Dari mana asal polusi udara pada era Romawi kuno? ()

    Nationalgeographic.co.id—Kebanyakan orang menganggap bahwa polusi udara adalah fenomena modern. Namun, polusi udara sudah terjadi jauh sebelum itu. Gelembung yang terperangkap dalam es Greenland mengungkapkan bahwa kita mulai memancarkan gas rumah kaca setidaknya 2.000 tahun yang lalu.

    Tahun 2013 lalu, Célia Sapart dari Utrecht University di Belanda memimpin 15 ilmuwan dari Eropa dan Amerika Serikat (AS) dalam sebuah studi yang memetakan jejak kimia metana dalam sampel es selama 2.100 tahun. Gas metana secara alami terdapat di atmosfer dalam konsentrasi rendah.

    Namun, gas ini kemudian dianggap sebagai gas rumah kaca yang berperan dalam perubahan iklim karena emisi dari tempat pembuangan sampah, peternakan sapi skala besar, kebocoran pipa gas alam, dan kebakaran akibat pembukaan lahan.

    Para ilmuwan sering mengukur kondisi iklim dan atmosfer masa lalu dari sampel es kuno yang masih murni. Penelitian ini didasarkan pada inti es sepanjang 1.600 kaki (365 meter) yang diekstraksi dari lapisan es Greenland setebal 1,5 mil, yang terdiri dari lapisan salju yang telah terakumulasi selama 115.000 tahun terakhir.

    Bangsa Romawi kuno pun menjadi salah satu penyumbang polusi udara. Lantas, dari mana asal polusi udara pada era Romawi kuno jika saat itu kendaraan bermotor saja belum ada?

    Polusi di Era Romawi Kuno

    Dari tahun 27 SM hingga 180 M, Roma menikmati periode perdamaian dan kemakmuran relatif, yang dikenal sebagai Pax Romana. Periode ini menyaksikan awal berdirinya Kekaisaran Romawi, pembangunan Koloseum, dan perluasan kekaisaran hingga mencakup seluruh Mediterania dan sebagian besar Kepulauan Inggris. Namun, peleburan perak skala industri yang menyertai kemakmuran tersebut membawa sisi gelap: polusi timbal.

    Dalam sebuah studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, para ilmuwan untuk pertama kalinya mengukur tingkat polutan ini di atmosfer dan menemukan bahwa logam beracun tersebut kemungkinan menyebabkan penurunan IQ pada banyak orang Romawi kuno.

    "Ini tentu saja makalah yang sangat menarik," kata Christopher Loveluck, seorang arkeolog di University of Nottingham yang tidak terlibat dalam penelitian ini di laman Science.org. "Emisi timbal di sekitar tambang dan lokasi peleburan itu sendiri tentu dapat berdampak pada kognisi dan kesehatan penduduk di sekitarnya, dan berpotensi juga pada populasi pedesaan yang lebih luas."

    Para ilmuwan mengetahui bahwa paparan kecil dan jangka pendek terhadap pipa, cat, dan mainan yang terkontaminasi timbal dapat menyebabkan masalah jantung dan kognitif, terutama pada bayi dan anak kecil. Dan timbal sangat umum di Roma kuno, termasuk dalam keramik, kosmetik, glasir cat, pipa air, dan sebagai pemanis dalam anggur. Para peneliti bahkan berpendapat bahwa keracunan timbal mempercepat keruntuhan Kekaisaran Romawi.

    Beberapa orang Romawi menyadari bahayanya. Plinius Tua menyebut bubuk timbal putih yang digunakan dalam kosmetik Romawi sebagai "racun mematikan," kata Caleb Finch, seorang ilmuwan di University of Southern California yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

    Baca Juga: Jalan-Jalan Rancangan Bangsa Romawi Kuno Ini Ternyata Punya Tujuan Khusus

    Namun, meskipun enamel gigi dan sisa-sisa kerangka membuktikan adanya keracunan timbal di antara beberapa orang Romawi, para sarjana masih memperdebatkan seberapa serius masalah ini.

    Menurut Joseph McConnell, seorang ilmuwan peneliti di Desert Research Institute dan penulis utama studi tersebut, polusi udara menjadi penyebab utama paparan tersebut. Penambangan dan peleburan perak dari mineral kaya timbal yang disebut galena melepaskan logam beracun tersebut dalam bentuk uap, katanya. "Untuk setiap gram perak yang diproduksi, sekitar 10.000 gram timbal juga diproduksi."

    Penelitian sebelumnya oleh McConnell dan lainnya menunjukkan bahwa inti es yang dibor di Arktik menyimpan catatan kadar timbal di atmosfer dari waktu ke waktu. Inti es tersebut memperkuat hubungan antara peleburan dan polusi timbal, menunjukkan bahwa kadar timbal menurun seiring dengan peristiwa penting seperti hilangnya perak dalam koin denarius Romawi dan Wabah Antonine pada tahun 165 M, yang menewaskan sekitar 10% populasi Romawi.

    Menurut McConnell, hubungan antara peristiwa-peristiwa ini masuk akal. Wabah penyakit secara alami "mengurangi tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melakukan penambangan dan peleburan," yang pada gilirannya mengakibatkan berkurangnya penggunaan perak dalam pembuatan koin dan penurunan polusi timbal yang dikeluarkan dari tambang.

    Untuk mengetahui bagaimana polusi tersebut memengaruhi kesehatan manusia, McConnell dan timnya menggunakan data dari tiga inti es yang telah dipelajari dengan baik dari Arktik Rusia dan Greenland dengan tanggal yang mencakup Pax Romana.

    Dengan menggunakan data iklim historis, termasuk pola angin dan kelembapan musiman, tim tersebut memodelkan seberapa tinggi kadar timbal di Eropa untuk menjelaskan kadar yang terlihat dalam inti es.

    Hasilnya menunjukkan bahwa Roma menghasilkan antara 3 dan 4 kiloton timbal atmosfer setiap tahun selama periode Pax Romana, jelas McConnell, yang berjumlah lebih dari 500 kiloton secara total.

    Dampak Polusi

    Para peneliti kemudian menerapkan persamaan epidemiologi modern untuk memperkirakan dampak kognitif dari tingkat paparan tersebut.

    Hasil penelitian menunjukkan kadar timbal dalam darah selama Pax Romana jauh lebih tinggi daripada periode sebelum atau sesudahnya. Kelebihan timbal ini akan menyebabkan "penurunan kognitif rata-rata 2,5 hingga tiga poin IQ di seluruh kekaisaran," jelas McConnell. Defisit akan lebih besar di dekat tambang, yang meliputi tempat-tempat seperti Prancis, Spanyol, Inggris Raya, dan Adriatik timur modern.

    Loveluck mengatakan dia belum yakin bahwa timbal menyebabkan masalah kognitif yang meluas. "Banyak faktor sosial perlu dinilai sebelum penurunan kognitif umum dapat disimpulkan," katanya, termasuk dampak perang lokal dan kekurangan pangan. 

    Finch setuju, dan mengatakan, "Kesimpulan 'penurunan kognitif yang meluas' dari perkiraan penurunan tiga poin IQ tidak sesuai dengan produktivitas besar Kekaisaran Romawi ketika produksi timbal mencapai puncaknya."

    Meskipun tidak sepenuhnya yakin tentang penurunan kognitif, Finch berpendapat bahwa temuan tersebut membantu membantah anggapan bahwa keracunan timbal berkontribusi pada jatuhnya Roma, karena produksi logam tersebut sebenarnya sedang menurun selama hari-hari terakhir kekaisaran.

    Terlepas dari dampaknya, Roma kuno menghasilkan contoh paling awal yang "jelas" tentang pencemaran lingkungan yang meluas oleh manusia, kata McConnell.

    ---
    Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News   https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.


    Komentar
    Additional JS